Catat! Ini Jadwal Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro 2026 di Keraton Solo

- Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2026 di Keraton Surakarta dijadwalkan berlangsung Selasa malam, 16 Juni 2026, dengan rute keliling luar benteng keraton dan diperkirakan menarik banyak pengunjung.
- Pelaksanaan kirab tahun ini diwarnai isu dualisme kepemimpinan antara kubu PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo yang sama-sama berencana menggelar prosesi pada waktu bersamaan.
- Pemerintah Kota Solo diminta menjadi mediator agar kedua kubu mencapai kesepakatan, sementara pihak PB XIV Purboyo menegaskan pentingnya menjaga kesakralan adat tanpa acara tandingan.
Surakarta, IDN Times — Gelaran budaya yang paling dinanti-nantikan oleh masyarakat Solo Raya dan wisatawan, Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sudah di depan mata. Agenda tahunan yang ikonik dengan iring-iringan kebo bule keturunan Kyai Slamet ini siap kembali menyapa publik.
Bagi kamu yang ingin menyaksikan langsung prosesi sakral nan eksotis ini, pastikan untuk mencatat waktunya. Berdasarkan agenda resmi, Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2026 dijadwalkan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) malam. Prosesi kirab keliling rute luar benteng keraton ini diprediksi akan memadati pusat Kota Solo sejak selepas magrib.
Namun, di balik persiapan sakral menyambut pergantian tahun baru Jawa ini, pelaksanaan kirab tahun ini tengah dibayangi oleh isu panas terkait dualisme kepemimpinan di dalam internal keraton, Lur.
Table of Content
1. Bayang-Bayang Dualisme Dua Kubu PB XIV

Meskipun jadwal kirab sudah dipatok pada Selasa malam pekan depan, publik kini menaruh perhatian ekstra karena adanya potensi penyelenggaraan ganda. Saat ini, terdapat dua kubu yang sama-sama mengklaim legitimasi kepemimpinan tertinggi Keraton Surakarta, yakni kubu PB XIV Hangabehi dan kubu PB XIV Purboyo.
Kedua belah pihak disebut-sebut sama-sama berencana menggelar prosesi kirab pusaka pada waktu dan hari yang sama. Kondisi ini tentu memicu kekhawatiran akan terjadinya kebingungan di tengah masyarakat serta potensi gesekan di lapangan saat ritual adat berlangsung.
2. Menanti Titik Temu Lewat Mediasi Wali Kota Solo

Menyikapi situasi pelik ini, sejumlah petinggi keraton dari kedua kubu mulai angkat bicara dan mendorong adanya jalan tengah agar kesakralan adat tetap terjaga.
Lembaga Dewan Adat (LDA): Ketua Eksekutif LDA, KPH Eddy Wirabhumi, menyatakan pihaknya terus berkomunikasi intens dengan aparat keamanan, Pemkot Surakarta, hingga Kementerian Kebudayaan. Langkah hati-hati ini krusial mengingat Kirab 1 Suro sedang diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda. "Mudah-mudahan ada titik temu sehingga itu bisa berlangsung baik walau dalam suasana tidak biasa," ujarnya, Rabu (10/6).
Permohonan Mediasi Wali Kota: Pelaksana Keraton dari kubu PB XIV Hangabehi, Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan, meminta Wali Kota Solo bertindak sebagai mediator. Ia berharap pemerintah bisa mengundang kedua kubu (termasuk Gusti Moeng dan pihak terkait) untuk duduk berembuk bersama pada tanggal 13 atau 14 Juni di Balaikota Solo demi menjamin keamanan dan ketertiban.
3. Kubu PB XIV Purboyo Minta Tak Ada Acara Tandingan

Di sisi lain, penegasan juga datang dari kubu PB XIV Purboyo. Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, meminta secara terbuka agar tidak ada pihak-pihak tertentu yang memicu dualisme acara.
"Kami berharap tidak ada pihak-pihak tertentu yang menyelenggarakan kegiatan tandingan atau menciptakan dualisme acara yang berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat serta mengurangi nilai adat leluhur, budaya, dan kesakralan," tegas Rumbay, putri dari PB XIII tersebut.
Menurutnya, pelaksanaan Hajad Dalem Kirab Pusaka ini harus berjalan murni tanpa rongrongan terhadap marwah, kewibawaan, dan legitimasi adat Keraton Surakarta yang diwariskan turun-temurun.
Bagaimanapun dinamika internal yang sedang terjadi, Kirab Malam 1 Suro tetaplah aset budaya berharga milik bersama. Semoga proses mediasi dalam waktu dekat ini membuahkan hasil manis ya, Lur, agar kirab kebo bule besok Selasa malam tetap berjalan dengan adem, aman, dan penuh kekhidmatan!
FAQ Seputar Jadwal Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro 2026 di Keraton Solo
| Berapa harga tiket masuk untuk menonton Kirab Malam 1 Suro di Keraton Solo? | Tidak ada tiket masuk alias gratis. Masyarakat umum dan wisatawan bisa menyaksikan prosesi kirab secara bebas dari pinggir jalan di sepanjang rute luar benteng keraton yang dilewati iring-iringan. |
| Apakah ada aturan pakaian khusus bagi penonton yang ingin menyaksikan kirab? | Penonton sangat dilarang memakai pakaian berwarna merah atau warna-warna yang terlalu mencolok. Selain itu, penonton wajib berpakaian sopan dan dilarang memakai pakaian berbahan beludru dengan bordir emas yang menyerupai pakaian adat resmi internal keraton. |
| Mengapa penonton dilarang menyalakan lampu kilat (flash) kamera saat memotret? | Lampu kilat (flash) dapat mengejutkan dan membuat Kebo Bule Kyai Slamet stres atau ketakutan. Jika kebo bule mengamuk, hal itu bisa membahayakan keselamatan para abdi dalem, peserta kirab, serta ribuan penonton di lokasi. |
| Apa rute detail yang dilewati oleh iring-iringan Kirab Pusaka dan Kebo Bule? | Kirab dimulai dari Kori Kamandungan, lalu melewati Supit Urang, Jalan Pakoe Boewono, Gapura Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, berbelok ke Jalan Mayor Sunaryo (depan PGS), Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Nonongan, Jalan Slamet Riyadi, dan kembali masuk ke Keraton. |

















