Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Tradisi Malam 1 Suro yang Masih Eksis dan Sarat Makna di Jateng

7 Tradisi Malam 1 Suro yang Masih Eksis dan Sarat Makna di Jateng
Peringatan Malam 1 Suro di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah (IDN Times/Herka Yanis)
Intinya Sih
  • Malam 1 Suro di Jawa Tengah dirayakan dengan berbagai tradisi sakral seperti kirab pusaka, tapa bisu, tirakatan, dan jamasan keris yang mencerminkan perpaduan budaya Islam dan adat Jawa.
  • Tradisi ini menjadi momen refleksi diri, doa bersama, serta penghormatan terhadap leluhur melalui kegiatan seperti ziarah makam dan pengendalian diri selama bulan Suro.
  • Selain bernilai spiritual, perayaan malam 1 Suro kini juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya yang memperkuat identitas Jawa di tengah arus modernisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Tahun Baru Hijriah atau malam 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender bagi masyarakat Jawa. Bagi masyarakat Jawa Tengah, momen ini justru menjadi waktu yang sakral untuk refleksi diri, doa bersama, hingga pelestarian budaya leluhur yang sudah diwariskan turun-temurun.

Tradisi malam 1 Suro di Jawa dikenal sebagai perpaduan budaya Islam dan adat Jawa yang kental dengan nilai spiritual. Mulai dari kirab pusaka, tapa bisu, jamasan keris, hingga tirakatan semalam suntuk masih rutin dilakukan oleh masyarakat maupun lingkungan keraton.

Berikut deretan tradisi malam 1 Suro di Jawa Tengah yang masih eksis hingga sekarang.

1. Kirab Pusaka Keraton Surakarta

Kirab Pusaka (https://www.rri.co.id/)
Kirab Pusaka (https://www.rri.co.id/)

Tradisi malam 1 Suro yang paling terkenal di Jawa Tengah berada di Surakarta atau Solo. Keraton Kasunanan Surakarta rutin menggelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang selalu dipadati ribuan warga dan wisatawan.

Dalam prosesi tersebut, berbagai pusaka keraton diarak mengelilingi kawasan kota dengan pengawalan abdi dalem. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah kemunculan Kebo Bule Kiai Slamet, kerbau albino yang dianggap sakral oleh masyarakat Solo.

Kirab dilakukan dalam suasana hening karena peserta menjalani ritual tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara sebagai simbol perenungan diri dan introspeksi spiritual.

2. Kirab dan Tapa Bisu Pura Mangkunegaran

Kirab Pusaka Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)
Kirab Pusaka Malam 1 Suro Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)

Selain Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran juga memiliki tradisi Kirab Pusaka Dalem 1 Suro.

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk doa keselamatan dan rasa syukur memasuki tahun baru Jawa. Prosesi kirab biasanya diikuti para abdi dalem dengan pakaian adat lengkap sambil menjalani tapa bisu.

Masyarakat percaya ritual tersebut menjadi simbol pengendalian diri, ketenangan batin, dan penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur Jawa.

3. Tirakatan dan doa bersama

Malam tirakatan dengan menu ingkung.(IDN Times/Daruwaskita)
Malam tirakatan dengan menu ingkung.(IDN Times/Daruwaskita)

Sejumlah wilayah seperti Klaten, Sragen, hingga daerah pedesaan lain di Jawa Tengah, masyarakat menyambut malam 1 Suro dengan tirakatan.

Tradisi ini biasanya dilakukan semalam suntuk dengan pengajian, wirid, doa bersama, hingga makan sederhana seperti tumpeng dan bubur suro.

Tirakatan dianggap sebagai bentuk rasa syukur sekaligus momentum mendekatkan diri kepada Tuhan saat memasuki tahun baru Islam dan kalender Jawa.

4. Ziarah makam leluhur

ilustrasi ziarah makam (pexels.com/RDNE Stock project)
ilustrasi ziarah makam (pexels.com/RDNE Stock project)

Tradisi lain yang identik dengan malam 1 Suro adalah ziarah makam leluhur. Banyak masyarakat Jawa Tengah mendatangi makam keluarga maupun tokoh agama untuk mendoakan para pendahulu.

Ziarah biasanya dilakukan menjelang malam 1 Suro sambil membawa bunga dan memanjatkan doa bersama keluarga.

Tradisi ini dipercaya menjadi cara menjaga hubungan spiritual antara generasi sekarang dengan leluhur mereka.

5. Jamasan keris dan pusaka

Pemkab Sumenep menggelar Haul Akbar dan Jamasan Keris yang akan diadakan pada tanggal 15-16 Juli 2024. (Dok. Dinas Pariwisata Sumenep).
Pemkab Sumenep menggelar Haul Akbar dan Jamasan Keris yang akan diadakan pada tanggal 15-16 Juli 2024. (Dok. Dinas Pariwisata Sumenep).

Malam 1 Suro juga identik dengan tradisi jamasan pusaka atau pencucian benda-benda pusaka seperti keris, tombak, dan gamelan.

Tradisi ini masih dilakukan di berbagai wilayah budaya Jawa termasuk lingkungan keraton dan rumah-rumah masyarakat yang memiliki pusaka keluarga.

Jamasan bukan sekadar membersihkan benda kuno, tetapi memiliki filosofi penyucian diri agar memasuki tahun baru dengan hati dan pikiran yang lebih baik.

6. Menghindari hajatan di Bulan Suro

ilustrasi pernikahan (pixabay.com/ANURAG1112)
ilustrasi pernikahan (pixabay.com/ANURAG1112)

Sejumlah daerah di Jawa Tengah, bulan Suro masih dianggap sebagai bulan sakral sehingga sebagian masyarakat memilih tidak menggelar hajatan besar seperti pernikahan atau pindah rumah.

Kepercayaan tersebut berasal dari filosofi Jawa yang memandang bulan Suro sebagai waktu untuk laku spiritual, introspeksi, dan menenangkan diri.

Meski begitu, pandangan masyarakat modern mulai berubah. Banyak yang kini memaknai bulan Suro bukan sebagai bulan sial, melainkan momentum budaya dan spiritual semata.

7. Jadi wisata budaya yang mendunia

Warga terlihat antusias menyaksikan kirab malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Minggu (7/7/2024). (IDN Times/Herka Yanis)
Warga terlihat antusias menyaksikan kirab malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Minggu (7/7/2024). (IDN Times/Herka Yanis)

Tradisi malam 1 Suro kini tidak hanya menjadi ritual masyarakat lokal, tetapi juga berkembang menjadi daya tarik wisata budaya.

Setiap tahun, ribuan wisatawan datang ke Solo untuk menyaksikan kirab pusaka dan ritual tapa bisu secara langsung. Tradisi tersebut dinilai menjadi salah satu identitas budaya Jawa yang masih bertahan di tengah modernisasi.

Keberadaan ritual 1 Suro juga membuktikan bahwa budaya Jawa tetap hidup dan diwariskan lintas generasi melalui tradisi yang sarat makna spiritual, sosial, dan filosofi kehidupan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More