Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Kematian Sutrimo, Pekerja Febrie Berdasarkan Pengakuan Keluarga

Kab. Banyumas
5 Fakta Kematian Sutrimo, Pekerja Febrie Berdasarkan Pengakuan Keluarga
Klinik Mordent, lokasi tewasnya penjaga rumah Febrie Adriansyah. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Sutrimo, pekerja rumah mantan Jampidsus Febrie Adriansyah sejak 2008, meninggal mendadak di Jakarta pada 23 Juli 2026 dan dikenal tak pernah membahas pekerjaannya kepada keluarga.
  • Komunikasi terakhir dengan istri terjadi sehari sebelumnya saat ia menanyakan anak tanpa mengeluh sakit; keluarga menyebut ponsel dan kartu ATM belum dikembalikan, hanya KTP diserahkan.
  • Keluarga menerima informasi dugaan angin duduk tanpa penjelasan medis rinci serta bantuan pemakaman Rp20 juta; keluarga dan kepala desa membantah rumor keterlibatan urusan tambang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyumas, IDN Times — Meninggalnya Sutrimo (42), warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masih menyisakan teka-teki besar. Pria yang sudah belasan tahun bekerja di rumah mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, tersebut dilaporkan meninggal dunia mendadak di Jakarta pada Kamis (23/7/2026).

Di tengah berbagai spekulasi yang beredar liar di media sosial, pihak keluarga dan pemerintah desa setempat akhirnya buka suara. Berdasarkan wawancara IDN Times bersama adik ipar almarhum, Soim, serta Kepala Desa Wlahar, Narsim (Kades Oho), berikut 5 fakta kunci kematian Sutrimo berdasarkan kacamata keluarga, Lur!

1. Sudah 18 Tahun Bekerja tapi Tak Pernah Cerita Soal Urusan Pekerjaan

WhatsApp Image 2026-07-27 at 14.30.03.jpeg
Sutrimo (diblur) saat detik detik keadaan dirumah sakit, nampak pula jenazah ditutup kain.(IDN Times/Foto : Tangkapan layar)

Sutrimo diketahui telah bekerja di rumah Febrie Adriansyah sejak tahun 2008. Meski sudah hampir dua dekade ikut bersama sang pejabat, almarhum dikenal sebagai pribadi yang sangat pendiam dan sederhana. Setiap kali pulang ke kampung halaman di Banyumas, ia hampir tidak pernah menceritakan detail tugas maupun aktivitas pekerjaannya di Jakarta.

keluarga menegaskan bahwa almarhum hanya berfokus membicarakan kondisi keluarga dan tidak pernah menyinggung urusan kantor atau pejabat tempatnya bekerja.

2. Pesan WhatsApp Terakhir Cuma Menanyakan Kabar Anak

idntimes.com
Jalan masuk ke desa Wlahar Wangon dan pemerintah desa menyebut pihaknya menerima kabar meninbggalnya Sutrimo dari pihak pengantar jenazah karena sakit, Senin (27/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Jejak komunikasi terakhir almarhum dengan sang istri terjadi pada Rabu sore (22/7/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, atau beberapa jam sebelum ia dinyatakan meninggal dunia pada Kamis pagi.

Dalam pesan singkat tersebut, Sutrimo sama sekali tidak mengeluhkan rasa sakit. Ia hanya menanyakan apakah buah hatinya sudah tidur, yang kemudian dibalas oleh sang istri dengan mengunggah foto anak mereka. Pesan foto tersebut sempat dibaca (read) oleh almarhum sekitar pukul 18.00 WIB sebelum akhirnya komunikasi terputus total.

3. Jenazah Pulang Cuma KTP yang Diserahkan

WhatsApp Image 2026-07-27 at 14.48.43.jpeg
Suasana saat kedatangan jenazah Sutrimo di rumah duka desa Wlahar Wangon, disebut jenazah tiba pada Kamis Malam, 23 Juli 2026 dan dikuburkan malam itu juga,.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Salah satu poin yang jadi pertanyaan keluarga adalah tidak dikembalikannya barang-barang pribadi milik almarhum. Saat jenazah diantar menggunakan ambulans dari Jakarta dan tiba di rumah duka pada Kamis malam (23/7/2026), rombongan pengawal hanya menyerahkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Sutrimo.

Pihak keluarga mengaku juga mempertanyakan keberadaan ponsel (handphone) serta kartu ATM milik almarhum yang hingga kini belum diserahkan, padahal ponsel tersebut menjadi bukti krusial riwayat komunikasi terakhirnya.

4. Divonis Angin Duduk Tanpa Penjelasan Medis Rinci dan Ada Uang Duka Rp20 Juta

Klinik Mordent, lokasi tewasnya penjaga rumah Febrie Adriansyah. (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Klinik Mordent, lokasi tewasnya penjaga rumah Febrie Adriansyah. (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Keluarga mendapat informasi awal bahwa penyebab kematian Sutrimo diduga karena serangan "angin duduk". Namun, mereka tidak pernah menerima resume medis atau penjelasan klinis secara detail terkait penyebab pasti meninggalnya almarhum, terlebih Sutrimo tidak memiliki riwayat penyakit berat.

Di sisi lain, keluarga mengungkapkan bahwa ada bantuan biaya pemakaman sebesar Rp20 juta yang diberikan saat prosesi pemakaman. Meski begitu, pihak keluarga mengaku tidak tahu pasti dari mana sumber dana bantuan tersebut berasal.

5. Rumah Baru Dibedah, Menepis Isu 'Urus Tambang Pejabat'

rmh.jpg
Rumah kediaman Sutrimo yang baru saja ikut bedah rumah karena rumahnya masuk RTLH di Desa Wlahar, Wangon, Banyumas, Senin (27/7/2026(.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Beredarnya rumor di media sosial yang mengaitkan kematian almarhum dengan keterlibatan urusan bisnis tambang pejabat langsung ditepis oleh keluarga dan pemerintah desa. Kepala Desa Wlahar, Narsim, mengungkapkan keheranannya atas isu spekulatif tersebut.

Faktanya, kondisi ekonomi almarhum di kampung terbilang sangat bersahaja. Bahkan, sekitar dua minggu sebelum peristiwa naas ini terjadi, rumah almarhum di Desa Wlahar baru saja mendapatkan program bantuan bedah rumah dari pemerintah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More