Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Psikologis Kenapa Susah Move On dari Mantan Meski Sudah Disakiti!
ilustrasi belum bisa move on dari mantan (unsplash.com/Adrian Swancar)
  • Kesulitan move on bukan bentuk kelemahan diri, melainkan efek adiksi dopamin dan trauma kimiawi di dalam otak.

  • Pola perlakuan hot-and-cold memicu kecanduan psikologis mirip mesin judi (intermittent reinforcement).

  • Otak cenderung melakukan bias kognitif (sunk cost fallacy) dan memfilter kenangan buruk sehingga sosos mantan terlihat ideal secara semu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kadang orang susah melupakan mantan walau pernah disakiti. Otak masih ingat rasa senang saat mantan baik lagi setelah bertengkar. Otak juga bisa cuma mengingat hal manis dan lupa hal buruk. Karena itu, orang bisa berhenti melihat pesan atau media sosial mantan, lalu ingat lagi kenyataan yang pernah terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sudah berkali-kali dibohongi, disakiti secara emosional, atau bahkan dikhianati, tapi anehnya pikiran tetap saja tertuju pada mantan kekasih? Secara logika, logisnya kita harus membenci dan menjauh dari orang yang sudah memberi luka mendalam. Namun pada kenyataannya, melepaskan seseorang yang toxic justru sering kali terasa puluhan kali lebih berat.

Kondisi ini bukanlah tanda bahwa kamu lemah atau bucin tak tertolong! Ada penjelasan ilmiah dan mekanisme psikologis yang sangat kompleks di balik fenomena ini. Yuk, bedah alasan psikologis kenapa otak kita susah move on dari mantan meski sudah disakiti!

1. Ketergantungan Dopamin dan Fase Withdrawal Otak

Ilustrasi susah move on (freepik.com/freepik)

Penelitian psikologi berbasis pemindaian otak fMRI menunjukkan bahwa melihat foto mantan kekasih yang pernah memberi luka akan mengaktifkan area otak yang sama persis dengan adiksi zat terlarang dan rasa sakit fisik.

Dalam hubungan yang tidak stabil, momen-momen bahagia setelah pertengkaran (makeup phase) akan memicu lonjakan hormon dopamin dalam jumlah besar. Ketika hubungan berakhir, otak mengalami fase sakau (withdrawal). Pikiran bawah sadarmu sebenarnya bukan merindukan rasa sakit yang dirasakan, melainkan merindukan "dosis" dopamin instan dari sosok tersebut.

2. Perangkap Intermittent Reinforcement (Efek Mesin Judi)

ilustrasi pria yang belum move on secara emosional (unsplash.com/Ben White)

Jika mantan kekasihmu dulu memiliki sifat hot-and-cold—sebentar sangat menyayangi, lalu mendadak dingin dan kasar—kamu telah terjebak dalam mekanisme psikologis bernama intermittent reinforcement.

Mekanisme ini bekerja persis seperti mesin judi slot. Karena tidak pernah tahu kapan akan mendapatkan validasi atau kasih sayang lagi, otak menjadi sangat terobsesi untuk mengejar "hadiah" tersebut. Saat hubungan kandas, pikiranmu tetap tertahan karena selalu menunggu keajaiban bahwa sosok yang hangat itu akan kembali.

3. Sunk Cost Fallacy (Rasa Sayang pada Investasi Emosi)

ilustrasi susah move on (pexels.com/ Timur Weber)

Sunk cost fallacy adalah bias kognitif saat seseorang enggan melepaskan sesuatu hanya karena sudah menginvestasikan banyak hal ke dalamnya, meskipun hasilnya sudah terbukti buruk.

Kamu terus teringat pada durasi tahun yang dihabiskan, pengorbanan, dan energi emosional yang telah dicurahkan untuk mempertahankan hubungan. Otakmu membisikkan pesan keliru: "Kalau aku menyerah sekarang, semua perjuangan dan rasa sakit kemarin jadi sia-sia." Padahal, bertahan hanya akan menambah kerugian yang baru.

4. Trauma Bond dan Penyaringan Kenangan Semu

ilustrasi wanita sedang berusaha move on (pexels.com/Doci)

Ketika seseorang menyakitimu lalu dengan cepat datang menghiburmu kembali, situasi ini membentuk ikatan emosional toksik yang sangat kuat (trauma bond).

Di saat bersamaan, otak mengaktifkan mekanisme pertahanan diri yang secara selektif menghapus kenangan buruk dan hanya memutar ulang memori-memori manis. Kondisi ini membuat sosok mantan terlihat sangat ideal secara fiktif di dalam ingatan, padahal kenyataannya tidak seindah itu.

Trik Psikologis untuk Memutus Lingkaran Move On

ilustrasi belum bisa move on (unsplash.com/Declan Sun)

  • Terapkan No-Contact Secara Ketat

    • Setiap kali kamu mengintip media sosialnya atau membaca pesan lama, jam penyesuaian kimiawi di otakmu akan terhitung ulang dari hari pertama.

  • Tulis "Daftar Realita"

    • Buat daftar jujur berisi seluruh perilaku buruk, kebohongan, dan rasa sakit yang pernah dia perbuat. Baca daftar ini setiap kali pikiranmu mulai meromantisasi masa lalu.

  • Cari Validasi dari Diri Sendiri

    • Pahami bahwa keinginan kembali sering kali hanyalah bentuk harapan untuk mendapatkan akhir cerita yang berbeda. Closure atau kedamaian sejati datang dari penerimaan dirimu sendiri, bukan dari orang yang merusakmu.

usah move on dari orang yang menyakiti bukanlah bukti bahwa dia adalah jodoh sejatimu, melainkan sinyal bahwa otakmu sedang berjuang melepaskan diri dari adiksi emosional. Memahami alur psikologis ini adalah langkah awal yang sangat penting untuk mulai menyembuhkan diri.

Pernah terjebak di fase rasa sakit yang sama saat berusaha melupakan mantan? Yuk, bagikan pengalamanmu di kolom komentar!

Curated For You

Editorial Team

Related Article