Sepi Job! Kisah Pawang Hujan Berburu Pekerjaan saat Pandemik

Ternyata ini lho yang dibaca pawang untuk menolak hujan 

Semarang, IDN Times - Masa pandemik COVID-19 yang berlangsung hingga saat ini telah membuat aktivitas warga Semarang terganggu. Bahkan, tak sedikit orang yang kehilangan mata pencahariannya. Hal serupa juga nyaris dialami oleh Santoso Joko Purnomo. 

Pekerjaannya sebagai pawang hujan sejak awal pandemik sepi job. Pasalnya, dengan adanya kebijakan pemerintah yang melarang acara-acara konser musik yang menimbulkan potensi kerumunan massa, menyebabkan para penyelenggara acara tidak lagi memakai jasanya. 

"Kalau sebelum pandemik saya rutin dapat job untuk konser skala besar. Kayak Ungu, Noah, Dewa 19 biasanya kalau pas konser di Semarang, pasti pake jasa dari saya. Pawang hujan seperti saya dipakai agar suasana konser musik tetap kondusif dan tidak diguyur hujan," kata Joko Menthek, sapaan akrabnya saat membuka obrolan dengan IDN Times, Rabu (10/2/2021). 

1. Joko pawang hujan sempat menganggur tujuh bulan saat pandemik COVID-19

Sepi Job! Kisah Pawang Hujan Berburu Pekerjaan saat PandemikJoko pawang hujan (tengah) saat berpose dengan panitia acara di Klenteng Sam Poo Kong Semarang. Dok pribadi

Joko mengaku dengan suasana pandemik COVID-19 yang melanda seluruh Indonesia terutama di Semarang menyebabkan hingar bingar konser musik tak bisa lagi digelar. 

Pada event-event tertentu saja, banyak penyelenggara acara yang terganjal aturan protokol kesehatan. Joko harus menghadapi tantangan terberatnya selama tujuh bulan.

Ia yang mengandalkan keahlian menjadi pawang hujan sebagai satu-satunya pekerjaan mengaku hanya bisa menganggur di rumah dengan situasi yang tak menentu. 

"Untuk event sekelas di Sam Poo Kong saya gak dapat job lagi. Soalnya pengelola klentengnya gak berani gelar acara yang besar, takutnya timbul kerumunan dan dibubarkan Satpol PP. Ya seperti itu dilematisnya. Otomatis saya nganggur tujuh bulan," kata pria yang tinggal di Kedungmundu Semarang tersebut. 

Baca Juga: Banjir Semarang, Gak Cuma Persoalan Pompa dan Proyek Tol Tanggul Laut

2. Agar dapur tetap ngebul, Joko rajin menyambangi acara bleketepe dan midodareni

Sepi Job! Kisah Pawang Hujan Berburu Pekerjaan saat PandemikIlustrasi Menikah (IDN Times/Arief Rahmat)

Untuk mengakali situasi pandemik, Joko berkata dirinya sesekali menyambangi rumah-rumah kenalannya yang menggelar hajatan pernikahan. Percobaannya terbilang manjur.

Sekali tempo beberapa kenalannya turut mengoder untuk acara-acara prosesi pernikahan. Ia yang memang piawai menjadi pawang hujan selama 12 tahun lebih memanfaatkan momentum acara prosesi bleketepe dan midodareni agar tidak diguyur hujan. 

"Prinsip kerja saya cuma satu. Saya cuma punya keyakinan bisa menunda hujan turun ke bumi. Jadi pawang dimanapun tidak akan bisa menolak hujan, yang bisa saya lakukan hanya menggeser letak awan mendungnya. Dan batin kita harus benar-benar mantap," terangnya. 

Lanjutkan membaca artikel di bawah

Editor’s picks

"Untuk acara bleketepe yang rutin diadakan pagi atau siang diluar gedung, saya sering dikejar oleh waktu. Ketika pas hujan kayak gini, saya punya waktu sekitar 15-30 menit supaya acaranya tidak diguyur hujan. Terus kalau acara midodareni saya butuh waktu 15 menit agar pengantinnya gak kehujanan diluar gedung," imbuhnya. 

3. Yang dibaca para pawang hujan saat acara berlangsung

Sepi Job! Kisah Pawang Hujan Berburu Pekerjaan saat PandemikMasjid Jami' Al-Ihsan

Untuk setiap kali berusaha menunda hujan, Joko kerap melakukan ritual khusus. Ia bilang rutin berpuasa beberapa hari, lalu melalukan perhitungan waktu sesuai wethon, kemudian saat acara ia membawa segelas air sembari melantunkan zikir berulang kali. 

"Bacaannya hanya Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir, sampai acara berlangsung. Begitu terus saya zikirnya memohon kepada Allah SWT supaya setengah jam gak hujan dulu,".

4. Bayaran sebagai pawang hujan turun 75 persen

Sepi Job! Kisah Pawang Hujan Berburu Pekerjaan saat PandemikJoko pawang hujan juga turut mengevakuasi warga terdampak banjir. Dok pribadi

Dengan munculnya acara pernikahan sejak Oktober cukup menambah penghasilannya. Ia menyebut jika biasanya ia dibayar Rp5-Rp12 juta untuk event konser musik, untuk sekarang bayaran yang ia terima menurun hingga 75 persen. 

Sekali diorder untuk acara bleketepe dan midodareni, ia kini mengantongi honor sebesar Rp750 ribu. Bayaran tersebut untuk durasi acara 3 jam. 

"Kerjaan saya sekarang tipis-tipis. Dapat bayarannya paling Rp750 ribu. Itu kalau acara nikahannya keluarga pejabat, diluar itu lebih kecil lagi. Kalau dibikin perbandingan ya jauh banget sama bayaran waktu sebelum pandemik. Kondisi normal saja, saya dikontrak Rp12 juta untuk event setahun di Klenteng Sam Poo Kong," papar bapak dua anak ini. 

5. Pawang hujan pun kangen dengan situasi yang normal lagi

Sepi Job! Kisah Pawang Hujan Berburu Pekerjaan saat PandemikIlustrasi Suasana Hujan di Perkotaan (IDN Times/Besse Fadhilah)

Meski begitu, ia mengaku tetap bersyukur. Ia pun lambat-laun bisa memaklumi situasi pandemik yang membuat banyak orang membatasi aktivitas fisiknya. 


Sama seperti warga kebanyakan, ia kini juga berharap agar wabah virus Corona segera sirna. Ia sendiri sudah kangen dengan kehidupan yang normal seperti sediakala. 


"Dibilang kangen, pasti kangen sama situasi yang normal kayak dulu. Makanya saya bisanya pasrah, berdoa sambil tetap berusaha nyari orderan sesuai keahlian saya selama ini. Ini yang musti saya tempuh, saya nikmati aja," bebernya. 

Baca Juga: Diledek Kalah dari Pawang Hujan soal Prediksi Cuaca, Ini Respons BMKG

Topik:

  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya