Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Dieng, Ini 5 Desa Tertinggi di Jawa Tengah Rasa Pegunungan Swiss
Kawasan lereng Gunung Merbabu. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Padang kabut dan lanskap alpen ala Eropa tidak cuma milik Dieng; lereng gunung raksasa Jawa Tengah menyembunyikan banyak desa tertinggi dengan pemandangan lembah hijau yang dramatis.

  • Mulai dari Desa Butuh yang berjuluk Nepal van Java hingga Desa Pranten dengan uap kawah alaminya, kelima destinasi ini menawarkan udara sejuk dan ketenangan jauh dari bising perkotaan.

  • Karena medannya didominasi tanjakan ekstrem dan suhu malam hari yang bisa anjlok di bawah 12°C, persiapan rem kendaraan prima serta jaket penahan angin adalah syarat mutlak sebelum berkunjung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap kali jenuh dengan rutinitas kerja dan polusi udara perkotaan, destinasi pelarian yang langsung terlintas di kepala kita biasanya tidak jauh-jauh dari dataran tinggi Dieng atau kawasan Puncak. Padahal, kalau mau sedikit mengeksplorasi jalur alternatif, Jawa Tengah punya banyak "surga tersembunyi" di atas awan yang bakal bikin mata terbelalak.

Coba bayangkan: membuka jendela kamar di pagi hari, menghirup udara pegunungan yang sangat bersih, sambil disuguhi hamparan terasering hijau dan punggung gunung runcing ala Pegunungan Alpen di Swiss.

Kabar baiknya, kamu tidak perlu mengurus visa atau merogoh kocek puluhan juta untuk terbang ke Eropa demi merasakannya. Berdiri kokoh di lereng gunung-gunung berapi raksasa seperti Gunung Sumbing, Merbabu, hingga Slamet, ini dia lima desa tertinggi di Jawa Tengah dengan panorama visual eksotis yang wajib masuk ke dalam bucket-list road trip kamu!

1. Desa Butuh, Magelang (Nepal van Java di Lereng Sumbing)

Nepal van Java, Magelang (vecteezy.com/olandah)

Berada di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), Desa Butuh yang berlokasi di Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, sukses menyita perhatian para traveler dunia. Desa ini melegenda dengan julukan Nepal van Java berkat tata letak rumah-rumah warganya yang berwarna-warni dan tersusun rapi menumpuk di lereng Gunung Sumbing.

Lanskap visual yang ditawarkan benar-benar magis: perpaduan antara gigir pegunungan runcing ala Pegunungan Himalaya, gulungan kabut pagi yang lembut, serta undakan lahan pertanian terasering yang mengingatkan kita pada pedesaan Swiss.

Waktu berkunjung paling krusial di sini adalah pukul 06.00 hingga 09.00 WIB. Pada jam tersebut, langit sedang bersih-bersihnya, memberikanmu kesempatan emas melihat semburat matahari terbit yang menyinari gagahnya puncak Sumbing.

2. Desa Clekatakan, Pemalang (Hutan Pinus di Kaki Gunung Slamet)

Hutan pinus (commons.wikimedia/Adyagustian)

Jika kamu mencari ketenangan absolut yang jauh dari kerumunan turis, melipirlah ke Desa Clekatakan di Kabupaten Pemalang. Berada di rentang ketinggian 1.200 hingga 1.400 mdpl, desa ini bertengger persis di lereng utara Gunung Slamet—gunung berapi tertinggi di Jawa Tengah.

Sejauh mata memandang, kamu akan diselimuti oleh rimbunnya hutan pinus hijau, lembah-lembah curam, dan pemandangan langsung ke arah puncak Slamet yang terkesan misterius.

Hawa di desa ini dipenuhi oleh iklim sejuk dan segar sepanjang hari. Saking asri dan tenangnya, memasuki pertengahan siang saja kawasan Clekatakan biasanya sudah mulai dikarpeti oleh kabut tebal yang syahdu.

3. Desa Pranten, Batang (Lembah Hijau dan Kepulan Uap Kawah)

Ilustrasi Dataran Tinggi (Magnific.com/cookie_studio)

Bertengger di ketinggian lebih dari 1.700 mdpl, Desa Pranten di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, adalah tapal batas unik yang berbatasan langsung dengan dataran tinggi Banjarnegara. Udara dingin yang menusuk tulang membuat hamparan perkebunan sayur organik tumbuh subur menyelimuti bukit-bukitnya.

Elemen visual Swiss di desa ini terpancar kuat dari kelokan jalan pegunungan yang dramatis membelah lembah curam berkarpet rumput hijau.

Yang membuatnya makin eksotis, kamu bisa menyaksikan kepulan uap panas bumi alaminya yang membubung perlahan dari celah kawah di sekitar desa, menciptakan kontras pemandangan yang luar biasa indah saat berpadu dengan kabut pegunungan.

4. Desa Kopeng, Semarang (Retret Sejuk Sejak Era Kolonial)

ilustrasi Gunung Merbabu (unsplash.com/Yub 12)

Bergeser ke lereng Gunung Merbabu di ketinggian 1.450 mdpl, ada Desa Kopeng yang sudah menjadi lokasi peristirahatan favorit sejak zaman kolonial Belanda. Berbeda dengan desa lainnya yang berkonsep petualangan liar, Kopeng menawarkan wisata dataran tinggi yang jauh lebih tertata dan ramah keluarga.

Dari sini, mata kamu akan dimanjakan oleh panorama sudut lebar yang menampilkan Gunung Telomoyo dan Gunung Andong sekaligus, dihiasi barisan kebun bunga potong serta ladang sayur organik milik warga lokal.

Hembusan angin sejuk pegunungan di Kopeng kini makin hidup dengan hadirnya berbagai taman ekowisata (eco-tourism parks) yang modern, area berkemah mewah, hingga deretan kafe estetik untuk bersantai.

5. Kawasan Suroloyo / Desa Tlogoweru, Boyolali (Tepian Lembah Zamrud)

potret Gunung Merbabu, Indonesia (pixabay.com/u_laliumu4xx)

Berada di posisi sadel atau celah tinggi di antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi pada ketinggian 1.400 mdpl, kawasan Suroloyo dan Desa Tlogoweru di Boyolali menyajikan topografi vulkanik yang sangat dramatis.

Di spot pemantauan panoramanya, jika cuaca sedang cerah, kamu bisa menyaksikan hingga empat puncak gunung berbeda sekaligus yang mengelilingi perbukitan terasering berwarna hijau zamrud.

Sensasi visual Eropa makin terasa berkat adanya tebing-tebing curam yang langsung menukik tajam ke dasar lembah. Suasana malam harinya pun tak main-main; suhunya bisa turun drastis di bawah angka 15°C, mengharuskanmu merapatkan selimut tebal.

Tips Keamanan Backpacker: Persiapan Menembus Awan

Potret orang mengenakan pakaian hangat saat menyaksikan aurora borealis (unsplash.com/joshuaearle)

Sebelum memacu kendaraan menuju kelima desa di atas, ada dua aturan keselamatan mutlak yang pantang kamu sepelekan:

  • Cek Kondisi Kendaraan Secara Ketat: Medan jalan menuju desa-desa tertinggi ini didominasi oleh tanjakan ekstrem dengan kelokan tajam berbentuk jepit rambut (sharp switchbacks). Pastikan kampas rem, oli, dan mesin motor atau mobilmu dalam kondisi 100% prima untuk menghindari rem blong saat turunan.

  • Amankan Pakaian Hangat (Warm Gear): Memasuki puncak musim kemarau di bulan Juli hingga Agustus, suhu udara di ketinggian tersebut bisa anjlok hingga di bawah 12°C. Wajib bawa jaket penahan angin (windbreaker), penutup telinga, serta sarung tangan tebal agar tidak terkena hipotermia.

Menjelajahi desa-desa di atas awan Jawa Tengah memberikan kita perspektif baru bahwa kemewahan visual sekelas Eropa sebenarnya terhampar sangat dekat di halaman rumah kita sendiri. Kesejukan udara alpen dan keramahan warga lokalnya adalah kombinasi sempurna untuk me-reset kembali energi yang habis terkuras di ibu kota.

Yuk, segera amankan cutimu, siapkan jaket paling tebal di lemari, dan bagikan artikel ini ke grup chat tongkronganmu untuk menyusun rute road trip mendaki awan akhir pekan nanti!

Editorial Team

Related Article