Lelang Jabatan Ketua di Karate, Ini Kata Ketua Litbang Forki Jateng

Banyumas, IDN Times - Dalam konteks beladiri, istilah lelang jabatan ketua biasanya tidak lazim digunakan. Namun, jika yang dimaksud adalah proses pemilihan ketua dalam organisasi beladiri seperti Karate, ketua biasanya dipilih melalui musyawarah anggota perguruan atau pemilihan langsung oleh perwakilan dari setiap cabang.
Tokoh dan mantan atlet Karate nasional era 90an asal Banyumas Wawang Ar Rasyid kepada IDN Times berpendapat hal tak lazim justru saat ini sedang dibutuhkan dalam mengorganisir perguruan karate tanpa mengindahkan aturan Forki. Lelang Jabatan, jika diartikan secara harfiah bisa merujuk pada situasi di mana posisi ketua diperebutkan berdasarkan kontribusi misal finansial atau tawaran tertentu.
Menanggapi dunia olahraga karate di Banyumas Wawang menyebut memang betul betul saat ini dibutuhkan sosok figur yang bisa menyatukan semua perguruan dan sangat peduli dengan perkembangan prestasi karate untuk Banyumas. "Kriteria calon ketua juga biasanya melibatkan aspek seperti pengalaman dalam bela diri, kepemimpinan yang baik, integritas, serta kemampuan administratif,"katanya.
1. Aspek peningkatan prestasi daerah

Praktik lelang jabatan seperti ini jarang terjadi dalam organisasi bela diri yang serius, karena jabatan ketua umumnya dihormati sebagai posisi yang harus dimenangkan melalui kemampuan, dedikasi, dan kepercayaan anggota organisasi. Di beberapa perguruan bela diri tradisional, ketua baru kadang juga dipilih melalui ujian keterampilan bela diri, seperti turnamen internal atau demonstrasi kemampuan teknik dan kepemimpinan.
Ditambahkan Wawang Arrasyid yang juga sebagai Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Federasi Olahraga Karate ( Forki) Jawa Tengah, dalam mengembangkan prestasi karate khususnya di Banyumas melibatkan berbagai aspek untuk meningkatkan kualitas atlet karate, baik dari sisi teknik, metodologi pelatihan, pengembangan atlet, hingga kajian ilmiah terhadap karate itu sendiri.
Menganalisis gerakan, teknik, dan strategi yang efektif dalam beladiri karate harus mulai dikembangkan seiring dengan perkembangan teknologi di bidang olahraga misalnya pemakaian teknologi motion capture untuk memahami biomekanika gerakan, walaupun utamanya adalah mengembangkan metode latihan karate itu sendiri,"terangnya.
2. Litbang Forki Jateng terapkan P3T

Dalam perkembangan karate di Jawa Tengah, Pengprov Forki yang beberapa bulan lalu dilantik oleh Ketua Umum PB Forki Hadi Tjahyanto saat ini berfokus pada era peningkatan prestasi nasional. Saat ini Bidang Litbang sedang mengembangkan data besar (big data) sistem perangkingan untuk menganalisis performa atlet, wasit dan juri, dan pelatih.
"Litbang dalam olahraga beladiri karate membutuhkan kolaborasi antara pelatih, atlet, akademisi, hingga praktisi teknologi dan informasi untuk menghasilkan inovasi yang relevan, hal ini ntuk mngembangkan inovasi digital untuk mendukung pelatihan dan pengembangan prestasi,"ungkap Wawang.
Ditambahkannya, pihaknya saat juga sedang merumuskan aturan kompetisi yang lebih adil dan aman serta mengembangkan metode penilaian yang lebih objektif dalam pertandingan, dan bidang kami menerapkan P3T yang artinya Program, Proses, Progres, Target,"jelasnya.
3. Penjelasan konsep P3T

Dalam P3T Forki Jateng yakni program, proses, progres, dan target menurut Wawang saling berkaitan sebagai bagian dari proses pencapaian tujuan emas di PON 2028 mendatang. "Pencapaian program harus terealisasi sempurna yang esensi utamanya adalah memaksimalkan fasilitas program untuk mengasah kemampuan maksimal semuanyg terkait, seperti Wasit, pelatih dan atlet,"katanya.
Disebutkan menu seperti latihan fisik, teknik, taktik, dan mental, dan kegiatan khusus semisal ujicoba adalah sebagai pembentukan fondasi yang terstruktur untuk mencapai hasil optimal dan sejauh mana rencana berjalan dan memastikan perbaikan terus dilakukan.
"Prosesnya adalah ditahun 2026
diharapkan akan terciptanya proses prestasi yang masif dan kontinyu dari hasil program melalui ranah fasilitas kamp pelatihan yang esensi proses terfokus pada prepare untuk persiapan raihan hasil di tahapan progres ini,"terangnya.
Ditambahkan, nantinya ditahun 2027 atlet, pelatih,dan wasit sudah bisa maksimal menunjukan prestasi di tingkat Nasional dan sudah harus terbaca rekam prestasi di ranah nasional untuk mempermudah raihan target dan dengan cara try out nasional ataupun International. Ditegaskan semua program ini tidak akan bisa berjalan optimal bila tidak didukung dengan organisasi yang solid dan kompak.
"Sejatinya target maksimal dalam Forki seperti di daerah adalah raihan medali PON sebab tingkat validitasnya adalah mendapatkan support dari induk olahraga yaitu KONI, dan Esensi yang paling utama adalah terciptanya pemerataan prestasi di Forki Jateng untuk menghasilkan kualitas kompetisi yang kompetitif dan sportif, harapan utamanya adalah regenerasi atlet karate Jawa Tengah yang unggul dikancah nasional, dan kesimpulannya adalah 2025 tahap persiapan umum, 2026 persiapan khusus, 2027 masuk ke kompetisi, 2028 adalah targetnya yakni tahap kompetisi utama,"pungkasnya.