Sekolah Rakyat di Kota Semarang Kekurangan 35 Calon Siswa SD

- Sekolah Rakyat Terpadu di Rowosari, Semarang siap beroperasi tahun ajaran 2026/2027 namun masih kekurangan 35 calon siswa SD dari total kuota 90 siswa.
- Dinas Sosial menggandeng pihak kecamatan, kelurahan, dan pendamping sosial untuk mencari calon siswa SD dari keluarga desil 1 dan 2 agar kuota terpenuhi.
- Kendala utama pendaftaran SD adalah orang tua belum siap anak tinggal di asrama meski pemerintah menjamin biaya pendidikan gratis dan kunjungan harian diperbolehkan.
Semarang, IDN Times - Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) di Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang akan mulai beroperasional pada tahun ajaran 2026/2027 ini. Kendati demikian, kuota calon siswa jenjang SD hingga sekarang belum terpenuhi.
1. Kuota siswa SMP dan SMA sudah terpenuhi

Untuk diketahui, daya tampung SRT sebanyak 270 siswa per tahun. Jumlah itu terdiri atas 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 siswa SMA. Kendati demikian, hingga sekarang untuk jenjang SD masih kekurangan calon siswa.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Agus Junaedi mengatakan, saat ini kuota siswa SRT untuk jenjang SMP dan SMA sudah terpenuhi. Namun, untuk jenjang SD masih kekurangan siswa.
“Dari kuota 90 siswa yang tersedia, baru ada 37 siswa yang rencananya akan masuk ke SRT tahun ajaran ini,” ungkapnya di sela meninjau bangunan gedung SRT, Rabu (24/6/2026).
2. Masih kurang 35 siswa jenjang SD

Untuk memenuhi kuota siswa jenjang SD, Dinas Sosial menggandeng Kecamatan, Kelurahan, PKH, PSM untuk terjun jemput bola ke masyarakat mencari calon siswa SRT jenjang SD sesuai dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), khususnya kelompok desil 1 dan desil 2.
“SD ini masih kurang 53 siswa, maka kami akan turun langsung jemput bola dan mengedukasi masyarakat desil 1-2 yang memiliki anak usia sekolah terutama SD untuk masuk di sekolah rakyat,” kata Agus.
Sebelumnya, Dinas Sosial telah melakukan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat desil 1 dan 2 yang memiliki anak usia sekolah agar mengenyam pendidikan di SRT. Pemerintah menjamin orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya pendidikan selama anak berada di sekolah rakyat.
3. Orang tua belum siap anak tinggal di asrama

Agus menerangkan, kendala yang dihadapi adalah rata-rata orang tua enggan menyekolahkan anaknya di sekolah rakyat terutama jenjang SD karena belum siap melepas sang buah hati untuk tinggal di asrama. Apalagi, jarak lokasi sekolah rakyat cukup jauh dari pusat kota.
“Kami perlu mengedukasi lagi kepada orang tua calon siswa SD yang agak keberatan karena masuk asrama. Kami menjamin dan mengizinkan tiap hari orang tua boleh menjenguk anaknya di sekolah rakyat,” katanya.
Kendati demikian, Agus tetap optimistis dari 30 ribu jiwa di Kota Semarang yang masuk desil 1 dan 2, pasti ada anak usia sekolah yang bisa dijangkau untuk masuk ke sekolah rakyat.



















