Kades Mengaku Didatangi Orang-orang yang Mencari Informasi Tentang Sutrimo

- Desa Wlahar ramai didatangi pihak yang mencari informasi setelah pemakaman Sutrimo, pekerja yang ditemukan meninggal di rumah mantan Jampidsus Febrie Adriansyah.
- Kepala Desa Wlahar Narsim mengaku didatangi orang yang mengaku dari Polda dan dipanggil ke Polresta Banyumas, tanpa menjelaskan tujuan pemanggilan.
- Sutrimo disebut telah merantau sekitar 20 tahun dan jarang berbaur saat pulang; pemakamannya malam hari dihadiri hampir seluruh warga desa.
Banyumas, IDN Times – Suasana di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, berubah lebih ramai setelah pemakaman Sutrimo (42), pekerja yang ditemukan meninggal dunia di rumah mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Sejumlah pihak mulai berdatangan ke desa untuk mencari informasi terkait almarhum, Selasa (28/7/2026).Kades mengaku sempat didatangi orang yang mengaku petugas
Kepala Desa Wlahar, Narsim, mengatakan dalam beberapa hari terakhir ada sejumlah orang yang datang ke balai desa. Mereka memperkenalkan diri sebagai petugas dan meminta keterangan ringan terkait Sutrimo.
"Iya, kemarin ada beberapa orang mengaku dari Polda datang ke balai desa. Ya hanya ngobrol saja," ujar Narsim.
1. Kades diajak ke Polresta Banyumas

Tak hanya itu, pada Selasa (28/7/2026), Narsim juga mengaku mendapat panggilan ke Polresta Banyumas. Ia berada di sana hingga sore hari, meski enggan menjelaskan lebih jauh tujuan pemanggilan tersebut.
Menurutnya, sejak kabar meninggalnya Sutrimo mencuat, banyak orang datang untuk mencari informasi.
"Baru pulang dari Polresta. Pusing juga karena banyak yang tanya. Tadi saja sekitar tujuh orang datang minta keterangan," katanya.
2. Sutrimo sudah puluhan tahun merantau

Seorang warga yang tinggal di sekitar rumah keluarga Sutrimo mengaku mengenal sosok almarhum, meski tidak terlalu dekat. Hal itu karena Sutrimo lebih banyak menghabiskan waktunya di luar daerah untuk bekerja.
Menurut warga tersebut, Sutrimo diperkirakan telah merantau sekitar dua dekade, bahkan sejak sebelum menikah.
"Kenal, tapi tidak dekat. Orangnya memang jarang di rumah karena sudah lama merantau, mungkin sekitar 20 tahun. Kalau pulang juga lebih banyak diam," ujarnya.
Ia menambahkan, setiap pulang kampung Sutrimo hampir tidak pernah berbaur dengan warga. Aktivitasnya lebih sering duduk santai di teras rumah orang tuanya sebelum kembali bekerja.
3. Hampir seluruh warga ikut mengantar ke pemakaman

Warga juga mengaku bahwa jenazah Sutrimo tiba di Desa Wlahar sekitar pukul 22.00 WIB menggunakan ambulans. Setelah disalatkan, jenazah langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah keluarga.
Proses pemakaman berlangsung malam hari dan dihadiri hampir seluruh warga desa.
"Hampir semua warga ikut mengantar sampai pemakaman. Setelah itu saya pulang sampai rumah sekitar setengah satu dini hari," tutur warga tersebut.





















