Dua Kubu Keraton Kasunan Solo Gelar Malam Satu Suro Dihari yang Sama

- Dua kubu Keraton Kasunanan Surakarta, PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo, sama-sama berencana menggelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro pada waktu yang sama tahun 2026.
- Kubu Hangabehi berupaya mencari solusi agar kirab berjalan damai dan terkoordinasi dengan pemerintah serta aparat keamanan, mengingat acara ini diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.
- Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan meminta Wali Kota Solo memediasi pertemuan kedua kubu untuk memastikan pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro berlangsung aman, tertib, dan tanpa konflik.
Surakarta, IDN Times - Dualisme penyelenggaraan Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menjadi perhatian publik. Meski dua kubu yakni kubu PB XIV Hangabehi dan kubu PB XIV Purboyo sama-sama mengklaim kepemimpinan Keraton Surakarta berencana menggelar kirab pada waktu yang sama.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro dijadwalkan berlangsung pada Selasa (16/6/2026) malam. Baik kubu PB XIV Hangabehi maupun PB XIV Purboyo disebut telah melakukan berbagai persiapan menjelang pelaksanaan agenda budaya tahunan tersebut.
1. Kubu Hangabehi upayakan jalan tengah.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan pihaknya masih berusaha mencari solusi terbaik agar penyelenggaraan kirab tidak menimbulkan persoalan di lapangan.
“Kita terus berupaya mencari solusi agar acara itu bisa dilangsungkan secara kehati-hatian, secara baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang saat ini ada pihak lain juga yang ingin menyelenggarakan, yang notabene ya mau tidak mau itu juga bagian dari keluarga besar kita juga,” ujar Wirabhumi saat ditemui wartawan di Keraton Surakarta, Rabu (10/6).
Menurutnya, komunikasi dan koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, Pemerintah Kota Surakarta, hingga pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan.
Wirabhumi menjelaskan langkah tersebut dilakukan karena Kirab 1 Suro saat ini tengah diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang melekat pada Keraton Surakarta.
“Nah, mudah-mudahan ada titik temu sehingga itu bisa berlangsung. Walaupun dalam suasana tidak biasa, tapi semaksimal mungkin mudah-mudahan bisa diselenggarakan secara baik. Hari ini sedang terus dilakukan upaya untuk mencari solusi,” ungkapnya.
“Mohon doanya mudah-mudahan dalam waktu dekat nanti ada rapat bersama, dengan pemerintah, dengan pihak keamanan, agar acara ini bisa berlangsung secara baik,” imbuhnya.
2. Kubu Purboyo minta tak ada acara tandingan.

Sebelumnya, kubu PB XIV Purboyo juga menyampaikan sikap terkait rencana pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro. Pengageng Sasana Wilapa, GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, meminta tidak ada pihak yang menggelar kegiatan serupa yang berpotensi memunculkan dualisme.
“Kami berharap tidak ada pihak-pihak tertentu yang menyelenggarakan kegiatan tandingan atau menciptakan dualisme acara yang berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat serta mengurangi nilai adat leluhur, budaya, dan kesakralan Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro,” ujar Rumbay kepada awak media di Kori Talang Paten, Keraton Surakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurut putri PB XIII tersebut, masyarakat dinilai sudah mengetahui pihak-pihak yang selama ini tetap menyelenggarakan kegiatan serupa di luar agenda yang mereka laksanakan.
“Tindakan tersebut tidak hanya menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, tetapi juga berpotensi merongrong marwah, kewibawaan, legitimasi adat, serta keluhuran budaya Keraton Surakarta Hadiningrat yang telah diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.
Rumbay berharap praktik dualisme tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro yang digelar atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwono XIV Purboyo.
“Demi menjaga kesakralan tradisi, ketertiban pelaksanaan adat, dan kehormatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat,” tegasnya.
3. Tedjowulan akan undang semua pihak rapat bersama dengan Walikota Solo.

Terpisah, Pelaksana Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Gusti Panembahan Agung Tedjowulan meminta Walikota Solo sebagai mediator untuk mengundang kedua belah pihak di Balaikota Solo sebelum acara peringatan Malam Satu Sura. Ia mengatakan hadirnya pemerintah dalam konflik keraton bertujuan agar tidak ada perselisihan dan sama-sama mendukung acara Kirab Malam Satu Sura berjalan lancar, aman, dan tertib.
“Sudah banyak masukan dan sudah banyak analisa, sehingga diambil kesimpulan bahwa tanggal 13 Juni atau 14 Juni nanti, saya tadi dari perwakilan Balai Kota ada, supaya dilaporkan ke Pak Wali, supaya Pak Wali mengundang kita semuanya. Itu, jadi dari saya sama Gusti Wandansari nanti, dari pihak-pihak lain yang terkait dengan masalah keraton ini," katanya ditemui di Keraton Solo, Rabu (9/6/2026).
Pihakny juga telah mengelar rapat bersama Kubu PB XIV Hangabehi yang juga dihadiri oleh Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng serta perwakilan Kementerian Kebudayaan di Keraton Solo.
"Nah, di sinilah akhirnya kita nyuwun untuk Suro ini Pak Wali-lah yang ngundang kita. Kita-kita itu ya kita, ya mereka, untuk berembuk bersama-sama nanti di tanggal 13 Juni atau 14 Juni. Jadi kita hari ini juga tidak memutuskan apa-apa," terangnya.
"Kita menghormati juga nopo, apa yang Pak Wali sampaikan. Nah, dengan begitu kami menyampaikan permohonan ke Pak Wali Kota untuk bisa undang sana dan undang sini untuk berembuk bersama," sambungnya.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro merupakan salah satu tradisi penting Keraton Surakarta yang digelar setiap pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Tradisi tersebut menjadi simbol pelestarian budaya sekaligus daya tarik bagi masyarakat yang setiap tahunnya memadati kawasan keraton untuk menyaksikan prosesi sakral tersebut.


















