Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
25 Ribu Penari Bakal Kenalkan Tari Dug Dug Der Jadi Ikon Semarang
Sebanyak 25 ribu penari akan memperkenalkan Tari Dug Dug Der secara massal di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Minggu (9/8/2026) pagi. (dok. Pemkot Semarang)
  • Sebanyak 25 ribu penari akan menampilkan Tari Dug Dug Der di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, pada Minggu pagi, 9 Agustus 2026.
  • Tari Dug Dug Der terinspirasi tradisi Dugderan, Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dan mengusung nilai keberagaman, kebersamaan, saling menghormati, serta gotong royong warga Semarang.
  • Gerakannya dirancang mudah untuk pelajar, komunitas, dan masyarakat umum; festival ini ditujukan memperkuat identitas budaya serta daya tarik wisata berbasis budaya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
8 Agustus 2026

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyatakan Tari Dug Dug Der berangkat dari keberagaman dan tradisi Dugderan. Tarian ini dirancang sebagai simbol kebersamaan warga.

9 Agustus 2026

Festival Tari Dug Dug Der 2026 akan digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima mulai pukul 06.00 WIB. Sekitar 25 ribu penari dijadwalkan memperkenalkan tarian tersebut secara massal sebagai identitas budaya baru Semarang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Festival Tari Dug Dug Der 2026 akan menampilkan sekitar 25 ribu penari untuk memperkenalkan Tari Dug Dug Der sebagai identitas budaya baru Kota Semarang.
  • Who?
    Sekitar 25 ribu penari dari pelajar, komunitas seni, dan masyarakat umum dijadwalkan tampil. Pemerintah Kota Semarang menyelenggarakan kegiatan ini, dengan Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menyampaikan keterangan.
  • Where?
    Pertunjukan akan berlangsung di Lapangan Pancasila, kawasan Simpang Lima, Kota Semarang.
  • When?
    Festival dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, mulai pukul 06.00 WIB.
  • Why?
    Tari Dug Dug Der diperkenalkan untuk memperkuat identitas budaya Semarang, mewariskan nilai budaya lokal kepada generasi muda, serta mengangkat tradisi Dugderan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
  • How?
    Tarian akan dipentaskan secara massal dengan gerakan yang dirancang mudah dipelajari berbagai kalangan. Festival digelar di ruang publik Simpang Lima agar warga dari beragam latar belakang dapat menari bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Semarang, 25 ribu penari akan menari Tari Dug Dug Der bersama-sama pada Minggu pagi di Simpang Lima. Tari ini dibuat dari tradisi Dugderan. Gerakannya mudah supaya anak sekolah dan banyak orang bisa ikut. Wali Kota Agustina ingin tarian ini jadi tanda budaya Semarang dan membuat warga rukun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tari Dug Dug Der membuka ruang budaya yang inklusif, karena gerakannya dirancang mudah dipelajari oleh pelajar, komunitas seni, hingga masyarakat umum. Dengan 25 ribu penari di Simpang Lima, tradisi Dugderan dapat hadir sebagai pengalaman bersama yang merayakan keberagaman, memperkuat identitas Semarang, dan memberi panggung bagi nilai gotong royong.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times – Kota Semarang segera memiliki identitas budaya baru. Sebanyak 25 ribu penari akan memperkenalkan Tari Dug Dug Der secara massal di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Minggu (9/8/2026) pagi.

Tarian yang terinspirasi dari tradisi Dugderan itu akan dipentaskan sebagai simbol kebersamaan sekaligus wajah baru budaya Kota Semarang.

1. Tari Dug Dug Der diangkat dari tradisi Dugderan

Ilustrasi pawai dugderan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, Tari Dug Dug Der lahir dari sejarah panjang Kota Semarang sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman budaya, etnis, agama, dan tradisi.

Ruh tarian ini diambil dari tradisi Dugderan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

“Kota Semarang berdiri di atas keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan kita. Filosofi itulah yang hidup dalam Tari Dug Dug Der. Gerakan-gerakannya merupakan simbol masyarakat yang melangkah bersama, saling menghormati, dan bergotong royong membangun kota,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).

2. Gerakannya dibuat mudah agar bisa ditarikan semua kalangan

ilustrasi dugderan (x.com/Jateng_Twit)

Berbeda dengan tari tradisional yang membutuhkan teknik khusus, Tari Dug Dug Der dirancang agar mudah dipelajari masyarakat.

Menurut Agustina, tarian ini bisa dimainkan mulai dari pelajar, komunitas seni, hingga masyarakat umum sehingga diharapkan menjadi bagian dari aktivitas budaya warga Semarang.

“Budaya hanya akan tetap hidup apabila terus diwariskan dan dipraktikkan oleh masyarakatnya. Karena itu, Tari Dug Dug Der hadir sebagai media untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda agar mereka semakin bangga terhadap identitas daerahnya,” katanya.

3. Simpang Lima jadi panggung 25 ribu penari

Tradisi Dugderan untuk menyambut bulan Ramadan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)

Pemkot Semarang akan menggelar Festival Tari Dug Dug Der 2026 pada Minggu (9/8/2026) mulai pukul 06.00 WIB di Lapangan Pancasila Simpang Lima. Sekitar 25 ribu penari dijadwalkan ikut ambil bagian dalam pertunjukan tersebut.

Agustina menyebut, Simpang Lima dipilih karena merupakan ruang publik yang menjadi titik temu masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Budaya adalah perekat kehidupan sosial. Saat warga dari berbagai latar belakang dapat menari bersama tanpa sekat, di situlah kita memperlihatkan wajah asli Kota Semarang yang rukun, terbuka, dan menghargai keberagaman,” terangnya.

Selain memperkuat identitas budaya Kota Semarang, festival tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisata berbasis budaya. Pemkot menilai pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pembangunan kota sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article