- Daging ayam ras
- Cabai rawit
- Bawang merah
- Telur ayam ras
Inflasi Jateng Februari 2026 Capai 0,76 Persen Terdorong Momen Ramadan

- Jawa Tengah mencatat inflasi 0,76 persen pada Februari 2026, lebih tinggi dari nasional 0,68 persen, dengan inflasi tahunan mencapai 4,43 persen.
- Kenaikan harga bahan pangan dan emas perhiasan jadi pendorong utama inflasi, sementara penurunan harga bensin serta beberapa komoditas sayur menahan laju kenaikan.
- Seluruh kota di Jateng alami inflasi dengan Surakarta tertinggi dan Semarang terendah; BI bersama TPID fokus menjaga pasokan dan distribusi agar inflasi kembali ke sasaran.
Semarang, IDN TImes - Provinsi Jawa Tengah mencatat tingkat inflasi bulanan sebesar 0,76 persen (month-to-month/m-t-m) pada Februari 2026. Angka ini tercatat lebih tinggi dari tingkat inflasi nasional yang berada pada level 0,68 persen (m-t-m).
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah menyentuh 4,43 persen (year to year/y-o-y). Meski berada di atas rentang sasaran 2,5±1 persen, angka tersebut masih lebih rendah dari tingkat inflasi nasional sebesar 4,76 persen (y-o-y).
1. Penyumbang utama inflasi Ramadan

Peningkatan harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil terbesar, yakni 0,58 persen (m-t-m). Kenaikan harga pada kelompok ini sejalan dengan masuknya periode tanam, cuaca ekstrem, dan melonjaknya permintaan masyarakat pada pertengahan bulan Ramadan 2026.
Beberapa komoditas utama yang mendorong inflasi dari sektor pangan meliputi:
Selain bahan pangan, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya turut menyumbang inflasi dengan andil 0,14 persen (m-t-m). Faktor pendorong utamanya adalah lonjakan harga komoditas emas perhiasan. Ketegangan geopolitik dan kondisi ekonomi global membuat investor memburu aset aman (safe haven), sehingga sukses mendongkrak harga emas dunia.
2. Faktor penahan inflasi

Laju inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh deflasi pada Kelompok Transportasi, yang mencatatkan andil minus 0,02 persen (m-t-m). Penurunan harga bensin memberikan andil minus 0,05 persen (m-t-m) menyusul penyesuaian tarif dari pemerintah pada awal Februari 2026.
Sejumlah komoditas pangan pelengkap seperti wortel, cabai hijau, bawang putih, dan kelapa juga mengalami penurunan harga, sehingga membantu mengendalikan laju inflasi daerah.
3. SebaraniInflasi di kota dan kabupaten

Secara spasial, seluruh kota penyumbang Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah kompak mengalami inflasi. Kota Surakarta menempati posisi tertinggi dengan inflasi 0,90 persen (m-t-m).
Posisi selanjutnya secara berurutan ditempati oleh Kota Tegal (0,86 persen), Rembang (0,83 persen), Cilacap (0,80 persen), Wonogiri (0,79 persen), Purwokerto (0,78 persen), Wonosobo (0,76 persen), Kudus (0,74 persen), dan Kota Semarang yang mencatat inflasi terendah di angka 0,67 persen.
3. Strategi pengendalian BI dan TPID

Plt. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Noor Nugroho memastikan instansinya terus berkoordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tingkat provinsi maupun kabupaten/kota se-Jawa Tengah.
Kolaborasi pemangku kepentingan tersebut bertujuan melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi barang. Langkah strategis itu berfokus untuk mengembalikan tingkat inflasi Jawa Tengah agar tetap terjaga di rentang sasaran 2,5±1 persen.


















