Erupsi Anak Krakatau, Ada Lava Fountain dan Dentuman

- Erupsi Anak Krakatau pada 5 September 2026 berciri Hawaiian, ditandai lava fountain dari magma basaltik rendah silika dan kandungan gas tinggi.
- Dentuman yang terdengar hingga jauh dikaitkan dengan gelombang infrasonik dari letupan gas bertekanan; abu vulkanik menyebar hingga Lampung, Banten, Bogor, dan Bandung.
- Anak Krakatau berstatus Siaga Level III. Warga diminta menjauhi radius 3 kilometer, memakai N95 atau KN95 saat hujan abu, serta mengikuti informasi resmi.
Banyumas, IDN Times - Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dan aktivitasnya pada Sabtu (5/9/2026) menarik perhatian karena tak hanya memunculkan semburan lava, tetapi juga dentuman yang terdengar hingga wilayah yang cukup jauh.
Abu vulkanik dari erupsi juga dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah, mulai dari Lampung, Banten, Bogor hingga Bandung. Fenomena ini kemudian memunculkan berbagai pertanyaan soal karakter letusan dan seberapa besar potensi bahayanya.
Ahli Gunung Api Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Yogi Adi Prasetya menjelaskan sejumlah fenomena tersebut dari perspektif geologi.
1. Erupsi Anak Krakatau memiliki karakter Hawaiian

Visualisasi erupsi Anak Krakatau dengan karakter Hawaiian (lava basaltic yang sangat cair, lava fountain, aliran lava yang mengalir deras, dan aktivitas yang relatif non-eksplosif).(IDN Times/Foto : Ilustrasi) Menurut Yogi, aktivitas erupsi Anak Krakatau kali ini memiliki karakter Hawaiian, salah satunya ditandai dengan kemunculan lava fountain atau air mancur lava.
Pada fenomena ini, lava keluar dari kawah dan memancar ke udara seperti air mancur. Karakter tersebut umumnya berkaitan dengan magma basaltik yang memiliki kandungan silika relatif rendah, sekitar 45–50 persen.
Magma jenis ini juga dapat mengandung gas dalam jumlah tinggi sehingga ketika tekanan gas dilepaskan, lava bisa terlontar membentuk pancaran.
Yogi menyampaikan analisis tersebut dalam pemaparan yang dipandu Ir. H. Alief Einstein, M.Hum. dari Kafapet-Unsoed pada Minggu (6/9/2026). Yogi merupakan alumni S2 Kyushu University, Fukuoka, Jepang, serta anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia.
2. Dentuman bisa terdengar sangat jauh

Visualisasi erupsi Anak Krakatau yang menghasilkan dentuman sangat keras hingga terdengar dari jarak jauh. (IDN Times/Foto : Ilustrasi) Hal lain yang membuat erupsi kali ini ramai diperbincangkan adalah suara dentuman yang dilaporkan terdengar hingga wilayah Bandung dan sekitarnya.
Yogi menjelaskan fenomena tersebut dapat berkaitan dengan gelombang infrasonik, yakni gelombang suara berfrekuensi sangat rendah yang dihasilkan dari pelepasan energi besar.
Letupan gas bertekanan tinggi di kawah dapat menghasilkan shockwave. Gelombang tersebut kemudian merambat melalui atmosfer dan dalam kondisi tertentu dapat menjangkau wilayah yang sangat jauh.
Jadi, suara dentuman yang terdengar jauh dari Anak Krakatau tidak selalu berarti sumber ledakannya berada di dekat wilayah tersebut.
Badan Geologi juga mencatat adanya laporan suara dentuman dan getaran di sejumlah wilayah yang waktunya berdekatan dengan aktivitas erupsi Anak Krakatau.
3. Debu krakatau berbahaya bagi penerbangan

Visualisasi data tentang abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau yang sangat berbahaya bagi dunia penerbangan.(IDN Times/Foto : Ilustrasi) Abu vulkanik juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan masyarakat. Yogi menjelaskan abu vulkanik merupakan material gunung api berukuran sangat kecil, terdiri atas fragmen batuan, mineral dan gelas vulkanik dengan ukuran kurang dari 2 milimeter.
Karena ukurannya kecil, material ini dapat terangkat tinggi ke atmosfer kemudian terbawa angin hingga jauh dari pusat erupsi. Masalahnya, abu vulkanik bukan seperti debu rumah tangga biasa. Partikelnya dapat bersifat tajam dan abrasif sehingga berpotensi mengganggu saluran pernapasan.
Selain kesehatan manusia, abu vulkanik juga dapat mengganggu penerbangan karena partikel abu yang masuk ke mesin pesawat dapat menimbulkan risiko serius.
Erupsi Anak Krakatau bahkan sempat berdampak terhadap aktivitas penerbangan setelah sebaran abu mencapai wilayah udara yang dilalui pesawat.
4. Riwayat tsunami 2018 membuat Anak Krakatau tetap harus dipantau

Visualisasi bahwa riwayat tsunami 2018 membuat Anak Krakatau tetap harus terus dipantau.(IDN Times/Foto : Ilustrasi) Nama Anak Krakatau tentu tidak bisa dilepaskan dari peristiwa tsunami Selat Sunda pada Desember 2018. Saat itu, sebagian tubuh gunung mengalami longsor dan masuk ke laut sehingga memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung. Karena itu, kondisi morfologi Anak Krakatau setelah 2018 menjadi salah satu perhatian dalam pemantauan aktivitas gunung api.
Yogi mengatakan pertumbuhan kembali kerucut Anak Krakatau perlu terus dipantau, baik melalui pengamatan visual maupun instrumen seismik. Fluktuasi suplai magma juga perlu diperhatikan untuk melihat perubahan tekanan dan kondisi tubuh gunung.
Meski demikian, berdasarkan evaluasi Badan Geologi, tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan saat ini belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala besar yang dapat memicu tsunami. Artinya, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung.
5. Masker N95 atau KN95 disarankan saat terpapar abu

Masker N95 atau KN95 disarankan saat terpapar abu, terutama abu akibat letusan gunung anak krakatau.(IDN Times/Foto : ilustrasi) Bagi masyarakat yang wilayahnya terdampak hujan abu, perlindungan diri menjadi hal penting. Yogi menyarankan penggunaan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti N95 atau KN95, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diminta menghindari kontak langsung dengan air hujan yang bercampur abu vulkanik. Sumber air terbuka yang terkena abu sebaiknya tidak langsung digunakan sebelum dipastikan kondisinya aman.
Yang tak kalah penting, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Anak Krakatau hanya untuk melihat atau mengabadikan erupsi.
Badan Geologi menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga dan merekomendasikan masyarakat maupun wisatawan tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.
"Yang paling penting adalah masyarakat mengikuti rekomendasi resmi Badan Geologi/PVMBG dan tidak mendekati zona bahaya,"kata Yogi.
Dengan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, masyarakat di sekitar Selat Sunda dan wilayah yang terdampak abu diimbau tetap tenang. Informasi mengenai perkembangan erupsi sebaiknya merujuk pada kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, BNPB maupun BPBD setempat.



















