Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rutan Banyumas Gelar Salat Istisqa Minta Hujan di Tengah Kekeringan

Kab. Banyumas
3 min read
Rutan Banyumas Gelar Salat Istisqa Minta Hujan di Tengah Kekeringan
Para penghuni rutan Banyumas gelar sholat minta hujan, hal itu dilakukan akibat musim kering yang berkepanjangan di Banyumas, Jumat (18/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Kekeringan di Banyumas meluas ke 62 desa/kelurahan di 19 kecamatan dan berdampak pada sekitar 51.896 jiwa; BMKG menetapkan status Awas kekeringan meteorologis pada 11–20 September 2026.
  • Rutan Kelas IIB Banyumas menggelar Salat Istisqa pada 18 September 2026, diikuti warga binaan, pegawai, dan mahasiswa magang, menyusul berkurangnya ketersediaan sumber air.
  • Khutbah Salat Istisqa menekankan pentingnya mensyukuri air, bermuhasabah, memperbanyak istigfar dan taubat; pemerintah daerah masih menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Banyumas, IDN Times – Kekeringan yang melanda Kabupaten Banyumas turut dirasakan warga binaan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banyumas. Berkurangnya ketersediaan sumber air membuat kondisi kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi penghuni dan pengelola rutan.

Di tengah kondisi tersebut, Rutan Banyumas menggelar Salat Istisqa pada Jumat pagi (18/9/2026). Salat untuk memohon turunnya hujan itu diikuti warga binaan, pegawai rutan, hingga mahasiswa yang sedang menjalani kegiatan magang.

"Kegiatan tersebut menjadi ikhtiar spiritual sekaligus momentum untuk mengajak seluruh peserta melakukan introspeksi dan meningkatkan kepedulian terhadap nikmat air,"kata Karutan Banyumas Anggi Febiakto.

  1. 1. Kekeringan Banyumas berdampak hingga puluhan desa

    Infografis data BPBD Banyumas per 13 September 2026 tentang kekeringan di 62 desa/kelurahan, 19 kecamatan, dan 51.896 jiwa terdampak.
    Berdasarkan data BPBD Banyumas pada 13 September 2026, dampak kekeringan telah meluas ke 62 desa/kelurahan di 19 kecamatan, dengan sekitar 51.896 jiwa terdampak..(IDN Times/Infografis)

    Kegiatan Salat Istisqa digelar ketika kondisi kekeringan di Banyumas masih menjadi perhatian. Berdasarkan data BPBD Banyumas pada 13 September 2026, dampak kekeringan telah meluas ke 62 desa/kelurahan di 19 kecamatan, dengan sekitar 51.896 jiwa terdampak.

    Kondisi tersebut juga sejalan dengan peringatan BMKG. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menetapkan Banyumas dalam status Awas kekeringan meteorologis untuk periode 11–20 September 2026.

    Di Rutan Banyumas, berkurangnya sumber air turut dirasakan oleh warga binaan dan petugas. Kondisi itu kemudian menjadi salah satu latar belakang dilaksanakannya Salat Istisqa. Kepala Rutan Banyumas mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk menghadapi kondisi kekeringan.

    "Melalui Salat Istisqa ini, kami mengajak seluruh warga binaan, pegawai, dan mahasiswa magang untuk bersama-sama berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum bagi kita semua untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istigfar, dan meningkatkan ketakwaan,"ujarnya.

  2. 2. Air sering dianggap nikmat biasa

    Sejumlah anak bermain ceria di aliran sungai dangkal, menggambarkan air sebagai nikmat yang sering terasa biasa.
    Ustad Sufyan sebut air kadang dinggap sebagai nikmat biasa, namun diharapkan selalu saat kekeringan melanda, Jumat (18/9/2026).(IDN Times/Ilustrasi)

    Salat Istisqa berlangsung khidmat. Dalam khutbahnya, Ustadz Sufyan, S.Pd., mengingatkan peserta mengenai besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia.

    Salah satu nikmat yang kerap dianggap biasa adalah air. Padahal, ketika musim kemarau berkepanjangan terjadi, keberadaan air menjadi persoalan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

    Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena data BMKG menunjukkan kondisi curah hujan di Jawa Tengah pada awal September 2026 berada pada kategori rendah, sementara sebagian wilayah mengalami hari tanpa hujan dalam durasi panjang.

    Ustadz Sufyan mengajak peserta menjadikan kondisi kekeringan sebagai momentum untuk bermuhasabah. Fenomena alam tersebut diharapkan tidak hanya dilihat sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga menjadi pengingat untuk meningkatkan rasa syukur dan ketakwaan.

    Pesan tentang pentingnya menjaga kesadaran terhadap nikmat air juga memiliki konteks nyata di Banyumas. Pemerintah daerah masih melakukan penyaluran bantuan air bersih kepada wilayah yang terdampak kekeringan.

  3. 3. Istigfar dan Taubat Jadi Pesan Utama dalam Salat Istisqa

    Ustadz Sufyan menyampaikan kandungan QS Nuh ayat 10–11 tentang ajakan Nabi Nuh AS memohon ampun kepada Allah SWT.
    Ustadz Sufyan juga menyampaikan kandungan QS Nuh ayat 10–11 mengenai ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah SWT., Jumat (18/9/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

    Dalam khutbahnya, Ustadz Sufyan juga menyampaikan kandungan QS Nuh ayat 10–11 mengenai ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah SWT.

    Istigfar dan taubat menjadi bagian penting dari pesan yang disampaikan kepada para peserta. Hujan dalam konteks tersebut dipahami sebagai rahmat dan keberkahan yang diharapkan turun setelah manusia melakukan introspeksi serta memperbaiki diri.

    Salat Istisqa sendiri merupakan ibadah yang dilakukan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika terjadi kekeringan. Kementerian Agama juga menjelaskan tata cara pelaksanaan Salat Istisqa sebagai salah satu bentuk ibadah untuk memohon turunnya hujan.

    Bagi warga binaan Rutan Banyumas, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ritual keagamaan. Salat Istisqa juga menjadi ruang untuk bersama-sama berdoa, memperbanyak istigfar, bertaubat, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama di tengah keterbatasan air.


Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More