Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Puncak Hujan Damkar Semarang Panen Ular, 2 Bulan Dapat Puluhan Ekor
Seorang anggota animal rescue dari pleton 1 Damkar Kota Semarang menarik paksa ekor piton berukuran jumbo dari selokan Kampung Gedongsongo Dalam Simongan Semarang Barat. (IDN Times/screenshot video Damkar Kota Semarang)
  • Petugas Damkar Kota Semarang melakukan evakuasi ular selama musim hujan, dengan menangkap piton berukuran 3 meter.
  • Proses evakuasi piton memakan waktu dua jam karena gesitnya pergerakan dan kemampuan piton mengunci diri di selokan.
  • Damkar berhasil mengevakuasi puluhan ular berbagai jenis setiap bulannya, dengan estimasi minimal 2-3 ekor sehari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Umumnya kegiatan panen dilakukan di sawah, kebun-kebun atau tambak. Saat musim hujan seperti sekarang, para petugas Damkar Kota Semarang pun ikut-ikutan panen. Berbeda dengan yang dilakukan petani dan nelayan, Damkar justru panen ular. 

Disebut panen ular lantaran jumlah hewan tersebut yang berhasil evakuasi petugas Damkar semakin banyak. Seperti yang dilakukan petugas rescue animal Pleton 1 Damkar Kota Semarang yang hari ini berjibaku menangkap piton berukuran 3 meter. 

1. Piton seberat 10 kilo muncul di Simongan

ilustrasi drainase (unsplash.com/Evangelos Mpikakis)

Bayu Kusuma, anggota tim rescue Pleton 1 Damkar Kota Semarang mengaku piton berukuran 3 meter itu semula muncul di selokan Kampung Gedongsongo Dalam IV, Simongan Semarang Barat. 

Warga melihat piton tersebut kisaran jam 05.30 pagi di lokasi tersebut. "Terus saya sama lima personel datang ke lokasi buat evakuasi ular itu. Kita pakai alat huk dan pencapit ular. Ternyata ukurannya gede banget, Mas. Panjangnya 3 meter. Bobotnya 10 kilo," kata Bayu kepada IDN Times, Senin (20/1/2025). 

2. Petugas Damkar tarik-menarik lawan piton selama 2 jam

Ilustrasi piton (pexels.com/ Diego Madrigal)

Karena posisi piton masuk ke lubang selokan, maka tiga petugas Damkar berusaha menariknya keluar. Tangan mereka secara bersama-sama menarik paksa ekor piton agar bisa dievakuasi dari lubang selokan. 

Aksi tarik-menarik pun terjadi. Dua jam lamanya mereka menarik ekor piton hingga akhirnya menyerah. Bayu menduga gesitnya pergerakan piton hingga mengunci di selokan karena sedang mencari mangsa. 

"Tarik tarikan sama ularnya dua jam. Ekor ularnya kan saya rogoh sama teman-teman dari selokan. Cuman pas ekornya ditarik, badannya bisa ngunci di sela gorong-gorong," akunya.

"Jam setengah 6 pagi tadi saya sama dua teman berusaha narik ekor ularnya, sampai jam 8 akhirnya kita nyerah, dia kita lepas biar lari ke arah selatan besoknya kalau keliatan ke permukaan biar gampang ditangkap," tambahnya. 

3. Simongan jadi akses keluar-masuk ular

Ukuran Ular rumput abu-abu (Fishi-pedia.com)

Bayu berkata kawasan Simongan memang selama ini jadi akses keluar-masuk ular berukuran besar. Ditambah lagi saat puncak musim hujan Desember-Maret 2025 diprediksi banyak telur ular yang menetas. 

"Di sana sering kejadiannya. Situ daerah akses ular. Tempatnya rawan ular. Soalnya di belakang kampung masih ada kebun dan kali besar," tuturnya. 

4. Ada 50 ekor ditangkap dalam dua bulan

Piton india (commons.wikimedia.org/Karunakar Rayker)

Berdasarkan catatannya sedari bulan Desember 2024-Januari 2025 terdapat puluhan ular berbagai jenis yang berhasil ditangkap petugas rescue animal Damkar Kota Semarang. 

Estimasinya dalam sehari personel rescue animal minimal bisa mengevakuasi 2-3 ekor ular. 

"Bulan ini hampir ada 20 ekor kita tangkap. Kalau pas Desember 15-20 ekor. Mulai dari ukuran 60 sentimeter sampai 3 meter," kata Bayu.

Ular-ular hasil evakuasi tim Damkar biasanya dititipkan ke komunitas pecinta reptil Semarang. Namun untuk ular berukuran jumbo kerap dilepasliarkan ke kawasan hutan lindung milik BKSDA Jateng.

"Kalau diamati wilayah Semarang yang paling rawan muncul ular itu di kecamatan bagian barat dan selatan," ujar Bayu. 

Editorial Team

Related Article