Arti Hari Meninggal Menurut Primbon Jawa, Tibo Gunung hingga Guntur

- Primbon Jawa menggunakan perhitungan weton dan neptu untuk menentukan makna hari meninggal seseorang, sebagai panduan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.
- Rumusnya menjumlahkan nilai neptu hari Masehi dan pasaran Jawa, lalu dibagi empat; sisa hasil pembagian menentukan kategori Tibo Gunung, Segoro, Asat, atau Guntur.
- Setiap kategori memiliki makna simbolis berbeda—dari kemuliaan hingga ujian batin—yang menjadi pedoman keluarga dalam berdoa dan melaksanakan upacara selamatan.
Surakarta, IDN Times — Dalam kebudayaan masyarakat Jawa traditional, lingkaran kehidupan manusia mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian tidak pernah lepas dari perhitungan weton dan neptu. Saat seseorang mengembuskan napas terakhir, keluarga biasanya akan menghitung pembagian neptu dari hari wafatnya almarhum atau almarhumah.
Bukan bertujuan untuk meramal takdir akhirat, perhitungan yang bersumber dari kitab Primbon Jawa Betaljemur Adammakna ini digunakan sebagai panduan psikologis dan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan. Melalui hitungan ini, pihak keluarga bisa mengambil sikap terbaik dalam menggelar upacara keselamatan (selamatan/tahlilan) agar jalannya arwah menuju keabadian berlangsung damai.
Penasaran bagaimana cara menghitung dan apa saja maknanya? Yuk, simak ulasan lengkapnya dalam tiga poin listicle di bawah ini!
1. Daftar Nilai Neptu Hari Masehi dan Pasaran Jawa

Sebelum masuk ke rumus perhitungan, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah mengetahui nilai neptu dari hari masehi dan hari pasaran Jawa saat seseorang meninggal dunia. Berikut adalah rincian nilainya:
Hari Masehi:
Minggu: 5
Senin: 4
Selasa: 3
Rabu: 7
Kamis: 8
Jumat: 6
Sabtu: 9
Hari Pasaran Jawa:
Kliwon: 8
Legi: 5
Pahing: 9
Pon: 7
Wage: 4
2. Rumus dan Cara Menghitung Sisa Pembagian Kematian

Setelah mengetahui nilai neptunya, kamu bisa langsung mengaplikasikannya ke dalam rumus pembagian 4. Caranya sangat sederhana, ikuti langkah berikut:
Langkah 1: Jumlahkan nilai Neptu Hari Masehi dengan Neptu Pasaran Jawa tempat hari kematian.
Langkah 2: Hasil penjumlahan tersebut kemudian dibagi dengan angka 4.
Langkah 3: Perhatikan sisa dari hasil pembagian tersebut. Angka sisa inilah (1, 2, 3, atau 4) yang akan menentukan kategori hari meninggalnya almarhum.
Catatan Penting: Jika hasil pembagian habis tanpa sisa (sisa 0), maka otomatis dihitung sebagai sisa 4.
3. Empat Kategori Arti Hari Meninggal dan Firasatnya bagi Keluarga

Berdasarkan sisa hasil pembagian dengan angka 4 di atas, berikut adalah arti dan makna mendalam dari masing-masing kategori menurut Primbon Jawa:
Sisa 1: Tibo Gunung (Gunung)
Makna: Melambangkan kedudukan yang tinggi, kokoh, dan dihormati. Mendiang dipercaya mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya.
Firasat Keluarga: Keluarga yang ditinggalkan diprediksi akan mendapatkan kemudahan rezeki, kekuatan batin untuk bangkit dari kesedihan, serta derajat keluarga akan terangkat di kemudian hari.
Sisa 2: Tibo Segoro (Samudra/Laut)
Makna: Menggambarkan keluasan, keikhlasan, dan pengampunan. Arwah yang meninggal pada hari ini diartikan membawa energi kedamaian karena semasa hidup dikenal sebagai pribadi pemaaf dan sabar.
Firasat Keluarga: Rezeki dan keberkahan bagi keluarga akan mengalir luas bak samudra, serta mendapatkan banyak simpati dan bantuan dari orang sekitar selama masa berkabung.
Sisa 3: Tibo Asat (Kering/Surut)
Makna: Melambangkan adanya rintangan spiritual. Menjadi pengingat bahwa mendiang mungkin masih memiliki urusan duniawi, janji, atau utang-piutang yang belum selesai.
Firasat Keluarga: Pihak keluarga diimbau untuk segera membereskan sisa urusan atau utang almarhum. Kategori ini juga mengingatkan keluarga untuk memperbanyak doa, sedekah jariah, dan selamatan secara tulus.
Sisa 4: Tibo Guntur (Petir)
Makna: Mengindikasikan sebuah kejutan, kedukan mendalam, atau proses kepergian yang terbilang mendadak (seperti kecelakaan atau sakit yang tiba-tiba).
Firasat Keluarga: Sering kali meninggalkan rasa syok yang berat bagi keluarga. Primbon menyarankan agar keluarga mempertebal rasa ikhlas, menghindari ratapan berlebihan, dan fokus memohonkan doa keselamatan.
Warisan leluhur berupa perhitungan Tibo Gunung, Segoro, Asat, dan Guntur ini sejatinya tidak dipakai untuk menghakimi nasib akhir seseorang. Anggaplah ini sebagai media refleksi agar kita yang masih hidup bisa terus mengirimkan doa-doa terbaik bagi mereka yang sudah mendahului kita.

















