Meriah! Ini Arti Warak Ngendog Wajib Ada Telurnya di Dugderan Semarang

- Pawai budaya Dugderan meriah sambut bulan Ramadan di Kota Semarang.
- Ribuan warga turun ke jalan saksikan tradisi dengan suka cita.
- Warak Ngendog menjadi simbol keberagaman dan toleransi di masyarakat Semarang.
1. Tidak sekadar sambut bulan Ramadan

Pawai yang dimulai dari Balai Kota Semarang, berlanjut ke Masjid Agung Semarang, dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah itu melibatkan ribuan peserta. Kali ini dengan mengusung tema ‘’Bersama Dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi’’, Dugderan menyuguhkan tontonan yang lebih unik dan menarik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dugderan tahun 2026 ini tidak sekadar momentum penting dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan dan mengantar umat muslim beribadah puasa. Namun, mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang yang beragam namun tetap rukun dalam menjaga warisan budaya.
Ada berbagai inovasi termasuk pelibatan anak-anak, penguatan simbol Warak Ngendog, serta penegasan nilai harmoni lintas budaya dan agama.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng yang pada kesempatan tersebut bertindak sebagai Bupati Semarang, Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrat menyoroti simbol Warak Ngendog yang menjadi ikon utama Dugderan.
2. Filosofi warak wajib ngendog

Menurutnya, filosofi warak yang “ngendog” mengandung makna kerukunan, pengendalian diri, dan harapan akan kesejahteraan bersama.
“Yang unik hari ini semua waraknya wajib ngendog, karena kalau waraknya tidak ngendog nanti bisa congkrah kita ya, bisa bertengkar, tidak ada rejeki yang bisa dibagi, artinya Semarang belum sejahtera,” jelasnya.
Keunikan lainnya pada Dugderan 2026 adalah untuk pertama kalinya digelar Pawai Dugder Anak yang melibatkan pelajar dan kelompok seni budaya. Agustina mengaku bangga melihat antusiasme generasi muda dalam mengikuti tradisi tersebut sebagai bagian dari proses regenerasi budaya.
“Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Dan ini nanti pertama kali kita akan melepaskan kontingen anak-anak,” ungkapnya.
3. Libatkan anak-anak sebagai transfer pengetahuan

Menurut dia, pelibatan anak-anak merupakan bentuk transfer pengetahuan dan pelestarian tradisi agar Dugderan tetap hidup dan berkembang di masa depan. Ia menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan warisan budaya Kota Semarang.
Selain itu, Dugderan tahun ini juga dinilai semakin unik karena berlangsung dalam momentum yang berdekatan dengan perayaan lintas keagamaan, sehingga memperkuat nilai toleransi dan harmoni di tengah masyarakat.
“Dugderan diharapkan pada tahun ini menjadi lebih unik berkaitan dengan Imlek, kemudian masa puasa Pra-Paskah bagi teman-teman Kristen Katolik. Sehingga harmoni akan terjadi lebih erat dan Semarang menjadi semakin damai,” ujarnya.
4. Berdampak positif pada sektor pariwisata

Dirinya optimis, suasana damai dan harmonis yang tercipta melalui tradisi Dugderan akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan investasi di Kota Semarang. Pihaknya juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa.
“Kami berdua bersama Pak Iswar mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang muslim,” pungkasnya.
Dugderan 2026 diikuti ribuan peserta yang terdiri dari perwakilan 16 kecamatan, organisasi masyarakat, kelompok budaya, pelajar, serta komunitas seni. Rangkaian acara meliputi kirab budaya, penampilan seni tradisional, hingga pemukulan bedug sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol persatuan, toleransi, dan kekayaan budaya Kota Semarang.


















