Banyak yang Gak Tahu! Ini Alasan Puncak Yaa Qowiyyu di Jatinom Selalu Hari Jumat

- Puncak tradisi sebaran apem Yaa Qowiyyu di Jatinom digelar setelah Salat Jumat karena Jumat diyakini sebagai hari penuh keberkahan dan doa mustajab.
- Pada masa Ki Ageng Gribig, Salat Jumat di Masjid Besar Jatinom menjadi momen berkumpul warga dan musafir sebelum doa bersama serta pembagian apem.
- Apem dikaitkan dengan afwun atau permohonan ampun; tradisi ini mempertahankan doa Yaa Qowiyyu dan pakem Jumat Legi atau Jumat Pahing pertengahan Sapar.
Klaten, IDN Times — Tradisi sebaran apem Yaa Qowiyyu di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, selalu sukses memikat puluhan ribu pengunjung setiap tahunnya. Berada di tengah riuh ribuan warga yang bersiap berebut apem dari atas menara oro-oro Tarwiyah, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa puncak tradisi sakral ini selalu digelar pada hari Jumat, tepat setelah ibadah Salat Jumat?
Ternyata, penetapan waktu puncak ritual peninggalan ulama besar abad ke-17, Ki Ageng Gribig, ini memiliki alasan historis, filosofis, dan spiritual yang sangat mendalam.
Yuk, intip alasan di balik pemilihan hari Jumat sehabis Salat Jumat untuk Puncak Yaa Qowiyyu ala IDN Times berikut ini, Lur!
1. Momen Keberkahan Hari Jumat (Sayyidul Ayyam)

Secara historis, Ki Ageng Gribig merupakan seorang ulama penyebar agama Islam yang sangat dihormati di wilayah Jatinom dan sekitarnya. Pemilihan hari Jumat di pertengahan bulan Sapar bukan sekadar kebetulan, melainkan meminjam keberkahan Sayyidul Ayyam (pemimpin/raja dari semua hari) dalam ajaran Islam.
Ki Ageng Gribig ingin agar tradisi berbagi kebaikan dan memohon doa keselamatan bagi rakyat dilakukan pada hari terbaik yang diyakini penuh ijabah doa.
2. Waktu Kumpul Utama Jamaah dan Warga

Pada masa awal tradisi ini dimuliakan, sarana komunikasi tentu belum secanggih sekarang. Ibadah Salat Jumat berjamaah di Masjid Besar Jatinom menjadi titik temu alami tempat berkumpulnya seluruh warga desa dan para musafir dari berbagai daerah.
Setelah menunaikan kewajiban Salat Jumat bersama-sama, Ki Ageng Gribig memanfaatkan momen hangat tersebut untuk mengumpulkan jamaah di halaman/oro-oro masjid, memanjatkan doa bersama, lalu membagikan oleh-oleh kue apem yang dibawanya usai pulang dari Tanah Suci Mekkah.
3. Filosofi Doa 'Yaa Qowiyyu' dan Kata Afwun

Kata "apem" sendiri dipercaya diserap dari kata dalam bahasa Arab, yaitu afwun, yang berarti permohonan ampunan atau maaf.
Sembari membagikan apem yang jumlahnya terbatas kepada jamaah seusai Salat Jumat, Ki Ageng Gribig melantunkan doa memohon kekuatan:
"Yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warsuqna wal muslimiin..."
(Ya Tuhan Yang Mahakuat, Ya Tuhan Yang Mahaperkasa, berikanlah kekuatan dan rezeki kepada kami dan kaum muslimin).
Doa keselamatan ini menjadi inti dari syiar dakwah Ki Ageng Gribig agar masyarakat saling memaafkan dan tetap teguh memegang iman.
4. Konsistensi Menjaga Pakem Tradisi Ratusan Tahun

Hingga saat ini, panitia pengelola Pengasihan Makam Ki Ageng Gribig (P3MKAG) dan masyarakat Jatinom terus berkomitmen mempertahankan pakem sejarah tersebut tanpa pernah menggeser harinya.
Meskipun zaman berkembang dan hari puncak bisa jatuh di tengah pekan kerja, puncak penyebaran kue apem seberat berkuintal-kuintal tetap wajib dilaksanakan pada Jumat Legi atau Jumat Pahing di pertengahan bulan Sapar, tepat ketika salam penutup Salat Jumat dikumandangkan dan para jamaah melangkah keluar dari masjid.



















