Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bertahan 24 Jam Tanpa Baterai: Jejak Penghematan Pesantren di Kudus
Sejumlah santri merawat tanaman di halaman Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

  • Pesantren Muhammadiyah Kudus memasang PLTS berkapasitas 8 kWp di atap asrama putra sejak awal 2025, menggantikan sebagian pasokan listrik PLN tanpa menggunakan baterai penyimpan daya.
  • Pemasangan PLTS menurunkan tagihan listrik bulanan sekitar 30–40 persen, menghemat satu juta rupiah yang kemudian dialihkan untuk kebutuhan santri seperti makanan, alat belajar, dan fasilitas asrama.
  • Selain efisiensi energi, pesantren menekankan perubahan perilaku hemat listrik bagi santri agar teknologi ramah lingkungan berjalan optimal dan menjadi contoh transisi energi berkeadilan bagi lembaga lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bertahan 24 Jam Tanpa Baterai Surya: Jejak Penghematan dari Atap Pesantren di Kudus

Kudus, IDN Times - Ahmad Ridwan Nofik Putra Darin, santri kelas dua belas asal Samarinda, Kalimantan Timur bermukim di sebuah gedung asrama putra tiga lantai. Ia berbagi ruang dengan sembilan temannya di satu kamar yang sama.

Ruangan Rido merupakan satu dari dua belas kamar yang disediakan oleh pihak pengelola Pesantren Muhammadiyah Kudus. Di ruangan kamar bersama itu, hanya tersedia sekitar lima titik colokan listrik.

Keterbatasan akses itu menuntut kehati-hatian ekstra mereka. Jika ada santri yang menyalakan setrika pakaian dan lalai mencabut stekernya, hawa panas seketika menyergap seisi kamar. Keteledoran kecil tersebut selalu memancing perasaan bersalah, meskipun beban lonjakan tagihan listriknya ditanggung secara penuh oleh pengelola.

Kelalaian semacam itu diakui menjadi musuh nyata bagi neraca keuangan pondok. Pimpinan Pesantren Muhammadiyah Kudus, Oemar Teguh S Laksana membenarkan, kebiasaan santri sering membuat beban listrik membengkak sia-sia.

"Sudah dipanasi tapi (santri) lupa (dipakai) nyetrika," keluhnya mencontohkan.

Santri Ahmad Ridwan Nofik Putra Darin saat ditemui di Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Cerita dari area asrama putra tersebut adalah cerminan ritme kehidupan lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 2001 atau 24 tahun silam. Berada di atas lahan seluas kurang lebih 7.000 meter persegi, kompleks yang berlokasi di Jalan KH Moh Arwani Singocandi, Kabupaten Kudus itu praktis tidak pernah mematikan denyut operasionalnya.

Aktivitas tanpa henti selama dua puluh empat jam penuh itu berdampak langsung pada besarnya tarikan energi listrik harian. Menariknya, tingginya konsumsi listrik di asrama dipastikan murni mengalir hanya untuk kebutuhan pendidikan, mengingat lembaga menerapkan aturan tegas berupa larangan membawa gawai atau telepon seluler bagi seluruh santri.

Tanpa adanya ratusan pengisi daya (charger) pribadi yang membebani sakelar, deru pompa air, lampu penerangan asrama, mesin pendingin ruangan (AC), hingga aktivitas di tiga unit laboratorium komputer dan masjid, menjadi urat nadi utama yang secara konstan masif menyedot daya listrik.

Ketergantungan penuh pada energi tersebut yang membuat asrama cukup rentan. Bagi Rido, hal itu menyimpan memori kepanikan tersendiri.

Bagaimana tidak, ia ingat betul kekacauan sebelum adanya panel surya, tepatnya saat aliran listrik dari luar tiba-tiba padam menjelang magrib. Mesin air mati total sehingga membuat belasan anak terpaksa mengantre panjang untuk sekadar berwudu. Di waktu lain, pemadaman mendadak membuat seisi laboratorium terdiam karena tugas di layar komputer mendadak hitam tidak tersimpan.

Berangkat dari tekanan beban biaya operasional dan kerentanan pasokan tersebut, langkah memasang instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap asrama kemudian menjadi sebuah ujian lapangan yang krusial. Ujian utamanya berujung pada satu pertanyaan: apakah PLTS, produk hibah teknologi hijau tersebut benar-benar sanggup menyelamatkan struktur keuangan pesantren, dan seberapa kuat inovasi itu mendisiplinkan karakter para santrinya?

Kebutuhan Tiada Henti dan Warisan Adaptasi

Santri bersantai di kamar asrama Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Untuk menjawab tantangan besar itu, Pesantren Muhammadiyah Kudus sejatinya memiliki modal historis. Oemar memandang, adopsi PLTS tersebut tidak sekadar sebagai solusi instan untuk menekan tagihan, melainkan kelanjutan dari tradisi panjang lembaganya.

Pesantren itu tercatat memiliki rekam jejak adaptasi lingkungan yang terbilang berani. Jauh pada tahun 2010, dengan jumlah santri mencapai 500 anak, pengelola sudah menginisiasi pengolahan kotoran manusia menjadi pasokan energi biogas demi menyokong kebutuhan dapur keluarga ustaz yang tinggal di dalam kompleks asrama.

Oleh sebab itu, saat peluang transisi ke energi surya terbuka melalui Majelis Lingkungan Hidup (LH) Muhammadiyah, pihak pengelola merespons cepat. Peluang tersebut bermula dari informasi jejaring persyarikatan.

"Waktu itu ada informasi jika dari ESDM (Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), itu ada informasi kalau ada program pemasangan panel surya," kenang Oemar.

Meski awalnya khusus menyasar lembaga pendidikan, tawaran itu ternyata juga terbuka untuk pesantren.

"Dan alhamdulillah dari informasi itu kita follow up, kita tindak lanjuti untuk bisa mendapatkan program panel surya (PLTS),” tambahnya saat bertemu IDN Times, Senin (6/4/2026).

Meskipun antusias, proses awalnya sempat diwarnai negosiasi batin. Pengelola sempat ragu dan khawatir rangka panel justru merusak atap beton, atau pondok akan kesulitan mencari teknisi jika alat canggih itu mendadak rusak.

Namun, keraguan itu akhirnya ditepis. Setelah proses pengajuan dan survei lokasi rampung pada pertengahan 2024, sistem kelistrikan PLTS resmi beroperasi optimal menyuplai asrama putra pada awal 2025.

Pimpinan Pesantren Muhammadiyah Kudus, Oemar Teguh S Laksana. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kini, jika naik ke atap beton lantai tiga asrama, pelat-pelat biru gelap berukuran raksasa membentang menyerap pendaran terik Matahari. Keberhasilan di gedung asrama putra itu membuat pihak pesantren juga menyiapkan diri menyusun pengajuan serupa untuk asrama putri yang menampung 204 santri lainnya.

Berstatus sebagai penerima hibah fasilitas dari pihak kementerian, manajemen pesantren memang tidak memegang catatan nominal pasti mengenai Harga Pengeluaran Modal (Capex) perakitan komponennya. Meski demikian, spesifikasi instrumen di atap asrama tersebut terbilang mumpuni karena bekapasitas mencapai 8 Kilo Watt peak (kWp).

Sistem yang dipasang berjenis on-grid tersambung dengan meteran manual PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan beroperasi penuh tanpa bantuan baterai penyimpan daya. Keputusan meniadakan komponen baterai diambil secara sadar untuk menghindari beban pemeliharaan yang berisiko menyulitkan teknisi lokal di kemudian hari.

Konsekuensinya, asupan daya masih bergantung pada cuaca. Saat awan mendung, suplai menurun drastis. Sebaliknya, saat terik matahari siang memancar maksimal, energi yang sanggup terserap menyentuh batas 7.000 Watt, yang otomatis menghentikan sementara tarikan daya dari tiang PLN.

Menekan Meteran Demi Kesejahteraan Santri

PLTS yang terpasang di atap gedung asrama Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Dampak pergeseran beban listrik tersebut langsung terekam nyata dalam buku catatan keuangan mereka. Bendahara pesantren, Usih Rumanah mengaku, sebelumnya wajib menyediakan alokasi uang sekitar Rp2.500.000 setiap bulannya khusus untuk melunasi tagihan operasional asrama putra. Pascapemasangan instalasi PLTS, ia mencatat tingkat efisiensi pemakaian mencapai 30–40 persen sehingga menurunkan beban tagihan bulanan ke kisaran Rp1.500.000 saja.

Sisa uang sebesar satu juta rupiah per bulan itu serta-merta mengubah orientasi manajemen. Kelonggaran dana segar itu langsung dialihkan untuk mendukung kelancaran operasional santri yang tinggal selama 24 jam penuh.

“Karena kan anggaran ini bisa kita manfaatkan untuk pengadaan atau kebutuhan yang lain,” kata Usih menjelaskan pergeseran prioritas lembaganya. Penghematan itu juga berubah wujud menjadi suplai perlengkapan harian, serta tambahan dukungan kebutuhan asupan makan dan minum bagi santri.

Di dapur asrama, nominal satu juta rupiah itu memiliki wujud dan rasa yang nyata. Suara denting sudip besi yang beradu dengan wajan kini lebih sering terdengar. Penghematan dari atap itu juga digunakan untuk membiayai puluhan spidol kelas baru dan perbaikan kipas angin, dan penambahan unit penyejuk udara (AC), sehingga memastikan Rido dan kawan-kawannya belajar tanpa bersimbah keringat.

Antara Mesin Atap dan Peringatan di Kamar

Papan nama Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kendati efisiensi energi di pondok terasa nyata secara hitungan kertas, Direktur 1000 Cahaya, Hening Parlan menyoroti satu hal. Baginya, transisi energi tidak boleh hanya bertumpu pada alat.

Menurutnya, pesantren pada hakikatnya merupakan ekosistem pendidikan yang berbasiskan nilai. Makanya, keberadaan piranti teknologi seperti PLTS ia akui berdampak pada penghematan biaya secara instan. Akan tetapi, pencapaian tersebut wajib diimbangi oleh transformasi perilaku penggunanya dalam jangka waktu yang panjang.

"Fokusnya teknologi atau perubahan perilaku? Jawaban kuatnya: dua-duanya, tapi harus dimulai dari perilaku," tegas Hening merefleksikan pengalamannya. 

Ia menambahkan, jika penghuni asrama membiarkan pemborosan terjadi di bawah, alat secanggih apa pun di atap dipastikan tidak akan bekerja optimal. Hening menyebutkan, menekan pemakaian energi merupakan taktik paling logis dan mendatangkan keuntungan ekonomi yang pasti.

“Yang paling penting adalah perubahan kebiasaan. Kalau ingin pesantren lebih ramah lingkungan, maka perilaku hemat energi dan peduli lingkungan harus jadi bagian dari keseharian,” papar Hening saat dihubungi, Jumat (10/4/2026). 

Ia menyebutkan, kelak nilai penghematan tersebut bisa dikonversi menjadi modal untuk berinvestasi pada sarana teknologi yang lebih mapan. 

Santri beraktivitas di Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kekhawatiran soal kebiasaan itu rupanya disadari oleh pengurus asrama. Untuk memutus rantai pemborosan, pengawasan harian diperketat. 

Deretan pengasuh seperti Kholilurahman dan Yusrin rutin berpatroli ke kamar-kamar, mengingatkan santri untuk menghemat pemakaian air dan memutus sakelar setrika sehabis dipakai.

“Mengubah kebiasaan ratusan remaja laki-laki yang kerap cuek meninggalkan alat elektronik menyala adalah ujian kesabaran tersendiri. Mengedukasi mereka agar mematikan colokan kadang harus dibarengi dengan omelan tegas berkali-kali setiap malam,” aku Yusrin

Lewat teguran konsisten itulah, pesan kedisiplinan perlahan meresap ke dalam benak santri, salah satunya Rido.

"Kalau saya sendiri alhamdulillah sudah bisa menjalankan," ucap Rido. Pemuda berusia 17 tahun itu melihat dampak yang jauh lebih besar di balik anjuran sederhana dari para pengasuh.

Menurutnya, langkah mematikan colokan penting. “Karena (hemat energi) itu bisa menjaga Bumi kita dan pesantren karena nanti energinya hemat terus, dan tidak boros”.

Ketika urusan perilaku santri perlahan mulai tertata, pemeliharaan dari sisi teknologi ternyata jauh lebih ringkas. 

Di sisi perawatannya, Ustaz Frans Angger di divisi Sarana Prasarana mengawasi kestabilan tegangan atap cukup lewat indikator aplikasi gawai. Tindakan fisiknya sebatas membersihkan panel dari kotoran debu dan menjadikan alat itu nyaris tanpa biaya pemeliharaan berkala.

Tantangan Berlapis Pesantren Skala Nasional

Bangunan masjid Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Bukti empiris di Kudus tersebut memperlihatkan potensi masif apabila direplikasi ke luar daerah. Manajer Nusa Tenggara Timur Net-Zero Emission (NTT NZE) 2050 Institute for Essential Services Reform (IESR),  Maghribul Falah, menggarisbawahi perlunya wawasan kolektif, terlepas dari apa pun latar belakang lembaganya.

“Selama ini kita sering melihat hubungan manusia dengan alam itu urusan masing-masing. Padahal, dampak terbesar justru datang dari aktivitas bersama. Karena itu, kesadaran ini perlu dibangun secara kolektif,” katanya saat diskusi daring bertemakan Pesantren Pelopor Transisi Energi Berkeadilan, Selasa (17/3/2026).

Menurut catatan Kementerian Agama, hingga Oktober 2025, Indonesia memiliki lebih dari 42.391 pesantren mandiri. Jika 10 persen saja bersedia mengadopsi teknologi kelistrikan bersih, dampaknya akan signifikan terhadap penurunan emisi karbon secara nasional.

Lebih dari itu, Hening meyakini ada efek ganda (multiplier effect) yang berharga. 

“Asrama-asrama tersebut akan menetaskan agen perubahan iklim. Saat lulus dan kembali ke masyarakat, para santri ini akan membawa wawasan pelestarian energi ke rumah dan komunitasnya masing-masing,” ungkapnya.

Hanya saja, mereplikasi standar dari Pesantren Muhammadiyah di Kudus mendatangkan jalan yang terjal. Hening membeberkan, empat batasan struktural utama di lapangan, Di antaranya tingginya biaya investasi awal (Capex) di mana banyak lembaga tidak memiliki akses pembiayaan hijau, terbatasnya literasi teknis pengelola mengenai kelistrikan surya, prioritas anggaran pondok yang harus mendahulukan perut santri, serta prosedur aturan ekspor-impor listrik yang rawan membingungkan.

Untuk menyiasati kebuntuan finansial tersebut, inisiatif pendataan terstruktur mulai digencarkan. Hening memaparkan, jaringannya sudah membina 440 pesantren, 5.000 sekolah, dan 15.000 masjid. Melalui wadah aplikasi digital cahayamu.id, ia sukses mengumpulkan bukti penurunan emisi karbon secara kolektif.

Hasil survei awal program 1000 Cahaya juga memaparkan temuan yang mendebarkan. Dari 86 bangunan kelas menengah yang disurvei, total biaya listrik tahunannya menembus angka sekitar Rp80 miliar. Bisa dibayangkan berapa miliar rupiah yang dapat diselamatkan untuk sektor pendidikan jika kesadaran efisiensi energi seperti yang terjadi di Kudus digerakkan secara serentak. 

Realitas operasional di Pesantren Muhammadiyah Kudus secara konkret membuktikan tajinya. Pengurangan beban kelistrikan sebesar satu juta rupiah terbukti mampu memutar haluan keuangan lembaga ke arah yang jauh lebih manusiawi. 

Ketika hamparan lempeng panel surya di atap bekerja menyerap terik matahari dan santri di kamar disiplin mencabut steker setrika dan berhemat energi, pesantren tersebut melangkah melampaui dari sekadar urusan tagihan meteran listrik. Mereka sedang menjaga napas operasional asrama, sembari mendidik ratusan pemuda untuk merawat masa depan Indonesia.

Editorial Team