Daftar tujuan pengirimannya kini tidak lagi terbatas di seputaran Demak atau Kota Semarang. Sebagian paket bersiap meluncur ke Jakarta, sementara yang lain dipesan oleh konsumen di Denpasar hingga Samarinda. Bagi perempuan yang akrab disapa Fia itu, deretan alamat tersebut menandai sebuah lompatan besar: lauk rumahan dari dapur kecil berukuran 2 x 3 meter miliknya kini mampu menembus pasar lintas pulau, yang dahulu tak berani ia bayangkan.
Satu Ketukan AstraPay dari Dapur Fia

- Fia, pelaku usaha rumahan di Demak, berhasil memperluas penjualan cumi hitamnya hingga lintas pulau berkat pengelolaan keuangan yang lebih rapi dan penggunaan sistem pembayaran digital AstraPay.
- Dengan fitur QRIS dan notifikasi real-time AstraPay, Fia mampu memisahkan uang pribadi dan modal, memverifikasi pembayaran secara instan, serta menghindari risiko penipuan bukti transfer palsu.
- Transformasi digital Fia mencerminkan pentingnya literasi keuangan bagi UMKM; meski akses layanan keuangan meningkat, pemahaman pengguna masih perlu ditingkatkan agar manfaat inklusi terasa nyata.
Senin (20/7/2026) pagi, Ashfiyatul Mardiyatillah sibuk menata kemasan cumi masak hitam di meja dapurnya di Batursari, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Plastik vakum berlabel "Rasa yg Berkah" itu ia masukkan satu per satu ke dalam lemari pembeku sebelum dikirim kepada pelanggan.
Karena diproduksi tanpa bahan pengawet buatan, pengiriman jarak jauh menuntut perlakuan ekstra. Namun, saat awal merintis usaha, tantangan terbesarnya justru bukan pada bagaimana menjaga makanan tetap awet sampai tujuan, melainkan melacak ke mana perginya uang usaha.
"Dulu, kalau ada pesanan dari luar Jawa, saya justru waswas. Biaya kirim cepat itu mahal dan saya takut tertipu bukti transfer palsu. Pencatatan uang tunai juga sering lupa. Akhirnya, uang modal untuk membeli bahan cumi bercampur dengan uang belanja rumah," ungkap Fia.
Ketika Saldo Belum Tentu Laba

Pada masa awal berbisnis, Fia terbiasa bertransaksi tunai dan mencatat pengeluaran di buku tulis setelah pekerjaan dapurnya selesai. Kebiasaan tersebut membuatnya sering kehilangan jejak arus kas. Saldo tunai di dompet kerap ia anggap sebagai keuntungan bersih, padahal sebagian besar uang tersebut adalah modal yang harus diputar kembali.
Titik baliknya terjadi pada awal tahun 2026 saat Fia memutuskan untuk memodernisasi pengelolaan keuangannya. Ia mengandalkan fitur Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di aplikasi AstraPay karena sistemnya yang stabil, bahkan ketika digunakan di tengah keramaian pasar tradisional.
Setiap kali berbelanja bahan baku, Fia langsung memindai kode QRIS melalui ponsel. Antarmuka (user interface) AstraPay yang sederhana memudahkan Fia—yang saat itu baru belajar keuangan digital—untuk memisahkan uang modal dan uang pribadi hanya dengan beberapa ketukan.
Lantaran sebagian pedagang kecil masih menerima uang tunai, Fia disiplin mencatat pengeluaran fisik tersebut secara terpisah, lalu menggabungkannya dengan rekam jejak digital di aplikasi agar neracanya tetap seimbang.
"Iya, mbak'e dulu bayar tunai terus. Sekarang sudah jarang, lebih sering QRIS atau transfer. Saya akhirnya ikut beradaptasi," kata Suharti, salah seorang pedagang bumbu langganan Fia di pasar.
Memastikan Uang Benar-Benar Masuk

Kedisiplinan mengelola kas ikut mengubah cara Fia menangani pesanan, terutama dari pelanggan baru. Jika sebelumnya ia mudah percaya pada gambar tangkapan layar (screenshot) bukti transfer yang rentan direkayasa, kini ia menerapkan standar usaha yang lebih profesional.
Ketika pesanan mulai mengalir, rasa waswas yang dulu menghantui Fia perlahan sirna. Fitur notifikasi waktu nyata (real-time) di AstraPay menjadi solusi atas ketakutannya terhadap kejahatan penipuan bukti bayar.
Kini, setiap kali pembeli mengirimkan tangkapan layar pembayaran, Fia dapat memverifikasi masuknya dana detik itu juga. Bukti bayar dari pembeli langsung ia cocokkan dengan mutasi di aplikasi—tanpa jeda, tanpa ragu.
Produksi di dapur pun baru dimulai setelah angka pembayaran benar-benar tercatat masuk.
Untuk distribusi luar pulau, Fia mengandalkan layanan logistik rantai dingin Paxel. Karena AstraPay telah terintegrasi langsung di dalam aplikasi logistik tersebut, pembayaran ongkos kirim selesai hanya dengan konfirmasi PIN di ponsel tanpa perlu menyiapkan uang tunai untuk kurir.
Sistem Pembayaran digital tersebut memang tidak membuat makanan bertahan lebih lama, tetapi teknologi itu memberi Fia kendali penuh atas transparansi uang masuk dan akurasi pelacakan biaya operasional.
Ketenangan bertransaksi dan efisiensi operasional tersebut terlihat dari kinerja bisnis Fia selama tiga bulan terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, usahanya berhasil membukukan total penjualan sekitar 130 kemasan produk.
Lauk olahan cumi hitam itu kini telah menjangkau 80 pelanggan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya berhasil memperluas pasar baru, tingkat retensi konsumennya pun cukup mengesankan, yang dibuktikan dengan adanya 50 pelanggan yang kembali melakukan pembelian ulang (repeat order).
Selain peningkatan kualitas rasa dan kemasan, keandalan AstraPay yang menyajikan fitur riwayat transaksi berfungsi sebagai kompas yang membantu Fia membaca kesehatan bisnis dan memproyeksikan perputaran modalnya.
Akses Digital dan Pekerjaan Rumah Literasi

Transformasi yang dialami Fia di Demak memperlihatkan perbedaan krusial antara sekadar memiliki akses terhadap layanan keuangan dan kemampuan memanfaatkannya untuk mengambil keputusan bisnis yang bertumbuh.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks inklusi keuangan nasional sudah mencapai 80,51 persen, sementara indeks literasinya baru berada di angka 66,46 persen.
Pada kelompok perempuan, indeks inklusi menembus 80,28 persen, tetapi indeks literasinya tertahan di angka 65,58 persen.
Data itu menunjukkan bahwa penetrasi akses keuangan tumbuh lebih cepat daripada pemahaman cara mengelolanya. Dalam realitas dunia usaha mikro, mengunduh aplikasi pembayaran di ponsel belumlah cukup apabila arus kas bisnis masih bercampur aduk dengan kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat hingga April 2026, QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta pedagang yang mayoritas merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Angka masif itu harus diimbangi dengan literasi digital, seperti menjaga kerahasiaan PIN dan mandiri memverifikasi mutasi rekening.
Ketika inklusi, pemilihan teknologi, dan literasi keuangan berjalan beriringan, dampaknya meluas ke lingkungan sekitar. Seiring melonjaknya pesanan, Fia kini memberdayakan sejumlah perempuan di sekitar tempat tinggalnya secara paruh waktu untuk membersihkan cumi dan mengemas produk.
"Sekarang rasanya jauh lebih tenang. Karena semua tercatat rapi di AstraPay dan transaksinya langsung bisa dicek, saya berani terima pesanan dari luar pulau. Ada rasa bangga, masakan dari dapur kecil di Demak ini bisa dinikmati sampai ke Bali dan Kalimantan," tutur Fia tersenyum.
Di dapur kecil Fia, inklusi keuangan tidak hadir dalam rumusan teori yang rumit. Ia berwujud dalam praktik yang sederhana: uang belanja yang tidak lagi menggerogoti modal, pesanan yang baru diproses setelah notifikasi pembayaran terverifikasi, serta pengadaan bahan baku yang didasarkan pada perhitungan matang.
Satu ketukan AstraPay di layar ponsel memang tidak serta-merta menyulap usaha kecil menjadi bisnis raksasa dalam semalam. Namun bagi Fia, kehadiran platform yang dapat diandalkan itu menjadi titik mula perubahan—ketika setiap transaksi meninggalkan jejak yang aman, dan setiap rupiah memiliki tujuan yang jelas.




















