Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Banyak yang Nggak Sadar! Alasan Nama Kampung di Solo Berakhiran 'An'
Keraton Surakarta Hadiningrat. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Nama kampung kuno di Solo yang berimbuhan pe-/-an atau berakhiran -an merupakan jejak tata ruang dan strata sosial Keraton Kasunanan Surakarta sejak abad ke-18.
  • Banyak nama kawasan menandai profesi abdi dalem atau kediaman bangsawan, patih, dan pangeran, seperti Pengapitan, Kemlayan, Mangkubumen, Danukusuman, serta Kepatihan.
  • Pada masa kolonial, akhiran -an juga dipakai untuk zona etnis pendatang dan penanda lingkungan atau fungsi lahan, seperti Pearaban, Pecinan, Karangasem, dan Kestalan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
abad ke-18

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membentuk pola penamaan kampung sebagai bagian dari pembagian tata ruang kota dan strata sosial.

1745 Masehi

Pada masa awal pemindahan Keraton Mataram Islam ke Desa Sala, sejumlah nama kampung diadaptasi dari kondisi vegetasi dan fungsi kawasan.

era pemerintahan kerajaan

Pemukiman di sekitar keraton dibagikan kepada abdi dalem berdasarkan tugas dan keahlian mereka. Nama kawasan memakai imbuhan pe-/-an sebagai penanda tempat tinggal atau area tugas.

masa kolonial Belanda

Pemerintah kolonial dan pihak keraton menerapkan wijkenstelsel yang mengelompokkan etnis pendatang ke zona pemukiman tertentu, seperti Pearaban dan Pecinan.

kini

Pola penamaan kampung berakhiran -an tetap lestari sebagai warisan sejarah dan identitas kebudayaan Kota Solo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Nama banyak kampung kuno di Surakarta menggunakan imbuhan pe-/-an atau akhiran -an sebagai penanda sejarah fungsi kawasan, profesi abdi dalem, kediaman bangsawan, pemukiman etnis, serta kondisi alam.
  • Who?
    Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, abdi dalem, pangeran, bangsawan, prajurit, masyarakat keturunan Arab dan Tionghoa, serta pemerintah kolonial Belanda terkait dengan pembentukan sejumlah nama kawasan.
  • Where?
    Di Kota Surakarta atau Solo, terutama kampung-kampung di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta, Pasar Kliwon, kawasan Pasar Gede, Keprabon, dan wilayah pemukiman lama lainnya.
  • When?
    Pola penamaan berkembang sejak pembentukan tata ruang oleh Keraton Kasunanan Surakarta pada abad ke-18, termasuk saat pemindahan Keraton Mataram Islam ke Desa Sala pada 1745, lalu berlanjut pada masa kolonial.
  • Why?
    Nama kawasan digunakan untuk menandai tempat tinggal dan tugas kelompok abdi dalem, kediaman tokoh keraton, pengelompokan etnis pendatang, serta kondisi vegetasi atau fungsi lahan setempat.
  • How?
    Keraton membagi pemukiman menurut jabatan dan keahlian, kemudian nama tokoh atau fungsi kawasan dilekatkan pada wilayah. Pada masa kolonial, wijkenstelsel mengelompokkan pendatang ke zona pemukiman tertentu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Solo, banyak nama kampung berakhir “an” karena dulu keraton mengatur tempat tinggal orang. Ada kampung untuk pekerja raja, penari, penjaga gajah, dan pedagang. Ada juga untuk pangeran dan keluarga mereka. Zaman Belanda, orang Arab dan Tionghoa tinggal di tempat tertentu. Nama-nama itu masih ada sampai sekarang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Nama-nama kampung di Solo memperlihatkan bahwa jejak sejarah dapat tetap hidup dalam ruang sehari-hari. Dari profesi abdi dalem, kediaman bangsawan, hingga kondisi alam, toponimi tersebut merekam tata kota yang sistematis sekaligus memperkaya identitas budaya Surakarta melalui warisan penamaan yang masih lestari.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surakarta, IDN Times — Saat melancong ke Kota Surakarta (Solo), kamu mungkin sering menemukan nama-nama wilayah pemukiman yang terdengar unik, seperti Kepatihan, Mangkubumen, Danukusuman, Pajang, atau Kemlayan. Bila dicermati lebih mendalam, sebagian besar kampung kuno di Solo diapit oleh imbuhan pe-/-an atau diakhiri dengan sufiks -an.

Keberadaan struktur penamaan ini bukanlah tanpa alasan. Pola tersebut merupakan jejak pembagian tata ruang kota dan penataan strata sosial yang dibentuk oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sejak abad ke-18.

Berikut rahasia sejarah tersembunyi di balik maraknya nama kampung berakhiran -an di Kota Solo:

1. Toponimi Berdasarkan Profesi Abdi Dalem Keraton

Tradisi Grebeg Besar di Keraton Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey)

Pada era pemerintahan kerajaan, pemukiman di sekeliling area Keraton Kasunanan Surakarta dibagikan kepada para abdi dalem (pegawai kerajaan) sesuai dengan tugas dan bidang keahliannya masing-masing. Penambahan imbuhan pe-/-an menjadi simbol penanda tempat tinggal atau area tugas kelompok tersebut.

Pengapitan: Berasal dari kata apit, yakni area pemukiman bagi para abdi dalem pengapit atau pengawal pribadi raja.

Gayam: Berasal dari kata gayam, yaitu kawasan tempat tinggal bagi para pengurus dan penjaga pakan gajah milik keraton.

Kemlayan: Berasal dari kata mlayu/laju atau melaya, merupakan pemukiman khusus para penari dan seniman musik tradisional (niyaga) keraton.

Pasar Kliwon: Pemukiman bagi para juru tawar dan penanggung jawab aktivitas perdagangan pada hari pasaran Kliwon.

2. Wilayah Kediaman Para Pangeran dan Bangsawan

Keraton Surakarta (https://jatengprov.go.id/)

Selain profesi, tata nama kampung juga mengacu pada nama tokoh bangsawan, pejabat tinggi (patih), atau pangeran yang memimpin kawasan tersebut. Tempat tinggal sang tokoh biasanya dikelilingi oleh tempat tinggal prajurit, pengikut, dan abdi dalemnya.

Mangkubumen: Kawasan kediaman Pangeran Mangkubumi beserta keluarga dan pengikutnya.

Danukusuman: Pemukiman tempat tinggal keturunan Kanjeng Raden Adipati Danureja (Patih Keraton).

Kepatihan: Pusat kediaman resmi dan perkantoran Patih (Perdana Menteri) Keraton Surakarta.

Brotonegaran: Kawasan pemukiman yang dipimpin oleh Raden Mas Harya Brotonegoro.

3. Penanda Zona Pemukiman Etnis Pendatang (Wijkenstelsel)

Kawasan Kelurahan Baluwarti, Pasar Kliwon, Solo. (IDN Times/Larasati Rey)

Memasuki masa kolonial Belanda, diterbitkan kebijakan tata ruang berbasis pemisahan etnis yang dikenal dengan istilah wijkenstelsel. Pemerintah kolonial bersama pihak keraton mengelompokkan etnis pendatang dalam zona tertentu yang namanya diberi akhiran -an.

Pearaban: Kawasan pemukiman yang dikhususkan bagi masyarakat keturunan Arab di wilayah Pasar Kliwon.

Pecinan: Pemukiman khusus warga keturunan Tionghoa yang dipusatkan di sekitar kawasan perdagangan Pasar Gede hingga Keprabon.

4. Penanda Kondisi Alam dan Fungsi Kawasan

Kawasan Baluwarti, Pasar Kliwon. (IDN Times/Larasati Rey)

Sebagian penamaan kampung juga diadaptasi dari kondisi vegetasi lingkungan atau peruntukan lahan pada masa awal pemindahan Keraton Mataram Islam ke Desa Sala pada 1745 Masehi.

Karangasem: Wilayah yang pada masa lampau didominasi oleh rimbunan pohon asam jawa.

Kestalan: Berasal dari penyerapan bahasa Belanda pe-stal-an (dari kata stal), yaitu area yang difungsikan sebagai kandang armada kuda milik tentara kolonial atau prajurit kerajaan.

Sistem penamaan berbasis toponimi ini membuktikan betapa tertata dan sistematisnya perencanaan tata kota Surakarta pada masa lampau. Penamaan tersebut hingga kini tetap lestari sebagai warisan sejarah yang memperkaya identitas kebudayaan Kota Solo.

Curated For You

Editorial Team

Related Article