Salah satu qoriah ini juga menjadi peserta dari tunanetra. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
Saat ikut MTQ Nasional, ia membawa niat belajar lebih dalam tentang seni tilawah Al-Qur'an. Soal hasil dan gelar juara, sepenuhnya diserahkan kepada Allah.
Bagi Zainuddin, Al-Qur'an bukan sekadar bacaan. Ayat-ayat Kalamullah memberinya ketenangan bagi kalbu. Sejak berusia 16 tahun, dia mulai serius mendalami Al-Qur'an, dengan belajar di Pondok Pesantren Al Khairat, Jepara.
Perjalanannya menghafal Al-Qur'an pun tidak selalu mudah. Zainuddin mengaku sempat frustrasi ketika pertama kali belajar menghafal. Hingga suatu ketika, sebuah pertemuan sederhana dengan seorang lelaki tua membuka mata batinnya.
"Waktu itu saya bertemu dengan orang tua. Kata teman saya, dia hanya bercelana dan telanjang dada. Di situ saya dikatai, 'Hei goblok, kamu dikasih telinga, pikiran dan mulut juga hati.' Habis itu dia pergi," kenangnya.
Ucapan itu sempat membuat Zainuddin merenung. Dia kemudian menyadari, setiap bagian tubuh yang diberikan Allah memiliki fungsi untuk membantu manusia belajar.
"Lalu saya merenung. Ternyata telinga untuk mendengar, pikiran untuk mengingat dan hati untuk menyimpan," tuturnya.
Sejak saat itu, niat Zainuddin semakin kuat untuk terus menghafal dan menyempurnakan bacaan Al-Qur'an. Dia kemudian mulai mengikuti berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an, dari tingkat kecamatan hingga provinsi.
Sejumlah prestasi pun berhasil diraihnya. Prestasi tertingginya adalah meraih juara dua pada MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah di Pati dan Tegal.
Baginya, berada di tengah orang-orang yang sama-sama mencintai Al-Qur'an, sudah menjadi pengalaman yang patut disyukuri. "Alhamdulillah, ini pengalaman yang saya rasakan memang sangat nikmat banget, berkumpul dengan ahlul Qur'an. Teman-teman yang sefrekuensi," paparnya.