Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Mitos Sesat Pembangkit Listrik Panas Bumi yang Sering Dipercaya Emak-emak di Grup WA

Kota Semarang
4 Mitos Sesat Pembangkit Listrik Panas Bumi yang Sering Dipercaya Emak-emak di Grup WA
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) atau Geothermal di Banjarnegara. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Pengeboran PLTP berada pada kedalaman 1.500–3.000 meter di reservoir, jauh dari kantong magma 5.000–10.000 meter, sehingga tidak memicu letusan gunung berapi.
  • Uap putih dari cooling tower disebut sebagai uap air murni; PLTP tidak membakar bahan bakar fosil sehingga tidak menghasilkan asap hitam, karbon monoksida, atau abu beracun.
  • PLTP memakai siklus tertutup dengan reinjeksi air ke reservoir batuan keras, terpisah dari akuifer warga, untuk menjaga tekanan tanah dan memantau risiko ambles.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah merasa pusing saat membuka grup WhatsApp keluarga dan menemukan unggahan pesan berantai yang menakut-nakuti soal proyek energi di sekitar daerah pegunungan? Berita bohong (hoax) yang dibumbui narasi bombastis memang kerap memicu kepanikan salah sasaran di tengah masyarakat.

Salah satu topik yang paling sering diterpa isu miring adalah keberadaan Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP). Biar kamu tidak ikut termakan kabar simpang siur, yuk bedah fakta ilmiah di balik empat mitos populer soal panas bumi berikut ini!

  1. 1. Mitos PLTP Pemicu Gunung Berapi Meletus

    Warga memanen kentang di sekitar areal instalasi sumur geothermal atau panas bumi untuk Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi (PLTP) PT Geo D
    Warga memanen kentang di sekitar areal instalasi sumur geothermal atau panas bumi untuk Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi (PLTP) PT Geo Dipa Energi di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (30/8/2026). (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)

    Pesan berantai di grup keluarga sering menyebut bahwa pengeboran geothermal bisa membuat gunung berapi "bocor" dan memicu letusan dahsyat. Padahal secara fakta ilmiah, pengeboran PLTP hanya dilakukan di kedalaman 1.500 hingga 3.000 meter untuk mengambil air panas di lapisan batuan (reservoir).

    Sementara itu, posisi kantong magma aktif berada jauh lebih dalam di perut bumi, yaitu di atas kedalaman 5.000 hingga 10.000 meter. Alih-alih memicu letusan, proses pelepasan tekanan uap alami melalui sumur pengeboran justru membantu mengurangi risiko akumulasi tekanan berlebih di bawah tanah.

  2. 2. Mitos Asap Putih Cerobong Adalah Racun Berbahaya

    Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau Geothermal di Banjarnegara. (IDN Times/Dhana Kencana)
    Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau Geothermal di Banjarnegara. (IDN Times/Dhana Kencana)

    Tampilan asap putih tebal yang keluar dari fasilitas geothermal sering kali dituduh sebagai gas polusi beracun yang merusak saluran pernapasan. Faktanya, gumpalan putih yang keluar dari cooling tower tersebut adalah 100% uap air murni, sama seperti uap yang keluar saat memanaskan air di dapur.

    Operasi PLTP sama sekali tidak memicu pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara atau minyak bumi. Hal ini membuat pembangkit panas bumi tidak menghasilkan asap hitam, emisi karbon monoksida, maupun abu beracun, sehingga kualitas udara di sekitar kawasan tetap bersih dan segar.

  3. 3. Mitos Pengeboran Memuat Sumur Air Warga Kering

    Proyek PLTP Hululais Unit 1 & 2 di Bengkulu, bagian dari strategi ekspansi 1 GW PGEO.
    Ilustrasi proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) di Bengkulu. Proyek ini adalah bagian dari strategi quick win PGEO untuk mencapai kapasitas mandiri 1 GW. (Dok. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO))

    Isu lain yang kerap memicu keresahan adalah anggapan bahwa proyek panas bumi menyedot habis cadangan air tanah warga. Faktanya, PLTP mengusung sistem siklus tertutup (closed-loop system). Air panas yang ditarik dari dalam bumi dipisahkan uapnya untuk memutar turbin, lalu air sisa tersebut langsung di-reinjeksi kembali ke dalam perut bumi.

    Selain itu, sumber air yang dimanfaatkan PLTP berada di kedalaman ribuan meter. Kedalaman ini berbeda total dengan lapisan air tanah dangkal (akuifer) milik sumur bor rumah tangga warga yang umumnya hanya berada di kedalaman 20 hingga 100 meter.

  4. 4. Mitos Perut Bumi Kosong Hingga Tanah Ambles

    Pertamina Geothermal catat kenaikan laba bersih di 2022.
    Dok. Pertamina Geothermal

    Tidak sedikit narasi di media sosial yang menyamakan proyek panas bumi dengan bencana semburan lumpur liar yang membuat struktur tanah ambles. Anggapan ini keliru karena karakteristik batuan reservoir geothermal terdiri dari batuan beku yang sangat keras dan padat, bukan lapisan tanah lunak.

    Proses reinjeksi air yang dilakukan secara terus-menerus berfungsi menjaga kestabilan tekanan di dalam reservoir. Risiko penurunan permukaan tanah (subsidence) tergolong sangat kecil dan selalu dipantau secara ketat menggunakan sensor seismik digital selama 24 jam non-stop.

    Memahami fakta ilmiah di balik teknologi Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) membantu kita terhindar dari disinformasi yang meresahkan di ruang digital.

    Apakah kamu pernah menemukan salah satu mitos di atas beredar di grup WhatsApp keluarga kamu? Tulis pengalaman kamu di kolom komentar ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More