Bertahan 24 Jam Tanpa Baterai Surya: Jejak Penghematan dari Atap Pesantren di Kudus
Kudus, IDN Times - Ahmad Ridwan Nofik Putra Darin, santri kelas dua belas asal Samarinda, Kalimantan Timur bermukim di sebuah gedung asrama putra tiga lantai. Ia berbagi ruang dengan sembilan temannya di satu kamar yang sama.
Ruangan Rido merupakan satu dari dua belas kamar yang disediakan oleh pihak pengelola Pesantren Muhammadiyah Kudus. Di ruangan kamar bersama itu, hanya tersedia sekitar lima titik colokan listrik.
Keterbatasan akses itu menuntut kehati-hatian ekstra mereka. Jika ada santri yang menyalakan setrika pakaian dan lalai mencabut stekernya, hawa panas seketika menyergap seisi kamar. Keteledoran kecil tersebut selalu memancing perasaan bersalah, meskipun beban lonjakan tagihan listriknya ditanggung secara penuh oleh pengelola.
Kelalaian semacam itu diakui menjadi musuh nyata bagi neraca keuangan pondok. Pimpinan Pesantren Muhammadiyah Kudus, Oemar Teguh S Laksana membenarkan, kebiasaan santri sering membuat beban listrik membengkak sia-sia.
"Sudah dipanasi tapi (santri) lupa (dipakai) nyetrika," keluhnya mencontohkan.
Table of Content
Cerita dari area asrama putra tersebut adalah cerminan ritme kehidupan lembaga pendidikan yang berdiri sejak tahun 2001 atau 24 tahun silam. Berada di atas lahan seluas kurang lebih 7.000 meter persegi, kompleks yang berlokasi di Jalan KH Moh Arwani Singocandi, Kabupaten Kudus itu praktis tidak pernah mematikan denyut operasionalnya.
Aktivitas tanpa henti selama dua puluh empat jam penuh itu berdampak langsung pada besarnya tarikan energi listrik harian. Menariknya, tingginya konsumsi listrik di asrama dipastikan murni mengalir hanya untuk kebutuhan pendidikan, mengingat lembaga menerapkan aturan tegas berupa larangan membawa gawai atau telepon seluler bagi seluruh santri.
Tanpa adanya ratusan pengisi daya (charger) pribadi yang membebani sakelar, deru pompa air, lampu penerangan asrama, mesin pendingin ruangan (AC), hingga aktivitas di tiga unit laboratorium komputer dan masjid, menjadi urat nadi utama yang secara konstan masif menyedot daya listrik.
Ketergantungan penuh pada energi tersebut yang membuat asrama cukup rentan. Bagi Rido, hal itu menyimpan memori kepanikan tersendiri.
Bagaimana tidak, ia ingat betul kekacauan sebelum adanya panel surya, tepatnya saat aliran listrik dari luar tiba-tiba padam menjelang magrib. Mesin air mati total sehingga membuat belasan anak terpaksa mengantre panjang untuk sekadar berwudu. Di waktu lain, pemadaman mendadak membuat seisi laboratorium terdiam karena tugas di layar komputer mendadak hitam tidak tersimpan.
Berangkat dari tekanan beban biaya operasional dan kerentanan pasokan tersebut, langkah memasang instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap asrama kemudian menjadi sebuah ujian lapangan yang krusial. Ujian utamanya berujung pada satu pertanyaan: apakah PLTS, produk hibah teknologi hijau tersebut benar-benar sanggup menyelamatkan struktur keuangan pesantren, dan seberapa kuat inovasi itu mendisiplinkan karakter para santrinya?
