Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Baru Kena PHK? Ini 5 Taktik Psikologis Atasi Depresi dan Overthinking
Aksi buruh saat terjadi PHK massal di Jawa Tengah (Sumber: ANTARA News.)
  • Merasakan depresi dan duka setelah kehilangan pekerjaan adalah hal yang sangat normal; jinakkan isi kepalamu dengan menjadwalkan 15–20 menit "Waktu Khawatir" setiap harinya.

  • Lawan tarikan "depresi kamar" dengan memaksa tubuh tetap bangun pagi, memisahkan zona aktivitas, dan segera menghitung batas waktu tabungan lewat audit finansial.

  • Terapkan prinsip satu hari satu progres agar mental tidak habis terbakar, serta lakukan puasa media sosial dari unggahan pencapaian karier orang lain.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendapati layar laptop mendadak menampilkan surat pemutusan hubungan kerja, atau menerima panggilan HRD yang mengakhiri masa baktimu di perusahaan rasanya memang seperti dihantam gelombang pasang. Ada rasa kosong, cemas yang luar biasa, hingga kepalamu mendadak dipenuhi ribuan skenario horor soal bagaimana caramu menyambung hidup bulan depan.

Validasi perasaanmu sekarang. Merasakan depresi dan overthinking pasca kehilangan pekerjaan adalah respons berduka yang sangat wajar karena kamu baru saja kehilangan tiga hal besar sekaligus: rutinitas harian, stabilitas finansial, dan identitas profesional. Namun, jangan biarkan duka ini menelan kamu terlalu lama. Biar kewarasanmu tetap terjaga di masa transisi yang rapuh ini, yuk praktikkan lima pertolongan pertama secara psikologis berikut ini!

1. Jinakkan Isi Kepala Lewat "Waktu Khawatir"

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Otak manusia punya kecenderungan menyiksa pemiliknya dengan terus memutar skenario terburuk jika dibiarkan tanpa kendali. Alih-alih melawannya sepanjang hari, ambillah kendali tersebut menggunakan teknik penjadwalan psikologis: tetapkan 15 hingga 20 menit setiap hari (misalnya tepat jam 4 sore) sebagai "Waktu Khawatir".

Pada jam yang sudah diketuk palu tersebut, tumpahkan seluruh ketakutan dan cemasmu ke dalam tulisan di atas kertas, bukan cuma dipendam di kepala. Menulis memaksa otak melihat masalah secara jauh lebih objektif dan berjarak. Begitu jam 4.20 lewat, tutup buku itu. Jika pikiran buruk mendadak menyerangmu saat sarapan atau tengah malam, katakan dengan tegas pada dirimu sendiri: "Stop, saya baru boleh memikirkan kiamat kecil ini nanti jam 4 sore," lalu segera alihkan perhatianmu ke aktivitas lain.

2. Atur Ulang Zona dan Cegah "Depresi Kamar"

ilustrasi depresi (IDN Times/Aditya Pratama)

Gelombang depresi sering kali membisikkan rayuan maut agar kamu terus berbaring menatap langit-langit kamar sepanjang hari. Padahal, rebahan pasif ini adalah jebakan mematikan yang makin merusak suasana hati. Lawan tarikan kasur ini dengan tetap bangun pagi dan mandi pada jam yang sama seperti saat kamu masih berstatus karyawan.

Aturan krusial berikutnya: pisahkan zona aktivitas. Haram hukumnya mencari lowongan kerja, mengedit portofolio, atau meratapi sisa saldo m-banking di atas kasur! Jadikan kasur murni sebagai area suci untuk tidur. Sembari membangun rutinitas baru, paksa dirimu keluar rumah untuk jalan kaki pagi selama 15 menit. Kombinasi paparan sinar matahari dan gerak fisik terbukti memicu produksi hormon endorfin yang bekerja sebagai obat penenang dan penurun stres alami.

3. Lakukan Audit Angka (Financial Audit)

Ilustrasi pengangguran dan PHK (IDN Times/Arief Rahmat)

Bakar bahan bakar terbesar dari kecemasanmu: ketidakpastian masa depan. Satu-satunya cara mematikan rasa cemas soal uang adalah dengan duduk tegak dan menatap langsung angka-angkanya di atas kertas. Lakukan penghitungan "napas keuangan" dengan menjumlahkan seluruh sisa tabungan, pesangon, dan dana darurat yang kamu pegang hari ini.

Setelah angkanya terkumpul, pangkas habis seluruh biaya variabel. Hentikan sementara langganan aplikasi streaming film, pangkas jatah jajan kopi kekinian, dan mulailah memasak sendiri. Tujuan utama dari audit ini adalah menemukan satu angka sakti: batas waktu. Begitu kamu tahu secara presisi bahwa uangmu masih aman untuk bertahan hidup selama 4 bulan ke depan, otakmu otomatis berhenti menebak-nebak dan mulai bermanuver tenang mencari kerja sebelum deadline tersebut tiba.

4. Terapkan Prinsip "Satu Hari, Satu Progres"

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Membuka situs pencari kerja dan langsung dihadapkan pada ratusan kriteria lowongan bisa memicu rasa overwhelming (kewalahan yang melumpuhkan). Jangan mencoba menyulap dirimu menjadi pahlawan super yang ingin menyelesaikan semua urusan lamaran dalam tempo 24 jam.

Terapkanlah sistem pemecahan beban dengan fokus pada satu tindakan nyata per hari. Buatlah jadwal tematik: hari Senin khusus merombak CV dan portofolio, Selasa murni mengirim dua lamaran, Rabu mengambil kelas pelatihan gratis di internet, dan Kamis berjejaring. Metode micro-stepping ini memberikan otakmu asupan dopamin atas rasa "berhasil produktif", tanpa membuat kesehatan mentalmu habis terbakar.

5. Puasa Medsos dan Ingat Batas Nilai Diri

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Untuk sementara waktu, berikan dirimu izin untuk melakukan puasa media sosial. Tutup aplikasi seperti LinkedIn atau Instagram jika melihat unggahan promosi jabatan atau pencapaian karier orang lain justru memicu (trigger) rasa insecure yang menyayat hati. Dunia maya tidak sedang berlomba denganmu.

Tanamkan mantra ini kuat-kuat di kepalamu: kehilangan pekerjaan hanyalah sebuah fase hidup, bukan definisi penentu nilai dirimu sebagai seorang manusia. Kamu tetaplah individu yang berharga dengan atau tanpa ID card perusahaan yang menggantung di leher. Namun, jika duka ini terasa terlalu berat ditanggung sendiri hingga merusak jam tidur, nafsu makan hilang, atau muncul bisikan untuk menyakiti diri sendiri, jangan pernah ragu menjangkau bantuan profesional ke psikolog atau psikiater terdekat.

Masa pengangguran pasca-PHK bagaikan berada di ruang tunggu bandara; membosankan, penuh ketidakpastian, namun pesawatmu yang berikutnya pasti akan datang menjemput. Dengan mengelola jam cemas, menjaga tubuh tetap bergerak, dan memegang kendali angka finansial, kamu sedang mempersiapkan landasan pacu yang kokoh untuk lepas landas kembali.

Nah, dari kelima langkah pertolongan pertama di atas, bagian mana nih yang rasanya paling sulit kamu taklukkan saat sedang sendirian di kamar? Atau barangkali kamu punya cara coping mechanism andalan buat mengusir mendung di kepala? Yuk, saling menguatkan di kolom komentar!

Editorial Team

Related Article