Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspada! Tanda Awal Diabetes yang Sering Dikira Cuma Kelelahan Biasa

Kota Semarang
Waspada! Tanda Awal Diabetes yang Sering Dikira Cuma Kelelahan Biasa
ilustrasi kelelahan (pexels.com/Ketut Subiyanto)
  • Rasa lelah kronis yang tak kunjung hilang meski sudah cukup istirahat sering kali menjadi penanda awal sel tubuh mengalami kelaparan energi akibat resistensi insulin.

  • Kementerian Kesehatan RI mengimbau untuk tidak menyepelekan kelelahan yang dibarengi gejala klasik seperti sering kencing malam hari dan rasa haus ekstrem.

  • Kepastian diagnosis hanya bisa didapat melalui cek laboratorium seperti pemeriksaan Gula Darah Puasa (GDP), GDS, atau tes HbA1c.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah tidak, kamu merasa tubuh lemas tak bertenaga sepanjang hari padahal tidak sedang melakukan pekerjaan berat? Sudah mencoba tidur cepat dan istirahat seharian, tapi rasa lelah itu tetap menempel dan tak kunjung hilang?

Banyak orang mengira kondisi ini hanyalah dampak kurang tidur, stres pekerjaan, atau sekadar faktor usia. Padahal secara biologis, kelelahan kronis ini bisa jadi pertanda tubuh gagal mengolah glukosa menjadi energi. Walaupun porsi makan sudah cukup, hormon insulin tidak bekerja efektif untuk memasukkan gula darah ke dalam sel. Akibatnya, sel tubuh mengalami "kelaparan" tersembunyi.

Kementerian Kesehatan RI mengingatkan agar tidak menyepelekan rasa lelah ini, terutama jika dibarengi 4 sinyal bahaya tubuh berikut!

  1. 1. Sering Buang Air Kecil di Malam Hari (Poliuria)

    ilustrasi ingin buang air kecil (unsplash.com/Olivier Collet)
    ilustrasi ingin buang air kecil (unsplash.com/Olivier Collet)

    Ketika kadar gula di dalam darah melambung terlalu tinggi, ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring dan membuang kelebihan glukosa tersebut melalui aliran urine.

    Ciri khas yang paling terasa adalah munculnya dorongan terbangun lebih dari 3–5 kali setiap malam hanya untuk kencing. Kondisi ini otomatis merusak kualitas tidur dan berujung pada rasa lelah yang makin parah di siang hari.

  2. 2. Rasa Haus Ekstrem yang Terus-menerus (Polidipsia)

    Ilustrasi mudah haus (Pexels/Andrea Piacquadio)
    Ilustrasi mudah haus (Pexels/Andrea Piacquadio)

    Dampak langsung dari frekuensi buang air kecil yang meningkat adalah terkurasnya cairan tubuh. Akibatnya, sistem internal secara otomatis akan mengirimkan sinyal dehidrasi.

    Kondisi ini ditandai dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan dorongan untuk terus-menerus minum air dalam jumlah banyak. Sayangnya, meminum air bergelas-gelas pun rasanya tidak pernah benar-benar tuntas menyembuhkan rasa haus tersebut.

  3. 3. Penurunan Berat Badan Drastis Tanpa Sebab

    ilustrasi penurunan berat badan yang berlebihan (pexels.com/Ketut Subiyanto)
    ilustrasi penurunan berat badan yang berlebihan (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Karena sel-sel tubuh tidak mampu menyerap gula untuk dijadikan bahan bakar, tubuh terpaksa mengaktifkan mode darurat. Sistem metabolisme akan memproses dan memakan cadangan lemak serta otot secara paksa demi mendapatkan energi pengganti.

    Hasilnya, berat badan merosot tajam dalam waktu singkat secara tidak wajar. Hal ini tetap terjadi meskipun porsi makan normal atau bahkan meningkat akibat dorongan sering merasa cepat lapar (polifagia).

  4. 4. Pandangan Mata Tiba-tiba Kabur (Blurry Vision)

    ilustrasi mata kabur (unplash.com/Nonsap Visuals)
    ilustrasi mata kabur (unplash.com/Nonsap Visuals)

    Kadar glukosa darah yang sangat tinggi menciptakan efek penarikan cairan dari berbagai jaringan tubuh, termasuk menyedot cairan yang ada di dalam lensa mata.

    Ciri khas keluhan ini adalah penglihatan yang mendadak kabur atau buram secara tiba-tiba. Uniknya, ketajaman mata ini bisa kembali normal saat kadar gula darah sedang menurun.

  5. Cara Memastikan secara Akurat

    ilustrasi cek darah (freepik.com/prostooleh)
    ilustrasi cek darah (freepik.com/prostooleh)

    Menurut Pedoman Pelayanan Klinis Tata Laksana Diabetes Kemenkes RI, hindari menebak diagnosis hanya berdasarkan gejala fisik semata. Lakukan cek darah di puskesmas atau laboratorium terdekat untuk memantau indikator resmi:

    • Gula Darah Sewaktu (GDS): Angka lebih dari 200 mg/dL disertai gejala klasik menandakan indikasi kuat diabetes.
    • Gula Darah Puasa (GDP): Angka lebih dari 126 mg/dL setelah berpuasa selama 8 jam.
    • Tes HbA1c: Angka rata-rata gula darah selama 3 bulan terakhir berada di tingkat lebih dari 6,5 persen.

    Rasa lelah yang menyiksa tidak boleh selalu dituding sebagai akibat stres kerja semata. Mengenali sinyal perubahan pada tubuh sejak dini adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi kesehatan yang lebih berat.

    Apakah rasa lelah yang kamu rasakan saat ini disertai keluhan lain seperti sering kesemutan di ujung jari atau ada luka kecil yang lama sembuhnya?

    Yuk, bagikan cerita atau pengalamanku di kolom komentar, dan jangan lupa share artikel ini ke orang-orang tersayang agar makin peduli kesehatan!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More