Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Wajah Baru Simpang Lima Semarang Disiapkan, Bakal Makin Modern
Wahana Simpang Lima Semarang (Instgram.com/maps/lingkarsemarang)
  • Pemkot Semarang merevitalisasi kawasan Simpang Lima hingga akhir 2026 dengan konsep ruang publik modern, ramah pejalan kaki, hijau, dan bebas genangan.
  • Proyek mencakup pelebaran trotoar, pembangunan drainase baru, IPAL untuk limbah PKL, serta pemindahan sementara pohon agar tetap terjaga ruang hijaunya.
  • Selama revitalisasi, PKL direlokasi sementara dan setelah rampung kawasan ditargetkan menjadi destinasi wisata kota yang nyaman, bersih, serta fungsional bagi warga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Kawasan Simpang Lima yang selama puluhan tahun menjadi ikon sekaligus pusat keramaian Kota Semarang bakal tampil berbeda. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai melakukan revitalisasi kawasan Lingkar Luar Simpang Lima dengan mengubah konsepnya menjadi ruang publik modern yang lebih ramah pejalan kaki, hijau, dan bebas genangan.

Tak sekadar mempercantik tampilan, proyek yang ditargetkan rampung pada akhir 2026 ini juga menyasar persoalan klasik kawasan, mulai dari drainase, limbah pedagang, hingga kenyamanan pengunjung.

Berikut enam perubahan besar yang akan hadir di Simpang Lima.

1. Trotoar diperlebar, pejalan kaki jadi prioritas

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai melakukan revitalisasi kawasan Lingkar Luar Simpang Lima dengan mengubah konsepnya menjadi ruang publik modern yang lebih ramah pejalan kaki, hijau, dan bebas genangan. (dok. Pemkot Semarang)

Salah satu perubahan paling mencolok adalah pembangunan jalur pedestrian yang lebih lebar dan nyaman.

Pemkot Semarang ingin menggeser orientasi kawasan yang selama ini didominasi kendaraan menjadi ruang publik yang lebih ramah bagi pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas.

“Simpang Lima adalah wajah Kota Semarang. Karena itu kami ingin menghadirkan kawasan yang lebih nyaman untuk berjalan kaki, lebih teduh, lebih bersih, bebas genangan, sekaligus tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi dan rekreasi masyarakat,” kata Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, Sabtu (27/6/2026).

2. Genangan air jadi sasaran utama revitalisasi

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai melakukan revitalisasi kawasan Lingkar Luar Simpang Lima dengan mengubah konsepnya menjadi ruang publik modern yang lebih ramah pejalan kaki, hijau, dan bebas genangan. (dok. Pemkot Semarang)

Selain mempercantik kawasan, revitalisasi juga menyentuh persoalan yang kerap dikeluhkan masyarakat saat musim hujan, yakni genangan air.

Pemkot membangun sistem drainase baru yang diklaim mampu memperlancar aliran air sehingga aktivitas masyarakat di kawasan Simpang Lima tidak lagi terganggu ketika hujan turun.

Langkah tersebut melanjutkan pekerjaan normalisasi sedimen saluran drainase yang sudah dilakukan sejak Januari 2026 sebagai tahap awal revitalisasi.

3. Limbah PKL tak lagi langsung masuk saluran air

Kuliner Simpang Lima Semarang (Google.com/maps/Suhendra Azzam)

Perubahan lain yang disiapkan adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) khusus kawasan kuliner.

Fasilitas yang dibangun di bawah jalur pedestrian ini akan mengolah limbah dari aktivitas pedagang sebelum dialirkan ke drainase.

Dengan cara itu, minyak dan sisa makanan diharapkan tidak lagi menyumbat saluran air maupun mencemari lingkungan sekitar.

4. Pohon dipindahkan sementara, bukan ditebang

Simpang Lima Semarang (https://jv.wikipedia.org/)

Revitalisasi sempat memunculkan kekhawatiran soal berkurangnya ruang hijau di Simpang Lima.

Namun Pemkot memastikan pohon-pohon yang berada di kawasan tersebut hanya dipindahkan sementara ke Kebun Bibit Sampangan untuk menjalani perawatan dan karantina.

Setelah pembangunan selesai, seluruh pohon akan ditanam kembali sebagai bagian dari lanskap baru kawasan.

“Kami tidak menghilangkan ruang hijau. Pohon-pohon tetap kami rawat agar nantinya Simpang Lima tetap menjadi kawasan yang rindang, teduh, dan nyaman dinikmati masyarakat,” ujar Agustina.

5. PKL direlokasi sementara hingga proyek selesai

Simpang Lima Semarang (Google.com/maps/suhendra azzam)

Selama proses revitalisasi berlangsung, pedagang kaki lima tidak diperbolehkan berjualan di lokasi lama.

Pemkot telah merelokasi mereka ke shelter sementara di depan eks E-Plaza agar aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Setelah proyek selesai pada akhir Desember 2026, para pedagang dijanjikan kembali berjualan di kawasan Simpang Lima dengan fasilitas yang lebih tertata, bersih, dan nyaman.

6. Simpang Lima disiapkan menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata kota

Wahana Simpang Lima Semarang (Instagram.com/lingkarsemarang)

Pemkot Semarang menargetkan revitalisasi tidak hanya menghasilkan wajah baru Simpang Lima, tetapi juga meningkatkan kualitas ruang publik di pusat kota.

Kawasan tersebut nantinya diharapkan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk berjalan kaki, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, menikmati kuliner, hingga menjadi destinasi wisata perkotaan yang lebih representatif.

Menurut Agustina, penyesuaian selama proses pembangunan merupakan investasi jangka panjang agar Simpang Lima tetap menjadi kebanggaan warga Semarang sekaligus etalase utama ibu kota Jawa Tengah.

Jika revitalisasi berjalan sesuai target, Simpang Lima tidak hanya berubah secara visual, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih fungsional, ramah lingkungan, dan mampu mengakomodasi aktivitas masyarakat tanpa meninggalkan fungsi ekonominya sebagai pusat kuliner dan rekreasi.

Editorial Team

Related Article