Takut Plesiran, Aktivitas Tempat Wisata di Jateng Masih Loyo

Semarang, IDN Times - Meski pemerintah pusat telah menggendorkan segala aturan yang berkaitan dengan protokol kesehatan (prokes), rupanya belum berdampak terhadap aktivitas pariwisata di Jawa Tengah. Saat ini, sejumlah obyek wisata alam masih tertatih-tatih menggaet wisatawan lantaran terganjal sejumlah aturan dari Satuan Gugus Tugas Penanganan COVID-19.
Salah satunya tampak di kompleks Candi Gedongsongo, Kabupaten Semarang. Kepala UPTD Candi Gedongsongo, Siyamto mengatakan, saat ini banyak masyarakat yang masih ketakutan untuk liburan karena informasi yang disebar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang belum bisa diserap secara menyeluruh.
"Kegiatan pariwisata di Gedongsongo sekarang belum stabil. Karena mungkin banyak orang masih takut liburan. Dan juga masyarakat secara finansial belum sepenuhnya pulih. Makanya, jumlah pengunjung di Candi Gedongsongo belum normal," kata Yamto, sapaan akrabnya kepada IDN Times, Sabtu (19/3/2022).
1. Wisatawan Candi Gedongsongo kisaran 200--500 orang per hari

Yamto mengungkapkan jika dipantau saban hari, wisatawan yang plesiran di Candi Gedongsongo berkutat pada angka 200--500 orang. Selain itu, untuk jumlah kunjungan setiap akhir pekan sekitar 1.000--1.500 orang.
Yamto menilai, rendahnya minat masyarakat untuk liburan di Candi Gedongsongo karena lebih cenderung mengalihkan keinginannya dengan mencukupi kebutuhan hidupnya saban hari. Di sisi lain, sejumlah promosi dan atraksi wisata di kompleks Candi Gedongsongo masih terbatas karena harus menyesuaikan dengan status level 3 yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.
"Lagian kayak operator wisata Ayana masih tutup karena harus merevitalisasi lokasi wisata outboundnya di Gedongsongo. Makanya pas Februari kemarin wisatawan yang masuk ke Gedongsongo hanya kisaran 200-500 orang tiap hari. Belum bisa pulih kayak tahun 2019. Di bulan ini sampai puasa, kunjungan wisatawannya juga makin merosot. Harapan kita bisa meningkatkan jumlah kunjungan pas Lebaran nanti," akunya.
2. Kemenparekraf diminta berikan kredit lunak bagi pelaku wisata

Yamto berharap supaya Kemenparekraf memberikan bantuan stimulus untuk memulihkan sektor pariwisata di Candi Gedongsongo. Bantuan, katanya bisa berupa pemberian kredit lunak bagi para pelaku wisata supaya kembali bangkit dan bisa mendukung program-program promosi pariwisata yang digaungkan oleh UPTD Candi Gedongsongo.
"Kemenparekraf minimal harus memberikan stimulus seperti kredit lunak bagi pelaku wisata. Biar mereka bangkit seperti semula. Dan perlu disupport penuh terutama dari segi promosi. Untuk memulihkan kunjungan wisatawan, pemerintah lebih baik menguatkan ekonomi menengah ke bawah, kalau finansial orag-orang sudah pulih, saya yakin situasi di lokasi wisata alam kayak Gedongsongo akan normal lagi," cetusnya.
3. Wisata arung jeram juga belum pulih

Sedangkan, pengelola River Tubing Muncul di Banyubiru, Ambarawa, Siswanto mengungkapkan kondisi serupa. Situasi paling miris terjadi ketika akhir pekan yang mana hanya ada 200 wisatawan yang datang ke River Tubing Muncul. River Tubing Muncul selama ini menyuguhkan wisata arung jeram dengan rute beberapa kilometer.
"Wisatawannya masih sedikit, Mas. Paling banyak Sabtu Minggu itu cuma 200 orang. Kalau hariannya di bawah 100 orag. Jadi masih jauh dari kata normal. Banyak orang yang menyadari tetap diberlakukan protokol kesehatan. Makanya wisatawan domestik jadi ketakutan kalau mau ke River Tubing Muncul," terangnya.
4. Kegiatan wisata arung jeram terbentur pembatasan jam operasional

Tak cuma itu saja, jam operasional River Tubing Muncul masih dibatasi. Kapasitas kunjungan pun dibatasi maksimal 50 persen.
"Artinya kendalanya ya pada aturan pandemik COVID-19. Kita memang tetap memberlakukan standar prokes yang ketat. Jam operasionalnya dibatasi sampai jam 5 sore. Padahal orang menikmati arung jeram kan biasanya sore. Akhirnya wisatawan lokal dari Ambarawa, Salatiga, Semarang mikir-mikir kalau mau ke Muncul," bebernya.
5. Hampir 90 persen obyek wisata sudah dibuka lagi

Terpisah, Kasi Pengelolaan Destinasi Wisata, Disporapar Jawa Tengah, Riyadi Kurniawan menyatakan dari 1.100 obyek wisata yang terdata saat ini, hampir 90 persen sudah buka.
"Yang buka 1.090 atau 90 persen. Yang tutup masih 10 obyek wisata," jelasnya kepada IDN Times.
Ia merinci kini ada 25 kabupaten-kota yang menerapkan status PPKM Level 3 dengan aturan kapasitas tempat wisata 50 persen, 9 kabupaten/kota menerapkan PPKM Level 2 dengan aturan kapasitas tempat wisata maksimal 75 persen buka.
6. Pelaku wisata harus bersiap menghadapi situasi normal

Ia membenarkan jika dengan adanya aturan PPKM, mayoritas obyek wisata belum sepenuhnya pulih.
"Kami mencatat rata-rata sudah ada 500-1.000 wisatawan yang liburan akhir pekan di tiap destinasi. Jumlahnya mulai meningkat 20 persen tapi belum banyak. Hanya saja belum mencapai titik normal," tuturnya.
Untuk menyiapkan era endemi COVID-19, pihaknya mengimbau pelaku wisata untuk melakukan mitigasi bencana dan menyusun startegi menghadapi situasi kenormalan.
"Kita imbau semuanya mempersiapkan startegi dengan matang. Wisatawan pikniknya bertahap dulu, jangan rombongan massal namun cukup rombongan kecil," pungkasnya.



















