Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bekal Keuangan hingga Psikologis: Strategi Tekan Perceraian di Semarang

Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa memberikan materi manajemen keuangan keluarga saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa memberikan materi manajemen keuangan keluarga saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Intinya sih...
  • Program Bimbingan Perkawinan (Binwin) KUA Mijen menyentuh aspek vital seperti manajemen keuangan keluarga, kesehatan reproduksi, dan psikologi pernikahan.
  • Animo tinggi calon pengantin mendekati 100 persen dalam mengikuti program Binwin secara tatap muka maupun daring.
  • Calon pengantin merasakan manfaat langsung dari program ini, terutama dalam hal mental, manajemen konflik, nafkah, dan visi keluarga.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Menikah bukan sekadar momen ijab kabul dan pesta meriah. Di balik itu, terdapat tantangan besar dalam membangun bahtera rumah tangga yang kokoh. Menyadari hal tersebut, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mijen, Kota Semarang, gencar mengedukasi calon pengantin (catin) melalui program Bimbingan Perkawinan (Binwin).

Tidak hanya soal agama, bimbingan ini menyentuh aspek vital seperti manajemen keuangan keluarga, kesehatan reproduksi, hingga psikologi pernikahan. Langkah ini dinilai krusial sebagai upaya preventif menekan angka perceraian yang masih menjadi isu nasional.

1. Animo tinggi mendekati 100 persen

Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa memberikan materi manajemen keuangan keluarga saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa memberikan materi manajemen keuangan keluarga saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Kepala KUA Mijen, Muhammad Azmi Ahsan menjelaskan, bimbingan nikah tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan mandat pemerintah untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Ia bersyukur, kesadaran masyarakat di wilayah Mijen tergolong sangat tinggi.

"Animo masyarakat, terutama calon pengantin, luar biasa, mendekati angka 100 persen. Ada beberapa yang tidak bisa mengikuti karena kendala jarak, kita berikan solusi dengan bimbingan online melalui aplikasi yang sudah kami rintis," ungkap Azmi saat ditemui di kantornya.

Berdasarkan data tahun 2025 lalu, dari sekitar 439 pasang catin, tingkat partisipasinya mencapai lebih dari 85 persen secara tatap muka, dan sisanya mengikuti secara daring. Azmi mengatakan, pihaknya mewajibkan seluruh catin yang mendaftar di KUA Mijen untuk mengikuti program tersebut sebagai prasyarat proses pernikahan selanjutnya.

"Setiap Rabu kami selenggarakan secara reguler. Ini upaya preventif untuk mengurangi angka perceraian yang cukup besar di skala nasional," tegasnya.

Untuk diketahui, angka perceraian di Semarang menunjukkan tren yang meningkat. Catatan Pengadilan Agama (PA) Kota Semarang hingga Juni 2025 sudah mencapai 1.442 perkara yang masuk. Adapun, perkara didominasi cerai gugat atau istri yang mengajukan sebanyak 1.121 kasus dan cerai talak atau suami yang mengajukan mencapai 321 kasus. 

Untuk data tahunan 2024, tercatat 1.801 kasus cerai gugat (per November 2024), dengan alasan utama seperti perselisihan terus-menerus, ekonomi (termasuk pinjol/judol), dan perselingkuhan. Faktor ekonomi dan perselisihan menjadi penyebab utama, namun masalah pinjaman online dan judi online juga mulai menjadi pemicu yang signifikan. 

2. Belajar mengelola "uang belanja" agar tidak cekcok

Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa mengajarkan yel-yel kreatif Tepuk Sakinah saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa mengajarkan yel-yel kreatif Tepuk Sakinah saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Salah satu materi yang paling disorot adalah manajemen keuangan keluarga. Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa, yang mengampu materi tersebut, menekankan pentingnya transparansi dan perencanaan finansial di antara pasangan.

Menurut Nisa, banyak percekcokan rumah tangga bermula dari ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta kurangnya komunikasi mengenai kondisi finansial riil.

"Alasan perceraian bisa saja karena faktor ekonomi, padahal sebenarnya karena tidak bisa mengelola keuangannya. Kita ajari mereka menghitung penghasilan bersama untuk kebutuhan pokok dulu, seperti sandang, pangan, dan papan. Baru bicara investasi atau target tahunan," jelas Nisa.

Materi yang diberikan diakui komprehensif. Selain keuangan, catin juga mendapatkan materi tentang kesehatan reproduksi dari Puskesmas, serta wawasan psikologi keluarga. Tujuannya agar pasangan memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan yang tidak diajarkan di bangku sekolah mana pun.

Melalui program Binwin yang terstruktur dan inovatif ini, KUA Mijen berharap dapat mencetak pasangan-pasangan yang tangguh. Dengan bekal ilmu yang mumpuni, lanjut Nisa, pernikahan diharapkan tidak hanya bertahan seumur jagung, tetapi menjadi ikatan suci yang long term dunia-akhirat.

3. Pelajaran berharga dalam berumah tangga

Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa memberikan materi manajemen keuangan keluarga saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)
Penyuluh Agama Islam KUA Mijen, Zahrotun Nisa memberikan materi manajemen keuangan keluarga saat kegitan Bimbingan Perkawinan (Binwin) untuk calon pengantin (catin) di KUA Mijen, Semarang. Rabu (14/1/2026). (IDN Times/Dhana Kencana)

Manfaat program itu dirasakan langsung oleh para peserta. Retno, salah satu calon pengantin, mengaku mendapatkan pencerahan baru, terutama soal mental dan manajemen konflik dalam berumah tangga.

"Ilmunya banyak banget, seperti cara kita meminimalisir KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan masalah-masalah rumah tangga lainnya. Ini sangat bermanfaat untuk mental dan pikiran saya ke depannya," ujar Retno.

Senada dengan Retno, Wisnu yang berencana menikah pada Maret 2026, merasa terbantu dengan materi tentang nafkah dan visi keluarga.

"Ternyata masalah nafkah itu jadi satu kesatuan, gak ada persentase kaku. Itu menarik dan bermanfaat banget biar bisa jadi keluarga sakinah," kata Wisnu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

Bekal Keuangan hingga Psikologis: Strategi Tekan Perceraian di Semarang

15 Jan 2026, 09:00 WIBNews