Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Produksi Meledak, Super El Nino 2026 Bawa Berkah bagi Petambak Garam
Tambak garam yang ada di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)
  • DKP Jawa Tengah memprediksi produksi garam rakyat melonjak pada 2026 karena Super El Nino membuat cuaca lebih kering dan musim panen berpotensi berlangsung hingga November.
  • Produksi garam Jateng pada 2025 turun dari 536.000 ton menjadi sekitar 283.000 ton akibat kemarau basah yang mengganggu kristalisasi.
  • Jawa Tengah menyumbang sekitar 33 persen produksi garam nasional, tetapi panen melimpah berisiko menekan harga, terutama bagi petambak penggarap yang perlu segera menjual hasilnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2025

Produksi garam Jawa Tengah turun menjadi sekitar 283.000 ton akibat kemarau basah dan hujan sepanjang tahun yang mengganggu kristalisasi.

2026

DKP Jawa Tengah memprediksi produksi garam rakyat melonjak akibat Super El Nino yang meningkatkan suhu dan memperpanjang musim kemarau. Masa panen diperkirakan membentang hingga bulan November, namun panen melimpah berpotensi menekan harga di tingkat petambak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DKP Jawa Tengah memprediksi produksi garam rakyat meningkat tajam pada 2026 akibat musim kemarau lebih panjang, dengan potensi penurunan harga garam saat panen melimpah.
  • Who?
    DKP Jawa Tengah, petambak garam penggarap, pemilik modal atau juragan garam, serta Lilik Harnadi selaku Kepala Bidang Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil DKP Jawa Tengah.
  • Where?
    Jawa Tengah, terutama kawasan pesisir Pantura seperti Pati, Rembang, Demak, Jepara, dan Brebes; juga Purworejo, Kebumen, Cilacap, serta kawasan garam daratan di Grobogan.
  • When?
    Prediksi peningkatan produksi berlaku sepanjang 2026, dengan masa panen diperkirakan dapat berlangsung hingga November. Pernyataan disampaikan Lilik Harnadi pada Jumat, 8 Agustus 2026.
  • Why?
    Fenomena Super El Nino diproyeksikan menaikkan suhu sekitar 2 derajat, membuat cuaca lebih kering dan memperpanjang kemarau, sehingga proses kristalisasi serta masa panen garam lebih optimal.
  • How?
    Produksi diperkirakan naik melalui penguapan dan kristalisasi yang lebih lancar selama kemarau. DKP mengingatkan stabilitas harga perlu diperhatikan karena petambak penggarap dapat terpaksa menjual murah saat panen raya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tahun 2026, petambak garam di Jawa Tengah bisa membuat lebih banyak garam karena kemarau lebih panjang dan panas. Tahun 2025, hujan sering turun, jadi garam hanya sekitar 283 ribu ton. Sekarang panen bisa sampai November. Tapi kalau garam terlalu banyak, harganya bisa turun dan petambak harus menjual murah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Prospek musim kemarau yang lebih panjang pada 2026 membuka peluang pemulihan kuat bagi petambak garam Jawa Tengah setelah produksi terdampak hujan pada tahun sebelumnya. Dengan area tambak luas, hampir 10 ribu petambak, serta sentra produksi dari pesisir hingga Grobogan, daerah ini memiliki fondasi produksi yang beragam untuk memanfaatkan masa panen yang diperkirakan lebih panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Jawa Tengah memprediksi produksi garam rakyat akan melonjak di tahun 2026. Kondisi tersebut sebagai musim kemarau yang lebih panjang akibat fenomena Super El Nino atau El Nino Godzilla 2026.

Namun di balik potensi panen melimpah, ancaman anjloknya harga garam di tingkat petambak juga akan kembali menjadi pekerjaan rumah yang harus diantisipasi.

1. Produksi garam sempat anjlok hampir 50 persen pada 2025

Kondisi tambak garam yang tersebar di pesisir Jawa. (IDN Times/Dok KPPMPI)

Kepala Bidang Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil DKP Jawa Tengah, Lilik Harnadi mengatakan, produksi garam tahun lalu turun drastis akibat tingginya curah hujan sepanjang tahun. Fenomena kemarau basah membuat proses kristalisasi garam terganggu sehingga banyak petambak gagal mencapai target produksi.

“Tahun 2025 lalu produksi garam kita turun menjadi sekitar 283.000 ton, dari tahun sebelumnya yang mencapai 536.000 ton. Penyebabnya fenomena kemarau basah, di mana hujan terus turun sepanjang tahun,” ungkap, Jumat (8/8/2026).

Berbeda dengan tahun lalu, kondisi cuaca pada 2026 diperkirakan jauh lebih mendukung produksi garam. Fenomena Super El Nino diproyeksikan meningkatkan suhu udara dan memperpanjang musim kemarau.

Menurut Lilik, kondisi tersebut akan membuat proses produksi garam lebih optimal dan masa panen berlangsung lebih lama.

2. Jateng miliki kawasan produksi garam daratan

Seorang pekerja dari PT SPHJ saat mengerjakan pemilahan garam dari petambak garam Kabupaten Pati. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

“Tahun 2026 ini kami optimis meningkat tajam karena dampak Super El Nino. Cuaca diperkirakan naik 2 derajat, lebih kering, dan masa panen bisa membentang panjang sampai bulan November,” ujarnya.

Jawa Tengah saat ini menjadi produsen garam terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Timur, dengan kontribusi sekitar 33 persen terhadap produksi nasional.

Produksi garam Jawa Tengah berasal dari kawasan pesisir Pantura seperti Pati, Rembang, Demak, Jepara, dan Brebes. Selain itu, terdapat sentra garam di wilayah selatan seperti Purworejo, Kebumen, dan Cilacap.

Menariknya, Jawa Tengah juga memiliki kawasan produksi garam daratan di Kabupaten Grobogan yang menjadi salah satu keunikan sektor pergaraman daerah. Secara keseluruhan, luas tambak garam di Jawa Tengah mencapai hampir 10 ribu hektare dengan jumlah petambak mendekati 10 ribu orang.

3. Panen melimpah berpotensi tekan harga garam

Proses pengeringan garam pasca dipanen petambak Kabupaten Pati dikerjakan menggunakan mesin di dalam gudang. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Meski prospek produksi dinilai cerah, DKP Jawa Tengah mengingatkan adanya tantangan klasik saat panen raya, yakni turunnya harga garam di tingkat petambak.

Menurut Lilik, petambak penggarap biasanya lebih rentan terdampak karena harus segera menjual hasil panennya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau produksi melimpah biasanya harga di tingkat petambak akan turun. Petambak penggarap yang butuh memenuhi kebutuhan harian kerap terpaksa menjual murah hasil panen di awal,” jelasnya.

Sementara itu, pemilik modal atau juragan garam memiliki kemampuan menyimpan stok di gudang hingga harga kembali membaik.

Maka itu, pemerintah menilai stabilitas harga harus menjadi perhatian agar peningkatan produksi benar-benar berdampak pada kesejahteraan petambak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article