Siswa Kurang Mampu di Semarang Bisa Sekolah di Swasta dengan Beasiswa

Semarang, IDN Times - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang akan memberikan beasiswa kepada siswa kurang mampu di sekolah swasta. Mereka akan mendapatkan kesempatan ini jika tidak diterima di sekolah negeri pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2025/2026.
1. Keterbatasan daya tampung di sekolah negeri

Kebijakan ini diambil karena ada keterbatasan daya tampung di sekolah negeri dibandingkan dengan jumlah kelulusan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meminta Dinas Pendidikan Kota Semarang untuk mengatur skema jika ada siswa kurang mampu yang tidak diterima di sekolah negeri, bisa sekolah di swasta.
“Nanti misal SPPnya dibayar Pemkot, tapi kan kita nggak bisa intervensi sekolah swasta. Saya minta ke kepala dinas untuk minta slot, biar bisa pakai beasiswa. Karena harus ada gotong royong dengan skema khusus ini,” terangnya, Minggu (9/3/2025).
Program beasiswa bagi siswa kurang mampu di sekolah swasta ini merupakan bagian dari program 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Agustin-Iswar. Adapun, tujuan dari program itu adalah membuat iklim kondusif di SPMB tahun ini.
Menurut Agustin, kalau pemerintah hanya menghitung daya tampung sekolah negeri dibandingkan jumlah lulusan, dipastikan tidak akan cukup untuk menampung siswa yang ada di Semarang.
2. Disdik akan lakukan pemetaan anggaran

“Harus melibatkan sekolah swasta, kalau dilihat daya tampung dan jumlah lulusan tentu tidak sebanding,” ujarnya.
Agustin meyakini bahwa ada solusi dari permasalahan tersebut. Menurutnya, problem utama orang tua enggan ke sekolah swasta karena biaya yang mahal. Maka itu, harus ada peran pemerintah karena sekolah swasta juga menjadi mitra dalam penyelenggaraan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa.
“Saya yakin ada solusi, karena problemnya nggak mau di swasta karena kan mahal. Nah, sekolah swasta harus dijadikan mitra untuk menyelenggarakan pendidikan, salah satunya dengan beasiswa,” terangnya.
Dinas Pendidikan kata dia, akan melakukan perhitungan, serta pemetaan anggaran dan jumlah siswa kurang mampu yang nantinya bisa mendapatkan beasiswa di sekolah swasta. Pemerintah memastikan jika anggaran yang dibutuhkan nanti tidak hanya diambil dari APBD Pemkot Semarang saja.
“Ini masih dihitung, kebutuhannya berapa, nanti tidak hanya dari APBD, tapi kita bisa nembung ke provinsi, pengusaha untuk CSR secara khusus yakni beasiswa,” tuturnya.
3. Masyarakat miskin jangan sampai putus sekolah

Agustin menegaskan, jika prioritasnya adalah masyarakat miskin atau tidak mampu, dirinya tidak ingin ada anak putus sekolah karena kesulitan biaya.
“Sekolah gratis yang sudah ada, kalau baik ya dilanjutkan, kalau kurang ya ditambal. Intinya nggak boleh ada anak yang tidak sekolah karena biaya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto menambahkan, jika dinas sudah merancang beberapa konsep untuk siswa yang kurang mampu namun tidak memiliki kesempatan di sekolah negeri.
“Ada petunjuk dari bu wali, kalau nggak bisa masuk di negeri dan kurang mampu, bisa ke sekolah swasta dengan skema atau fasilitasi beasiswa,” ujarnya.
Bambang mengaku sudah melakukan pemetaan jumlah anak yang akan mendapatkan bantuan. Nantinya skenario bantuan tidak hanya berbasis dari APBD tapi juga diambil dari bantuan CSR.


















