BBTF 2026: Pemprov Jateng Lobi 80 Buyer Asal Eropa Hingga Timteng

- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ikut dalam Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 untuk memperluas pasar internasional dan memperkuat promosi destinasi wisata unggulan daerah.
- Dalam ajang B2B, pelaku pariwisata Jateng melakukan sekitar 80 pertemuan bisnis dengan buyer dari Asia hingga Eropa, menampilkan konsep Java Experience yang menggabungkan Borobudur, Karimunjawa, Solo Raya, dan Semarang.
- Hasil BBTF 2026 diperkirakan membuka peluang ekonomi Rp24–80 miliar per tahun melalui potensi tambahan 1.600–4.000 wisatawan mancanegara yang tertarik pada wisata budaya dan berkelanjutan di Jawa Tengah.
Semarang, IDN Times - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperkuat promosi pariwisata di pasar internasional. Upaya tersebut dilakukan melalui partisipasi dalam Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Jawa Tengah memfasilitasi pelaku industri pariwisata daerah untuk mengikuti Travel Exchange (Travex), dan bertemu langsung dengan buyer dari berbagai negara.
Kepala Disbudparekraf Jawa Tengah, Hanung Triyono mengatakan, keikutsertaan dalam BBTF menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar internasional, sekaligus memperkuat promosi destinasi unggulan.
"BBTF merupakan platform yang efektif untuk mempertemukan pelaku industri pariwisata Jawa Tengah, dengan buyer internasional yang memiliki jaringan distribusi wisatawan di berbagai negara. Melalui ajang ini, kami ingin memperluas pasar, meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara, sekaligus membuka peluang kerja sama yang berkelanjutan, bagi pelaku usaha pariwisata daerah," ujar Hanung, Minggu (31/5/2026).
Dalam ajang business to business (B2B), seller asal Jawa Tengah tercatat melakukan sekitar 80 pertemuan bisnis dengan buyer dari berbagai negara, mulai Asia Tenggara, Asia Timur, Australia, Eropa, hingga Timur Tengah.
Menurut Hanung, sejumlah destinasi unggulan Jawa Tengah mendapat respons positif dari buyer internasional. Kawasan Borobudur, Karimunjawa, Solo Raya, dan Kota Semarang, menjadi destinasi yang paling banyak diminati.
"Bahkan ada buyer yang tertarik konsep Java Experience, yaitu paket wisata yang menggabungkan Borobudur, Karimunjawa, Solo Raya, dan Semarang dalam satu rangkaian perjalanan. Konsep ini menawarkan perpaduan wisata budaya, sejarah, gastronomi, bahari, dan pengalaman berbasis masyarakat, yang saat ini banyak dicari wisatawan mancanegara," jelasnya.
Daftar kawasan wisata unggulan di Jateng
Hanung menuturkan, kawasan Borobudur masih menjadi magnet utama karena menawarkan pengalaman wisata yang lengkap, mulai dari warisan budaya dunia, wisata spiritual, desa wisata, wisata minat khusus, hingga wellness tourism.
Sementara, Karimunjawa dinilai memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata bahari kelas dunia, dengan keindahan pantai, aktivitas snorkeling dan diving, serta pengalaman wisata kepulauan yang autentik dan berkelanjutan.
Di sisi lain, imbuhnya, Solo Raya menawarkan kekuatan pada sektor budaya dan heritage melalui keberadaan keraton, tradisi budaya Jawa, seni pertunjukan, batik, serta kuliner khas, yang menjadi daya tarik wisata berbasis pengalaman budaya.
Adapun Kota Semarang banyak diminati karena memadukan wisata sejarah, budaya, kuliner, dan perkotaan yang didukung aksesibilitas yang baik. Kawasan Kota Lama, wisata religi, serta potensi MICE, menjadi nilai tambah bagi pasar internasional.
Hanung menambahkan, hasil pertemuan bisnis selama BBTF 2026, juga membuka peluang ekonomi yang cukup besar bagi Jawa Tengah.
Dia memperkirakan, bila 20 persen buyer menindaklanjuti kerja sama pemasaran paket wisata Jawa Tengah, setidaknya akan ada 16 mitra buyer aktif yang memasarkan destinasi Jawa Tengah ke pasar internasional.
"Dengan asumsi setiap buyer dapat mengirimkan 100 hingga 250 wisatawan per tahun, maka potensi tambahan kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Tengah bisa mencapai 1.600 hingga 4.000 orang setiap tahun," katanya.
Menurut Hanung, dengan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara sebesar Rp15 juta hingga Rp20 juta per kunjungan, potensi perputaran ekonomi yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai Rp24 miliar hingga Rp80 miliar per tahun.
Dia optimistis peluang tersebut semakin terbuka, seiring meningkatnya tren wisata global yang mengedepankan aspek keamanan, keberlanjutan, dan pengalaman autentik.
"Jawa Tengah memiliki kekuatan pada warisan budaya, keindahan alam, serta wisata berbasis masyarakat. Melalui jaringan buyer yang terbangun dalam BBTF 2026, kami optimistis posisi Jawa Tengah sebagai salah satu destinasi unggulan Indonesia di pasar global akan semakin kuat," pungkas Hanung.

















