Semarang, IDN Times – Industri otomotif di Jawa Tengah tengah menghadapi tekanan cukup berat. Ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan disertai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak pada penurunan daya beli konsumen kendaraan.
Penjualan Mobil di Jateng Tertekan, Begini Cara Dealer Kejar Konsumen

1. Penjualan mobil turun hampir 50 persen
Kondisi tersebut memaksa dealer berputar otak agar produk otomotif tetap terjual di pasaran. Adapun, yang dilakukan dengan menggelontorkan diskon besar dan menawarkan berbagai insentif pembiayaan untuk mencapai target penjualan.
Marketing BAIC Semarang, Imam mengatakan, penjualan mobil konvensional mengalami penurunan paling tajam. Menurutnya, penjualan turun hampir 50 persen dibanding kondisi normal.
“Pengaruh juga ya ketidakpastian ekonomi ini, maka saat ini banyak konsumen yang lari (beli, red) ke EV (kendaraan listrik). Ini juga dampak dari kenaikan harga BBM,” ujarnya saat ditemui di Sauto Expo 2026 di Mal Ciputra Semarang, Minggu (12/7/2026).
Penurunan tersebut terlihat dari realisasi penjualan bulanan yang hanya mampu mencapai separuh target.
“Kalau biasanya target 10 unit, sekarang bisa keluar lima,” ungkap Imam.
2. Pasar mulai melambat di bulan Juni
Kondisi serupa juga mulai dirasakan Suzuki. Sales Suzuki, Afandi Wijayanto mengatakan, setelah mencatat penjualan yang cukup baik pada semester pertama 2026, pasar mulai melambat memasuki Juni.
Menurutnya, peluncuran Suzuki Fronx dan tingginya permintaan New Carry Pick Up sempat mendorong penjualan. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama karena daya beli masyarakat mulai melemah.
“Kondisinya memang sedikit menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya. Daya beli masih menjadi tantangan, meski untuk Suzuki pengaruh kenaikan pajak tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Tekanan terhadap pasar itu memaksa dealer mengubah strategi penjualan secara agresif. Seperti menawarkan potongan harga Rp20 juta hingga Rp25 juta untuk model Fronx, ditambah program bunga nol persen serta berbagai hadiah bagi konsumen yang melakukan test drive.
Langkah serupa dilakukan BAIC dengan menambah besaran diskon, menyediakan program bunga nol persen, hingga menawarkan skema pembiayaan yang lebih ringan guna menarik kembali minat konsumen.
3. Preferensi pembelian mobil berubah
Sementara, di tengah lesunya pasar mobil konvensional, tidak semua merek mengalami penurunan tajam. Sales Consultant Jetour Central Semarang, Reza mengatakan, penjualan Jetour di Semarang relatif stabil di kisaran 10 unit per bulan.
Menurutnya, konsumen memang lebih berhati-hati, tetapi kebutuhan terhadap kendaraan tetap ada. Yang berubah adalah preferensi pembelian.
Model yang paling diminati justru Jetour T1 iDM berteknologi plug-in hybrid (PHEV). Di tengah kenaikan BBM, kendaraan yang dapat menggunakan tenaga listrik maupun bensin itu dinilai menjadi alternatif karena menawarkan efisiensi tanpa menghilangkan fleksibilitas perjalanan jarak jauh.
“Mungkin ini yang diminati dalam kondisi BBM naik. Orang yang ingin beli mobil listrik kadang masih khawatir soal jarak tempuh, sehingga plug-in hybrid menjadi solusi,” kata Reza.
Beragam kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang sedang dihadapi industri otomotif di Jateng. Ketika daya beli melemah dan biaya kepemilikan kendaraan meningkat akibat kenaikan BBM, dealer tidak lagi bersaing hanya melalui produk, tetapi juga melalui besarnya diskon dan kemudahan pembiayaan untuk menjaga agar penjualan tidak terus merosot.