Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tawuran Semarang: 4 Tersangka, 17 Pelaku Masih DPO
Pengungkapan kasus tawuran disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah pada Jumat (7/8/2026). Kegiatan dipimpin oleh Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol. Yuliyanto bersama Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng Kombes Pol. Muhammad Anwar Nasir, didampingi Kompol Dewi Endah Utami selaku perwakilan dari Ditres PPA dan PPO Polda Jateng. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Polda Jawa Tengah mengungkap tawuran bersenjata tajam di Jalan Raya Arteri Mangkang, Semarang, yang melibatkan kelompok Brakitcil dan Anjay165 melawan Wartan Kendal.
  • Empat orang, termasuk satu dewasa dan tiga anak, menjadi tersangka; 17 pelaku masih DPO. Polisi menyita sembilan celurit, sementara bentrokan juga melibatkan molotov dan petasan.
  • Penanganan delapan anak dilakukan bersama Ditres PPA, Dinas Sosial, dan Bapas untuk menjamin hak mereka, disertai pendampingan serta penelitian kemasyarakatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Polda Jawa Tengah mengungkap tawuran bersenjata tajam antarkelompok remaja, menetapkan empat tersangka, dan memasukkan 17 pelaku lain dalam daftar pencarian orang.
  • Who?
    Kelompok Brakitcil dan Anjay165 dari Semarang terlibat bentrok dengan Wartan Kendal. Ditreskrimum Polda Jateng mengamankan 12 orang, termasuk empat dewasa dan delapan anak.
  • Where?
    Bentrok terjadi di Jalan Raya Arteri Mangkang, Kota Semarang. Sembilan celurit ditemukan disembunyikan di sebuah rumah kosong di kawasan Semarang.
  • When?
    Tawuran berlangsung pada Minggu, 2 Agustus 2026, dini hari.
  • Why?
    Bentrokan bermula dari komunikasi antarkelompok melalui WhatsApp yang berlanjut pada kesepakatan bertemu di wilayah Semarang.
  • How?
    Kelompok Semarang berhadapan dengan sekitar 30 anggota Wartan Kendal; bom molotov berisi bensin dan petasan dilemparkan. Penyelidikan menemukan senjata tajam, menetapkan tersangka, serta melibatkan pendampingan Dinsos dan Bapas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sekelompok remaja dari Semarang dan Kendal berkelahi di Jalan Arteri Mangkang. Mereka janjian lewat WhatsApp. Ada yang membawa celurit, bom bensin, dan petasan. Polisi menangkap 12 orang dan menemukan sembilan celurit. Empat orang jadi tersangka, termasuk tiga anak. Sekarang polisi masih mencari 17 orang lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengungkapan ini menunjukkan respons proaktif kepolisian meski tidak ada korban jiwa maupun laporan masyarakat. Penanganan yang melibatkan Dinas Sosial dan Bapas juga memberi ruang bagi penegakan hukum yang profesional sekaligus memperhatikan hak serta kepentingan terbaik anak yang terlibat melalui pemeriksaan menyeluruh dan pendampingan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Tengah mengungkap kasus tawuran antar kelompok remaja bersenjata tajam yang terjadi di Jalan Raya Arteri Mangkang, Kota Semarang, pada Minggu (2/8/2026) dini hari.

Dalam kasus tersebut, empat orang ditetapkan tersangka, sementara 17 pelaku lainnya masih dalam daftar pencarian orang (DPO).

Turut hadir pula perwakilan Dinas Sosial Kota Semarang dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Semarang sebagai bentuk sinergi dalam penanganan perkara yang melibatkan anak yang berhadapan dengan hukum.

Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Pol Muhammad Anwar Nasir menjelaskan, tawuran tersebut melibatkan gabungan kelompok remaja yang menamakan kelompoknya Brakitcil dan kelompok remaja yang bernama Anjay165 dari Kota Semarang melawan kelompok remaja yang menamakan dirinya Wartan Kendal.

Aksi kekerasan itu berawal dari komunikasi antar kelompok melalui aplikasi WhatsApp yang kemudian berlanjut dengan kesepakatan untuk bertemu di wilayah Semarang sebelum akhirnya kedua kelompok terlibat bentrokan di Jalan Raya Arteri Mangkang.

"Walaupun dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa dan tidak ada laporan dari masyarakat, Polda Jawa Tengah tetap bertindak proaktif dengan melakukan penyelidikan hingga berhasil mengungkap para pelaku serta mengamankan sejumlah barang bukti," ujar Anwar.

Ia menjelaskan, saat tiba di lokasi yang telah disepakati, kelompok dari Semarang berhadapan dengan sekitar 30 anggota Wartan Kendal.

Dalam bentrokan tersebut, sebuah bom molotov berisi bensin dan satu petasan sempat dilemparkan ke arah kelompok lawan sebelum mereka meninggalkan lokasi.

Melalui serangkaian penyelidikan, petugas berhasil menemukan sembilan bilah senjata tajam jenis celurit yang disembunyikan di sebuah rumah kosong di kawasan Semarang serta mengamankan 12 orang yang terdiri atas empat orang dewasa dan delapan anak.

Dari hasil pemeriksaan, penyidik menetapkan empat orang sebagai tersangka yang terdiri atas satu orang dewasa dan tiga anak. Sementara itu, sebanyak 17 pelaku lainnya telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), masing-masing tujuh orang dari kelompok Semarang dan sepuluh orang dari kelompok Kendal.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 476 KUHP tentang penyerangan atau perkelahian massal, Pasal 262 KUHP tentang kekerasan yang dilakukan secara bersama-sama, Pasal 466 KUHP tentang penganiayaan, Pasal 307 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 terkait kepemilikan senjata pemukul, penikam atau penusuk tanpa hak, serta ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Sementara itu Kompol Dewi, Anggota Ditres PPA dan PPO Polda Jateng menegaskan bahwa pihaknya turut melakukan join investigation bersama penyidik Ditreskrimum untuk memastikan penanganan terhadap delapan anak yang diduga terlibat dalam perkara tersebut dilakukan secara tepat, profesional, serta tetap memenuhi hak-hak mereka sebagai anak yang berhadapan dengan hukum.

"Terhadap kedelapan anak tersebut, penyidik dari Ditres PPA dan PPO melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan melaksanakan gelar perkara guna menentukan peran masing-masing anak dalam aksi tawuran. Hasilnya, penyidik menetapkan tiga anak sebagai Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang berstatus tersangka, sementara penanganan terhadap anak lainnya dilakukan sesuai hasil penyidikan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," jelasnya.

Dewi menambahkan, dalam proses penanganan perkara tersebut penyidik juga bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Semarang dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Semarang untuk memberikan pendampingan serta melakukan penelitian kemasyarakatan terhadap ketiga ABH tersebut.

Hasil penelitian tersebut nantinya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses persidangan, sehingga selain mengedepankan penegakan hukum, proses penanganan juga tetap memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol. Yuliyanto mengatakan, penanganan kasus tidak berhenti pada proses penegakan hukum, tetapi juga diikuti langkah pembinaan dan pendampingan terhadap pelaku anak melalui sinergi dengan berbagai instansi terkait.

"Fenomena tawuran yang melibatkan anak-anak dan remaja menjadi perhatian kita bersama. Kami mengajak para orang tua untuk lebih peduli terhadap aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hari, mengenali lingkungan pergaulannya, serta mengawasi penggunaan media sosial agar tidak mudah terpengaruh ajakan maupun provokasi yang dapat berujung pada tindakan melawan hukum," ujar Yuliyanto.

Ia menambahkan bahwa peran keluarga, sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat penting dalam mencegah munculnya aksi tawuran maupun kelompok yang meresahkan di kalangan remaja. Kepedulian lingkungan serta komunikasi yang baik di dalam keluarga menjadi benteng utama agar generasi muda tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan kepada kepolisian melalui layanan 110 yang dapat diakses secara gratis apabila mengetahui adanya aktivitas yang mengarah pada aksi tawuran atau kelompok yang meresahkan. Mari kita jaga bersama anak-anak kita agar tidak kehilangan masa depan hanya karena emosi sesaat atau pengaruh lingkungan yang keliru. Dengan kepedulian dan sinergi semua pihak, kita dapat menjaga situasi kamtibmas di Jawa Tengah tetap aman, damai, dan kondusif," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article