Surakarta, IDN Times - Ada kisah yang lahir dari luka, tetapi justru mampu menjadi cahaya bagi banyak orang. Perjalanan hidup Fanny Kondoh menjadi salah satunya. Kisah tentang cinta, perjuangan mendapatkan buah hati, kehilangan, hingga kesetiaan mendampingi suami yang berjuang melawan kanker itu kini diangkat ke layar lebar melalui film Baby Udon.
Roadshow Film Baby Udon di Solo, Curhat Perjuangan Fanny Kondoh Lawan Kanker

- Film Baby Udon mengangkat kisah nyata Fanny Kondoh: perjuangan memiliki anak, keguguran, hingga mendampingi mendiang suami melawan kanker, yang dibawa dalam roadshow di Solo.
- Fanny memandang film ini sebagai anugerah dan warisan untuk anaknya, Kaskas; ceritanya mencakup perjuangan kanker, keturunan, kehidupan, serta kepercayaan.
- Caitlin Halderman menyebut peran Fanny sebagai tantangan akting berat karena harus menyampaikan emosi selama sembilan tahun; Baby Udon tayang mulai 3 September 2026.
Film yang dibintangi Caitlin Halderman sebagai Fanny tersebut diboyong aktor sekaligus produser Denny Sumargo dalam agenda roadshow di Bioskop Grand XXI Solo Paragon Mall, Senin (17/8/2026).
Bagi Denny, kisah Fanny bukan sekadar cerita viral yang pernah dibagikan melalui podcast. Ada perjalanan manusia yang begitu kuat di dalamnya sehingga layak diabadikan menjadi sebuah film.
“Ini satu cerita yang kalau enggak difilmkan, kayaknya kita semua akan menyesali bahwa ada satu cerita sebagus ini yang tidak menjadi sebuah dokumentasi cerita film,” tegas Denny usai pemutaran film.
1. Berawal dari Cinta, Berujung pada Perjuangan Panjang

Screening Film Baby Udon di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey) Kehidupan Fanny bersama mendiang suaminya, seorang pria berkebangsaan Jepang yang kemudian menjadi mualaf, tidak selalu berjalan mulus. Setelah menikah, keduanya harus menghadapi ujian demi ujian, termasuk perjuangan mendapatkan keturunan hingga Fanny mengalami keguguran.
Belum selesai menghadapi kehilangan tersebut, cobaan kembali datang ketika sang suami didiagnosis mengidap kanker.
Di tengah kondisi yang penuh tekanan, Fanny memilih tetap bertahan. Ia bahkan memperkuat kehidupan spiritualnya dengan mengenakan hijab dan mendampingi sang suami hingga akhir hayat.
Perjalanan tersebut kemudian membawa Fanny pada sebuah titik yang tidak pernah ia bayangkan. Kisah hidupnya yang sempat dibagikan kepada publik akhirnya menjadi inspirasi bagi Denny Sumargo untuk menghadirkannya dalam medium film.
Bagi Fanny, hadirnya Baby Udon menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar film.
“Kun fayakun, penggarapan kisah hidup yang menjadi film layar lebar ini sebagai anugerah serta jawaban atas doanya. Koh Denny berhasil menghidupkan karakter mendiang suami saya dalam film ini,” ungkap Fanny.
2. Bukan Sekadar Film, tetapi Legacy untuk Sang Anak

Screening Film Baby Udon di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey) Fanny mengaku emosinya kembali bergejolak ketika melihat pengalaman pahit yang pernah dilaluinya diterjemahkan ke dalam adegan-adegan film.
Namun, ia melihat Baby Udon bukan hanya sebagai kisah tentang kehilangan. Film tersebut menjadi warisan untuk sang anak, Kaskas, sekaligus pesan bahwa setiap perjuangan dalam hidup memiliki makna.
Menurut Fanny, cerita yang dibawa Baby Udon memiliki banyak sisi yang bisa dirasakan oleh penonton. Bukan hanya mereka yang sedang berjuang mendapatkan keturunan, tetapi juga para pejuang kanker, pasangan yang menghadapi persoalan kehidupan, hingga mereka yang sedang mempertanyakan arti kepercayaan.
“Film ini relate ke banyak benang. Dari pejuang kanker, pejuang garis dua, pejuang kehidupan, hingga masalah kepercayaan. Mampir saja ke medium rasa ini karena kalian akan membawa sesuatu ketika pulang, entah itu jawaban ataupun harapan,” tutur Fanny.
Kekuatan cerita tersebut juga terasa saat pemutaran film di XXI Solo Paragon. Seorang penonton bahkan menyampaikan kisah Fanny mengingatkannya pada sang ibu yang juga pernah berjuang mendapatkan keturunan sebelum akhirnya menghadapi penyakit kanker.
Momen itu membuat suasana pemutaran semakin emosional. Kisah pribadi Fanny seolah menemukan cerita lain di antara para penonton.
3. Caitlin Halderman: Tantangan Akting Paling Berat

Screening Film Baby Udon di Kota Solo. (IDN Times/Larasati Rey) Bagi Caitlin Halderman, memerankan Fanny bukan pekerjaan sederhana. Ia harus membawa karakter dengan lapisan emosi yang kompleks, mulai dari kebahagiaan, kehilangan, perjuangan sebagai seorang istri, hingga keteguhan seorang ibu.
Terlebih, cerita tersebut diangkat dari pengalaman nyata Fanny selama bertahun-tahun.
“Layer-nya sangat banyak mengingat kehidupan Kak Fanny yang sangat amat berat. Aku harus sampaikan semua rasa yang dialami selama sembilan tahun ini ke dalam film,” tutur Caitlin.
Setelah pemutaran film, Denny Sumargo, Caitlin Halderman, dan Fanny juga menyapa penonton melalui agenda meet and greet di foodcourt Solo Paragon Mall.
Antusiasme penonton terlihat dari respons mereka terhadap perjalanan Baby Udon yang sebelumnya dikenal melalui cerita Fanny dan podcast Denny Sumargo, sebelum akhirnya berkembang menjadi sebuah karya layar lebar.
Film Baby Udon dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026.
Lebih dari sekadar tontonan, film ini membawa kisah nyata tentang bagaimana seseorang tetap berjalan meski berkali-kali diuji. Tentang kehilangan yang tidak selalu menjadi akhir, dan tentang harapan yang terkadang justru tumbuh dari luka paling dalam.





















