Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pompa Listrik Jadi Senjata Produktivitas Petani Klaten saat Kemarau
Petugas wanita dari tim TJSL PLN UPT Salatiga didampingi Penyuluh dan Pendamping Petani Kecamatan Wonosari memantau langsung progres pembangunan rumah pompa air yang menjadi bagian penting dari instalasi pengairan program ETANIGI. Sinergi antara PLN, penyuluh, dan masyarakat petani sangat erat dalam mewujudkan modernisasi pertanian berbasis energi bersih. (dok. PLN)
  • Petani Desa Sidowarno, Klaten memanfaatkan pompa air bertenaga listrik dari program ETANIGI PLN untuk menjaga irigasi sawah tetap lancar meski memasuki musim kemarau.
  • Teknologi pompa listrik membantu petani mengatasi tantangan perubahan musim yang sering menyebabkan banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau, sehingga produktivitas pertanian meningkat.
  • Penggunaan pompa berbasis listrik menekan biaya operasional dibandingkan bahan bakar fosil, menjaga siklus tanam berkelanjutan, serta memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah perubahan iklim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Klaten, IDN Times – Musim kemarau selama ini identik dengan terhentinya siklus tanam akibat keterbatasan air. Kondisi tersebut tidak hanya memangkas produktivitas sawah, tetapi juga berdampak pada pasokan pangan dan pendapatan petani. 

1. Pemanfaatan pompa air bertenaga listrik

ilustrasi pompa air (freepik.com/wirestock)

Namun, di Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, persoalan itu mulai diatasi melalui pemanfaatan pompa air bertenaga listrik yang memungkinkan sawah tetap diairi meski memasuki musim kering.

Teknologi tersebut menjadi bagian dari program ETANIGI (Energi Tani Bersinergi) yang dijalankan PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Transmisi Salatiga melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Memasuki musim panen saat ini, PLN mempercepat penyelesaian instalasi pompa listrik agar petani tidak kehilangan momentum tanam berikutnya.

Manager PLN UPT Salatiga, Ardylla Rommyonegge mengatakan, percepatan instalasi dilakukan agar setelah panen selesai, lahan sawah dapat langsung kembali ditanami tanpa harus menunggu datangnya hujan.

“Pemantauan progres instalasi ini adalah wujud nyata komitmen kami untuk terus hadir di tengah masyarakat. Kami ingin memastikan keandalan operasional pompa air beserta infrastruktur pendukungnya agar benar-benar siap difungsikan. Harapan kami, begitu panen ini usai, lahan sawah bisa langsung digarap kembali untuk penanaman padi berikutnya, meskipun kita sudah memasuki musim kemarau,” ujarnya saat meninjau lokasi instalasi, Rabu (8/7/2026).

2. Perubahan musim menjadi tantangan bagi petani

Petani dan tim TJSL PLN berbincang di pinggir sawah, menunjukkan hubungan yang kuat dan saling percaya. Kolaborasi ini adalah kunci keberhasilan implementasi Electrifying Agriculture di Klaten, memastikan ketahanan pangan dan ekonomi daerah. (dok. PLN)

Bagi petani di Desa Sidowarno, perubahan musim selama ini menjadi tantangan yang sulit dihindari.

Saat musim hujan, sebagian lahan kerap terdampak banjir. Sebaliknya ketika kemarau datang, sawah mengalami kekurangan air sehingga petani terpaksa menunda masa tanam hingga hujan kembali turun.

Penyuluh sekaligus Pendamping Desa Sidowarno, Suroto mengatakan, kondisi tersebut membuat produktivitas pertanian tidak optimal.

“Petani di sini memiliki kendala menanam padi. Saat musim penghujan terhalang banjir, sedangkan di musim kemarau kekurangan air. Dengan bantuan PLN ini alhamdulillah dapat meningkatkan produktivitas petani,” katanya.

Menurutnya, bantuan sumur dan pompa listrik merupakan pertama kalinya diterima kelompok tani di desa tersebut.

3. Pompa listrik pangkas biaya operasional

Penyiraman tanaman dengan pompa air listrik di lahan pasir kawasan Pantai Samas.(IDN Times/Daruwaskita)

Selain menjamin ketersediaan air, penggunaan pompa berbasis listrik juga dinilai mampu menekan biaya produksi petani.

Sebelumnya, sebagian petani masih mengandalkan pompa berbahan bakar solar atau bensin yang biaya operasionalnya jauh lebih tinggi dan bergantung pada fluktuasi harga bahan bakar.

Dengan beralih ke listrik, biaya pengairan menjadi lebih efisien sehingga beban produksi petani dapat ditekan, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Ketua Kelompok Tani Desa Sidowarno, Suryanto berharap, pompa listrik segera beroperasi setelah masa panen selesai.

“Padi di sawah saya ini sebentar lagi sudah waktunya panen. Harapannya kalau pompa air ini sudah beroperasi, kami bisa langsung melakukan penanaman padi kembali. Jadi siklus tanam tetap terjaga meski masuk musim kemarau,” ujarnya.

4. Produktivitas pertanian jadi taruhan

Senyum optimisme seorang petani di Desa Sidowarno menyambut baik program ETANIGI. Kehadiran instalasi pengairan berbasis listrik diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan para petani secara signifikan. (dok. PLN)

Percepatan instalasi pompa listrik dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap ketahanan pangan nasional, terutama ketika perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit diprediksi.

Bagi petani, keberadaan infrastruktur irigasi berbasis listrik tidak lagi sekadar membantu pengairan, tetapi menjadi faktor penting agar lahan tetap produktif sepanjang tahun.

Jika siklus tanam dapat dipertahankan tanpa jeda panjang akibat kekeringan, produksi padi berpeluang meningkat sekaligus menjaga pendapatan petani dan memperkuat pasokan pangan di daerah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article