Cara Ibu-ibu di Banyumas Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Ramadan

- Ekonomi kreatif ketahanan keluarga, Ibu-ibu Desa Tunjung mempraktikkan kemandirian pangan berbasis komunitas, menjawab kebutuhan dapur dan menjadi ekonomi kreatif skala mikro.
- Perempuan dan krisis ekologi: Perempuan di desa tersebut mengambil peran strategis dalam membangun kesadaran lingkungan dari dalam rumah, menekankan peran perempuan sebagai agen perubahan melalui aksi konkret.
- Bagian dari 10 program PKK yang sering terabaikan Njogo Lingkungan ini bagian dari sepuluh program pokok PKK, terutama pangan dan gotong royong untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Banyumas, IDN Times - Ketergantungan pada kekayaan alam sebagai penopang ekonomi perlahan mulai dipertanyakan. Di tengah ancaman perubahan iklim, krisis ekologi, dan ketidakpastian global, sekelompok ibu di Banyumas justru memilih bergerak dari ruang terdekat: pekarangan rumah.
Penggagas gerakan Njogo Lingkungan sekaligus Ketua RT di Desa Tunjung, Utoyo menjelaskan, gerakan ini bertepatan dengan momentum menyambut Ramadan 2026.
"Njogo Lingkungan adalah upaya kecil di tingkat perumahan untuk menjaga kelestarian alam sekitar sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga. Gerakan ini lahir saat melihat aktivitas ibu-ibu PKK RT 07 RW 01 Desa Tunjung, Kecamatan Jatilawang," ujar Utoyo kepada IDN Times, Minggu (8/2/2026).
Mayoritas anggota gerakan ini adalah perempuan yang selama ini berperan di sektor domestik. Namun kini, mereka mengambil posisi strategis sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pelestarian lingkungan melalui Kebun Demplot. Dari menanam cabai hingga mengelola kebun PKK, mereka mempraktikkan kemandirian pangan berbasis komunitas.
1. Ekonomi kreatif ketahanan keluarga

Bagi Utoyo, ekonomi bukan melulu soal eksploitasi sumber daya alam. Ide, inovasi, dan kreativitas warga—khususnya kaum perempuan—mulai dilihat sebagai fondasi baru. Inisiatif sederhana seperti kebun cabai bersama bukan hanya menjawab kebutuhan dapur, melainkan juga menjadi bentuk ekonomi kreatif skala mikro yang relevan dengan tantangan masa depan.
Dalam skala yang lebih luas, perjuangan ekonomi kreatif ini tak lepas dari dorongan agar kebijakan benar-benar berpihak pada pelaku akar rumput.
"Upaya kecil yang dilakukan ibu-ibu PKK di sini dinilai selaras dengan visi besar Indonesia Emas 2045, yakni saat kreativitas dan ketahanan komunitas menjadi mesin pertumbuhan nasional," ujar pensiunan ASN bidang pertanian di Banyumas tersebut.
2. Perempuan dan krisis ekologi

Ancaman krisis ekologi di Indonesia pada 2026 menjadi kegelisahan tersendiri. Perubahan iklim, banjir, dan kekeringan tak lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata, tetapi sudah menyentuh aspek kemanusiaan dan ketahanan keluarga. Dari kegelisahan itulah lahir gerakan Njogo Lingkungan di Jatilawang.
"Kami menggagas gerakan ini karena gelisah melihat dampak krisis ekologi yang makin nyata. Perempuan punya posisi strategis untuk membangun kesadaran lingkungan dari dalam rumah," tambah Utoyo.
Gerakan ini menekankan peran perempuan sebagai agen perubahan melalui aksi konkret: menanam sayuran di pekarangan, mengelola sampah rumah tangga, menghemat energi, hingga melakukan edukasi ekologis di tingkat RT.
3. Bagian dari 10 program PKK yang sering terabaikan

Sementara itu, Ketua PKK Desa Tunjung, Sutirah, menyebutkan Njogo Lingkungan merupakan bagian dari sepuluh program pokok PKK, terutama poin pangan dan gotong royong. "Tujuannya jelas, untuk ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat," tegasnya.
Meski dikemas dengan semangat baru, kegiatan pemanfaatan lahan ini sejatinya sudah lama dijalankan. Namun, kini program tersebut diperkuat dengan fokus pada pelestarian lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi krisis pangan.
"Dengan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan RT, para ibu berupaya menjaga keseimbangan alam sekaligus memperkuat kemandirian keluarga. Njogo Lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan ikhtiar jangka panjang: menanam hari ini untuk keberlanjutan esok hari," terangnya.
Kegiatan ini dimulai dengan senam bersama dan dilanjutkan dengan penanaman cabai oleh sekitar seratus orang. Cabai dipilih karena memiliki nilai ekonomis tinggi, mudah dirawat, dan sangat dibutuhkan terutama menjelang Ramadan saat harga bahan pokok kerap melonjak.


.jpg)















