SUN Perluas Bisnis ke Elektrifikasi Industri hingga Truk Listrik

- SUN menandai satu dekade dengan portofolio energi surya lebih dari 450 MW melalui 400 proyek di 40 sektor industri, lalu memperluas bisnis ke elektrifikasi terintegrasi.
- Ekspansi mencakup penyimpanan energi, kendaraan listrik, pengisian daya, sistem digital, serta pengelolaan armada; SUN juga mengembangkan pipeline PLTS lebih dari 40 MWp di Indonesia.
- Elektrifikasi armada dirancang sesuai operasional pelanggan; studi distributor FMCG Jabodetabek menunjukkan truk listrik berpotensi menghemat biaya energi 83,6 persen per perjalanan dalam kondisi tertentu.
Semarang, IDN Times – Perusahaan energi bersih SUN memasuki satu dekade perjalanan dengan portofolio pengembangan energi surya mencapai lebih dari 450 megawatt (MW) melalui lebih dari 400 proyek di 40 sektor industri.
1. Perluas bisnis ke sistem elektrifikasi terintegrasi
Perusahaan energi bersih SUN memperluas bisnis pada elektrifikasi armada industri hingga pengembangan PLTS terintegrasi. (dok. SUN) Tak berhenti pada pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), SUN kini memperluas bisnis ke sistem elektrifikasi terintegrasi, mulai dari penyimpanan energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya hingga sistem digital untuk pengelolaan energi dan armada.
Chief Customer Relations & Marketing Officer SUN, Oky Gunawan mengatakan, perluasan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan memasuki dekade berikutnya.
“Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing,” ungkapnya kepada media di Semarang, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, pengalaman mengembangkan energi surya akan menjadi fondasi bagi SUN untuk memperluas solusi elektrifikasi bagi sektor industri.
“Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” katanya.
2. SUN rambah elektrifikasi armada industri

Jajaran pimpinan SUN Energy merayakan HUT ke-10 di Kota Semarang, Jumat (18/9/2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Sejak berdiri pada 2016, SUN mengembangkan proyek energi surya di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand. Portofolionya mencakup sejumlah sektor, antara lain pertambangan, semen, FMCG, logistik, industri kertas dan kemasan, elektronik, komponen otomotif, serta farmasi.
Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek tersebut diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO2 per tahun. Angka tersebut oleh perusahaan disebut setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.
SUN juga memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp di sejumlah wilayah Indonesia yang masih berada dalam tahap pengembangan. Selain proyek PLTS, perusahaan memperluas peran sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mengembangkan aset energi bersih dalam jangka panjang.
Selanjutnya, salah satu fokus baru SUN adalah elektrifikasi armada industri. Perusahaan tidak hanya menawarkan kendaraan listrik, tetapi juga mengembangkan sistem yang mencakup infrastruktur pengisian daya, pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan hingga pemantauan armada melalui Fleet Management System.
3. Implementasi kendaraan listrik disesuaikan dengan perusahaan
Perusahaan energi bersih SUN memperluas bisnis pada elektrifikasi armada industri hingga pengembangan PLTS terintegrasi. (dok. SUN) CEO SUN Mobility, Karina Darmawan mengatakan, implementasi kendaraan listrik perlu disesuaikan dengan pola operasional masing-masing perusahaan.
“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” terangnya.
Dalam salah satu studi kasus pada distributor FMCG di Jabodetabek, SUN menghitung penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00–17.00 berpotensi menghemat biaya energi hingga 83,6 persen per perjalanan.
Perusahaan juga menghitung total biaya kepemilikan dan operasional dapat turun sekitar 15 persen. Namun, perhitungan tersebut didasarkan pada kondisi tertentu, yakni ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.
Pengembangan elektrifikasi SUN diarahkan terutama kepada sektor yang memiliki kebutuhan energi dan aktivitas operasional tinggi, seperti pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG.
4. SUN akan perkuat pengembangan aset energi bersih

Ilustrasi SUN Energy (https://sunenergy.id/) Untuk setiap implementasi, perusahaan mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kondisi medan, kebutuhan pengisian daya hingga ketersediaan energi di lokasi.
Selain elektrifikasi armada, SUN mengintegrasikan PLTS, sistem penyimpanan dan manajemen energi serta teknologi digital dalam solusi yang ditawarkan kepada pelanggan.
Perusahaan juga menyebut Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp. Potensi tersebut dinilai membuka ruang pengembangan PLTS untuk kebutuhan komersial, industri hingga proyek berskala besar.
SUN menyatakan akan memperkuat pengembangan aset energi bersih dan elektrifikasi pada dekade berikutnya dengan menggandeng pemerintah, regulator, PLN, asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, pemasok, dan EPC.




















