Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Alasan Jago Motret Aja Nggak Cukup Buat Jadi Pewarta Foto Profesional

Kota Semarang
3 Alasan Jago Motret Aja Nggak Cukup Buat Jadi Pewarta Foto Profesional
Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk pewarta foto yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang pada 21-22 Agustus 2026. (Dok. Kompas)
  • Menjadi pewarta foto bukan cuma soal punya kamera mahal atau skill teknis mumpuni, tapi juga wajib memegang teguh kode etik dan integritas jurnalistik.

  • Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi wadah evaluasi krusial bagi para fotografer media untuk terus belajar dan meningkatkan daya saing karya visual mereka.

  • Kolaborasi antara ekosistem media dan raksasa teknologi sangat dibutuhkan untuk menciptakan industri jurnalistik yang sehat, profesional, dan tepercaya di mata publik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Halo! Di era digital sekarang, rasanya hampir semua orang bisa jadi "fotografer" dadakan. Cuma bermodalkan smartphone canggih dan filter estetik, jepretan sehari-hari bisa langsung viral di media sosial. Saking gampangnya, kadang kita suka mikir, "Ah, jadi fotografer berita mah gampang, tinggal jepret momen aja kan?"

Eits, jangan salah kaprah dulu! Di dunia jurnalistik profesional, menghasilkan foto yang bagus secara visual itu baru langkah pemanasan. Ada standar kompetensi ketat yang membedakan fotografer kasual dengan pewarta foto yang kredibel. Momen pembuktian ini baru saja terjadi di Semarang, di mana empat pewarta foto sukses menaklukkan kompetensi standar nasional. Yuk, bedah rahasia di balik ketatnya dunia foto jurnalistik!

  1. 1. Integritas dan Kode Etik Itu Harga Mati

    Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk pewarta foto yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang, 21-22 Agustus 2026. (Dok. Kompas)
    Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk pewarta foto yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang, 21-22 Agustus 2026. (Dok. Kompas)

    Kalau kamu berpikir jadi pewarta foto cuma butuh kejelian mencari angle atau mengatur shutter speed, kamu keliru besar. Di lapangan, seorang pewarta foto adalah "perekam sejarah" yang dituntut menyajikan kebenaran tanpa manipulasi.

    Hal ini dibuktikan dalam ajang Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang pada 21-22 Agustus 2026. Diuji langsung menggunakan modul Pewarta Foto Indonesia (PFI), para peserta dituntut membuktikan kredibilitas mereka.

    "Uji kompetensi penting untuk memastikan pewarta foto tidak hanya menguasai kemampuan teknis visual, tetapi juga menjunjung kode etik, integritas, dan profesionalisme jurnalistik," kata Danu Kusworo dari Kompas, yang bertindak sebagai penguji ahli dalam kegiatan tersebut.

  2. 2. Wadah Evaluasi Diri Biar Skill Nggak Stagnan

    Foto bersama usai penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang, 21-22 Agustus 2026. (D
    Foto bersama usai penutupan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang, 21-22 Agustus 2026. (Dok. Kompas)

    Merasa sudah jago sering kali jadi jebakan batman buat para pekerja. Sehebat apa pun pengalaman di lapangan, sertifikasi dan ujian adalah cara terbaik untuk mengukur kapasitas diri yang sebenarnya.

    Dalam UKW di Semarang kemarin, empat pewarta foto sukses dinyatakan kompeten menembus standar bergengsi Dewan Pers. Mereka adalah Maulana M Fahmi (Suara Merdeka), Budi Purwanto (Tempo), dan M Aminuddin (Gemadika) untuk kategori Muda, serta Dhana Kencana (IDN Times) di kategori Madya.

    Bagi mereka, ujian ini bukanlah sekadar ajang pamer sertifikat.

    "Kegiatan ini menjadi wadah evaluasi dan pembelajaran untuk terus meningkatkan kualitas karya foto jurnalistik," ungkap Maulana M Fahmi, membagikan wawasan berharganya setelah berhasil menaklukkan ujian tersebut.

  3. 3. Sinergi untuk Melawan Ekosistem Informasi Bodong

    Keempat pewarta foto dan penguji berfoto bersama usai Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semara
    Keempat pewarta foto dan penguji berfoto bersama usai Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang digelar oleh Kompas, KG Media, dan Google di Semarang, 21-22 Agustus 2026. (Dok. Kompas)

    Di tengah gempuran hoaks dan gambar hasil manipulasi AI yang makin marak, publik membutuhkan kepastian bahwa foto berita yang mereka lihat adalah fakta. Kepercayaan publik ini hanya bisa dibangun lewat ekosistem media yang diisi oleh tenaga-tenaga profesional dan tersertifikasi.

    Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang, Raditya Mahendra Yasa, mengapresiasi sinergi lintas lembaga ini. Menurutnya, langkah ini amat krusial untuk mendongkrak daya saing pewarta foto di era modern. Harapannya jelas: kolaborasi semacam ini wajib dirutinkan agar ekosistem jurnalistik Indonesia makin kuat dan tepercaya di mata masyarakat.

    So, profesi pewarta foto adalah perpaduan seni visual dan tanggung jawab moral yang berat. Sertifikasi kompetensi membuktikan bahwa karya mereka bukan sekadar indah dipandang, tapi juga memikul kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.

    Gimana nih, buat kamu yang hobi fotografi, tertarik nggak buat upgrade skill sampai ke level tersertifikasi kayak gini? Menurutmu, apa sih tantangan paling berat buat fotografer berita di era serba digital sekarang? Yuk, share opini dan keluh kesahmu di kolom komentar!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More