Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Itu Lebaran Ketupat atau Bakdo Kupat? Asal-Usul dan Maknanya

Apa Itu Lebaran Ketupat atau Bakdo Kupat? Asal-Usul dan Maknanya
ilustrasi makan ketupat (pexels.com/ferlistockphoto)
Intinya Sih
  • Lebaran Ketupat dirayakan seminggu setelah Idulfitri sebagai penanda berakhirnya puasa Syawal dan simbol harmoni antara ajaran Islam dengan budaya lokal masyarakat Jawa.
  • Tradisi ini memiliki filosofi ‘Ngaku Lepat’ dan ‘Laku Papat’ yang mencerminkan nilai pengakuan kesalahan, berbagi, saling memaafkan, serta penyucian hati, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.
  • Perayaan dilakukan beragam di tiap daerah dengan kenduri, arak-arakan ketupat, hingga pesta laut; menjadi momen mempererat silaturahmi dan menjaga kebersamaan antarwarga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jika Idulfitri tanggal 1 Syawal dirayakan dengan shalat Id dan silaturahmi keluarga besar, masyarakat Jawa memiliki satu perayaan khas lainnya yang tak kalah meriah: Lebaran Ketupat atau Bakda Kupat.

Dirayakan tepat satu minggu setelah Idulfitri (8 Syawal), tradisi ini menjadi penanda berakhirnya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal sekaligus simbolisasi harmonis antara ajaran agama dan kearifan lokal.

1. Filosofi di Balik Sebatang Janur

ilustrasi membuat ketupat lebaran (pexels.com/anggit priyandani)
ilustrasi membuat ketupat lebaran (pexels.com/anggit priyandani)

Bagi masyarakat Jawa, ketupat bukan sekadar pengganti nasi. Istilah "Kupat" sendiri merupakan kerata basa (singkatan) dari "Ngaku Lepat" (mengakui kesalahan) dan "Laku Papat" (empat tindakan).

Berikut adalah makna mendalam dari Laku Papat:

Lebaran: Usai atau selesai (menandakan selainya bulan puasa).

Luberan: Meluber atau melimpah (simbol berbagi sedekah kepada sesama).

Leburan: Habis atau melebur (dosa-dosa yang lebur karena saling memaafkan).

Laburan: Berasal dari kata kapur (simbol kesucian hati yang kembali putih bersih).

Tahukah Anda? Tradisi ini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana dakwah untuk membumikan ajaran Islam di tanah Jawa tanpa menghapus budaya lokal yang sudah ada.

2. Ritual dan Kemeriahan di Berbagai Daerah

ilustrasi makan ketupat
ilustrasi makan ketupat (pexels.com/Rani Nurlaela Desandi)

Meskipun intinya sama, setiap daerah di Jawa memiliki cara unik untuk merayakannya:

Kudus & Jepara: Dikenal dengan festival gunungan ketupat yang diarak, kemudian diperebutkan oleh warga sebagai simbol keberkahan.

Magelang & Boyolali: Tradisi "Kenduri Ketupat" di mana warga membawa bakul berisi ketupat ke masjid atau balai desa untuk didoakan bersama sebelum makan besar.

Kawasan Pesisir: Sering kali dirayakan dengan pesta laut atau makan bersama di tepi pantai sebagai bentuk syukur atas hasil laut.

Lebaran Ketupat tidak lengkap tanpa sayur pendampingnya. Berbeda dengan menu 1 Syawal yang identik dengan Opor Ayam, Bakda Kupat sering kali menyajikan:

Sayur Sambal Goreng Labu Siam: Memberikan rasa pedas gurih.

Bubuk Kedelai: Taburan gurih yang menjadi ciri khas ketupat di beberapa wilayah Jawa Tengah.

Lontong Cap Go Meh (Akulturasi): Di beberapa wilayah pesisir, terjadi perpaduan budaya dengan etnis Tionghoa yang menghasilkan hidangan kaya rempah.

3. Makna Sosial: Mengikat Tali Persaudaraan

ilustrasi ketupat Lebaran
ilustrasi ketupat Lebaran (pixabay.com/ignartonosbg)

Lebaran Ketupat menjadi momentum bagi mereka yang mungkin terlewat bersilaturahmi pada hari pertama Idulfitri. Tradisi saling mengantar ketupat ke rumah tetangga (ater-ater) memperkuat kohesi sosial, memastikan tidak ada tetangga yang merasa sendirian dalam suasana kemenangan.

Di era modern ini, Lebaran Ketupat tetap lestari sebagai pengingat bahwa memaafkan adalah sebuah proses yang butuh ketulusan—seperti rumitnya anyaman janur yang pada akhirnya menghasilkan bentuk yang indah dan mengenyangkan.

Share
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest Food Jawa Tengah

See More