Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Perbedaan Mendasar antara Karakter Narsistik dan Percaya Diri

ilustrasi percaya diri (unsplash.com/Antonino Visalli)
ilustrasi percaya diri (unsplash.com/Antonino Visalli)
Intinya sih...
  • Percaya diri berasal dari penerimaan diri yang kuat dan kemampuan untuk menghargai orang lain.
  • Kepercayaan diri terlihat dari sikap tenang dan kemampuan untuk menghargai pendapat orang lain.
  • Orang yang percaya diri mampu menerima kritik dengan baik dan melihatnya sebagai peluang untuk berkembang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa seseorang yang tampak sangat percaya diri terkadang justru terkesan egois dan kurang peka? Sebaliknya, ada pula individu yang percaya diri namun tetap mampu menghargai orang lain. Meskipun istilah "narsistik" dan "percaya diri" sering terdengar, keduanya memiliki makna yang sangat kontradiktif.

Membedakan antara kepercayaan diri yang sehat dengan gangguan narsistik terkadang membingungkan. Pemahaman akan perbedaan ini sangat krusial agar kamu dapat mengenali karakter diri sendiri dan lingkungan sekitar dengan lebih baik. Kepercayaan diri bersifat positif dan membangun, sedangkan narsisisme cenderung merusak hubungan sosial.

Berikut adalah ulasan mengenai lima perbedaan utama antara sifat narsistik dan percaya diri untuk membantumu mengidentifikasi karakter yang sesungguhnya.

1. Sumber kepercayaan diri yang berbeda

ilustrasi bercermin (pexels.com/Polina Tankilevitch)
ilustrasi bercermin (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Percaya diri biasanya berasal dari penerimaan diri yang kuat dan kemampuan untuk menghargai orang lain. Orang yang percaya diri memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh pendapat orang lain, melainkan dari pemahaman dan penerimaan diri. Ini membuat mereka emosional stabil dan tidak mudah terguncang oleh kritik atau pujian.

Sebaliknya, narsistik sering kali berasal dari ketidakamanan yang mendalam dan minimnya empati. Mereka cenderung mencari validasi eksternal untuk menutupi rasa tidak aman tersebut. Meskipun tampak percaya diri di luar, mereka sebenarnya sangat rentan terhadap kritik dan sering kali merasa tidak puas dengan diri mereka sendiri.

2. Cara menyampaikan diri dalam interaksi sosial

ilustrasi berbincang (pexels.com/William Fortunato)
ilustrasi berbincang (pexels.com/William Fortunato)

Kepercayaan diri terlihat dari sikap tenang dan kemampuan untuk menghargai pendapat orang lain. Mereka tidak merasa perlu selalu menjadi pusat perhatian dan lebih suka mendengarkan serta menghargai kontribusi orang lain dalam percakapan. Komunikasi mereka bersifat asertif dan tetap menghormati orang lain.

Di sisi lain, narsistik cenderung berusaha menjadi pusat perhatian dan sering kali mengabaikan perasaan orang lain. Mereka mungkin memonopoli pembicaraan dan merasa bahwa pendapat mereka adalah yang paling penting. Sikap ini membuat mereka terlihat arogan dan tidak peka terhadap kebutuhan serta perasaan orang lain.

3. Reaksi terhadap kritik dan masukan

ilustrasi menegur (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)
ilustrasi menegur (unsplash.com/LinkedIn Sales Solutions)

Orang yang percaya diri mampu menerima kritik dengan baik dan melihatnya sebagai peluang untuk berkembang. Mereka paham bahwa tidak ada yang sempurna, dan kritik konstruktif adalah bagian dari proses belajar. Sikap ini memungkinkan mereka untuk terus berkembang dan memperbaiki diri.

Sebaliknya, narsistik cenderung defensif dan sulit menerima kesalahan. Mereka mungkin merasa terancam oleh kritik dan merespons dengan kemarahan atau penolakan. Ketidakmampuan untuk menerima kritik ini sering menghambat perkembangan pribadi dan membuat mereka sulit belajar dari kesalahan.

4. Hubungan dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari

ilustrasi pasangan (pexels.com/Samson Katt)
ilustrasi pasangan (pexels.com/Samson Katt)

Percaya diri menciptakan hubungan yang sehat dan saling menghargai. Mereka cenderung membangun hubungan berdasarkan kepercayaan dan saling menghormati. Orang yang percaya diri menghargai orang lain dan tidak merasa perlu merendahkan orang lain untuk merasa lebih baik.

Sementara itu, narsistik sering memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi dan kurang peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Mereka mungkin memanipulasi atau mengeksploitasi orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Sikap ini bisa merusak hubungan dan membuat orang lain merasa tidak dihargai.

5. Kebutuhan akan pengakuan dan validasi eksternal

ilustrasi bekerja (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi bekerja (pexels.com/cottonbro studio)

Orang yang percaya diri tidak terlalu bergantung pada pengakuan dari orang lain untuk merasa baik tentang diri mereka. Mereka memiliki rasa harga diri yang kuat dan tidak memerlukan pujian terus-menerus untuk merasa berharga. Ini menjadikan mereka lebih mandiri dan tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.

Sebaliknya, narsistik sangat bergantung pada pujian dan pengakuan dari orang lain untuk merasa berharga. Mereka mungkin terus mencari perhatian dan validasi eksternal untuk menutupi rasa tidak aman. Ketergantungan ini sering kali membuat mereka tampak sombong dan tidak tulus dalam interaksi sosial.

Jadi, termasuk tipe manakah kamu? Apakah percaya diri atau mengarah pada narsistik? Semoga informasi ini membantumu memahami perbedaan keduanya secara mendalam, sekaligus menjadi sarana refleksi untuk mengenali diri sendiri dengan lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

[OPINI] Mudik Inklusif: Membaca Makna PPN Pesawat Ditanggung Pemerintah 2026

12 Feb 2026, 09:43 WIBNews