Senin (20/7/2026) pagi, Ashfiyatul Mardiyatillah sibuk menata kemasan cumi masak hitam di meja dapurnya di Batursari, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Plastik vakum berlabel "Rasa yg Berkah" itu ia masukkan satu per satu ke dalam lemari pembeku sebelum dikirim kepada pelanggan.
Daftar tujuan pengirimannya kini tidak lagi terbatas di seputaran Demak atau Kota Semarang. Sebagian paket bersiap meluncur ke Jakarta, sementara yang lain dipesan oleh konsumen di Denpasar hingga Samarinda. Bagi perempuan yang akrab disapa Fia itu, deretan alamat tersebut menandai sebuah lompatan besar: lauk rumahan dari dapur kecil berukuran 2 x 3 meter miliknya kini mampu menembus pasar lintas pulau, yang dahulu tak berani ia bayangkan.
Karena diproduksi tanpa bahan pengawet buatan, pengiriman jarak jauh menuntut perlakuan ekstra. Namun, saat awal merintis usaha, tantangan terbesarnya justru bukan pada bagaimana menjaga makanan tetap awet sampai tujuan, melainkan melacak ke mana perginya uang usaha.
"Dulu, kalau ada pesanan dari luar Jawa, saya justru waswas. Biaya kirim cepat itu mahal dan saya takut tertipu bukti transfer palsu. Pencatatan uang tunai juga sering lupa. Akhirnya, uang modal untuk membeli bahan cumi bercampur dengan uang belanja rumah," ungkap Fia.
