5 Tren Pernikahan Ala Generasi Z, Nggak Mau Ribet dan Lebih Personal

- Gen Z memilih pernikahan minimalis dan personal, mengurangi dekorasi berlebihan demi konsep yang merepresentasikan karakter pasangan, meski anggarannya belum tentu lebih kecil.
- Estetika tetap penting melalui LED, LCD, video pendek, dan visual sinematik untuk menampilkan kisah pasangan; pesta privat dengan tamu terbatas kerap dikompromikan dengan tradisi keluarga.
- Undangan digital memudahkan konfirmasi kehadiran dan perhitungan katering; wedding expo di Semarang merespons tren ini dengan konsep satu tempat yang melibatkan sekitar 45 vendor.
Semarang, IDN Times – Tren pernikahan ala generasi Z (Gen Z) mulai mengubah wajah industri jasa pesta dan pernikahan. Jika pesta pernikahan selama ini identik dengan dekorasi megah, tumpukan bunga, dan acara yang serba meriah, pasangan muda kini justru cenderung memilih konsep yang lebih simpel, personal, dan kuat secara visual.
1. Menghindari dekorasi pesta yang berlebihan

Pameran pernikahan "Let's Get Married", yang diselenggarakan pada 21 -23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang dibuat seperti supermarket pernikahan, sehingga calon pengantin bisa memilih berbagai kebutuhan pernikahan dalam satu tempat. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Tren tersebut terlihat dari perubahan preferensi calon pengantin saat memilih vendor atau jasa pernikahan. Mereka mulai menghindari dekorasi berlebihan dan pesta yang terlalu besar. Kendati demikian, pilihan itu tidak serta-merta membuat pesta pernikahan menjadi sederhana dalam hal anggaran.
Pemilik jasa penyelenggara acara Topeng The Event, Evelyne Joyce mengatakan, Gen Z cenderung menyukai konsep pernikahan yang tidak terlalu rumit dan lebih merepresentasikan karakter pasangan.
“Trennya itu sebenarnya simpel-simpel. Kalau dulu dekorasi itu bunga-bunga banyak, sekarang larinya ke kain-kain yang simpel, minimalis. Mereka nggak mau terlalu repot,” ungkapnya saat ditemui di pameran pernikahan ‘‘Let’s Get Married’’ di DP Mal Semarang, Jumat (21/8/2026) malam.
2. Gen Z mau simpel, tapi tetap Instagramable

Pameran pernikahan "Let's Get Married", yang diselenggarakan pada 21 -23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang dibuat seperti supermarket pernikahan, sehingga calon pengantin bisa memilih berbagai kebutuhan pernikahan dalam satu tempat. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Menurut Evelyne, keinginan untuk menggelar pesta yang sederhana bukan berarti Gen Z mengabaikan estetika. Justru, pasangan muda kini lebih banyak mengalokasikan perhatian pada visual dan pengalaman personal.
Dekorasi yang terlalu penuh dianggap berlebihan. Sebaliknya, elemen seperti LED, layar LCD, video pendek, hingga visual sinematik semakin banyak digunakan untuk membangun suasana.
“Anak-anak sekarang suka membuat video-video pendek. Jadi, kebanyakan acara sekarang ingin menunjukkan video pendek, misalnya cerita prewedding yang dituangkan secara visual melalui LED,” terangnya.
Bahkan, layar LCD kini dapat digunakan untuk menampilkan foto atau video pasangan sepanjang acara.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran dari konsep wedding yang berorientasi pada kemewahan dekorasi menjadi wedding yang lebih kuat pada storytelling.
Pasangan tidak selalu membutuhkan dekorasi yang memenuhi seluruh ruangan. Calon pengantin Gen Z justru ingin cerita tentang hubungan mereka menjadi bagian dari acara.
3. Pesta lebih privat dengan tamu terbatas

Pameran pernikahan "Let's Get Married", yang diselenggarakan pada 21 -23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang dibuat seperti supermarket pernikahan, sehingga calon pengantin bisa memilih berbagai kebutuhan pernikahan dalam satu tempat. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Kemudian, kini pernikahan ala Gen Z menginginkan pesta yang lebih privat, walau itu masih sering berhadapan dengan tradisi keluarga di Indonesia, khususnya budaya Timur yang umumnya serba mewah.
Evelyne menyebut, banyak pasangan muda sebenarnya menginginkan pesta dengan jumlah tamu terbatas. Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya berada di tangan calon pengantin. Pasalnya, orang tua masih memiliki jaringan sosial yang ingin diundang ke pesta pernikahan anak.
“Gen Z sebetulnya enggak mau pesta yang terlalu berlebihan. Maunya private-private. Tetapi di budaya Timur kita enggak bisa. Orang tua sudah setiap saat kondangan ke mana-mana, jadi mau mengundang relasinya kembali,” jelasnya.
Maka itu, lanjut dia, komprominya jumlah tamu tetap bisa banyak, tetapi konsep acaranya dibuat lebih ringan dan dekorasinya tidak terlalu berlebihan.
4. Undangan pernikahan bergeser ke digital

Pameran pernikahan "Let's Get Married", yang diselenggarakan pada 21 -23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang dibuat seperti supermarket pernikahan, sehingga calon pengantin bisa memilih berbagai kebutuhan pernikahan dalam satu tempat. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Selanjutnya, digitalisasi juga mengubah bagian lain dari industri jasa pesta dan pernikahan, seperti undangan. Undangan fisik semakin jarang digunakan, karena pasangan kini lebih banyak mengirim undangan secara digital melalui WhatsApp maupun platform digital lainnya.
Bukan hanya untuk menghemat biaya, undangan digital juga memberikan keuntungan lain. Tamu dapat memberikan konfirmasi kehadiran atau reservasi sehingga pasangan dan vendor bisa memperkirakan jumlah tamu yang benar-benar hadir.
Evelyn menjelaskan, jika sebelumnya katering harus disiapkan berdasarkan jumlah undangan yang disebar, kini data reservasi dapat digunakan untuk membuat perhitungan yang lebih presisi.
“Kalau dulu pesan katering 500 porsi, yang datang 400 orang, kan mubazir 100. Sekarang tamu bisa konfirmasi datang atau tidak,” terangnya.
5. Wedding Expo dibuat seperti “Supermarket” untuk Gen Z

Pameran pernikahan "Let's Get Married", yang diselenggarakan pada 21 -23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang dibuat seperti supermarket pernikahan, sehingga calon pengantin bisa memilih berbagai kebutuhan pernikahan dalam satu tempat. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Dengan demikian, perubahan perilaku calon pengantin tersebut juga mendorong jasa penyelenggara pesta dan pernikahan seperti Topeng The Event mengubah konsep wedding expo.
Seperti acara "Let's Get Married", yang diselenggarakan pada 21 -23 Agustus 2026 di DP Mall Semarang ini dibuat seperti supermarket pernikahan, sehingga calon pengantin bisa memilih berbagai kebutuhan pernikahan dalam satu tempat. Mulai dari hotel, dekorasi, wedding organizer, katering, stylist, cake, bridal, undangan, souvenir, dancer, lighting hingga sound system tersedia.
“Kami konsepkan untuk Gen Z. Wedding expo-nya seperti supermarket. Jadi seperti belanja dekor, belanja WO, macam-macam,” tutur Evelyne.
Adapun, pameran pernikahan ini melibatkan sekitar 45 vendor baik dari Semarang, Solo, hingga Jakarta. Untuk menarik calon pengantin, penyelenggara juga menggandeng BCA dengan program cashback tertentu. Salah satu penawaran berupa emas 0,5 gram bagi konsumen yang melakukan deal sesuai ketentuan program.
Pergeseran tren ini memperlihatkan bahwa Gen Z tidak sepenuhnya meninggalkan pesta pernikahan. Mereka hanya mengubah definisinya, yakni lebih sedikit kemewahan yang terasa generik, lebih banyak sentuhan personal yang bisa menceritakan siapa mereka.
Bagi industri wedding, perubahan tersebut justru membuka pasar baru karena pesta yang terlihat sederhana belum tentu membutuhkan layanan yang sederhana pula.




















