Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Filosofi Dugderan Semarang 2026 yang Digelar Sambut Ramadan 1447 H

Kirab dan prosesi Dugderan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)
Kirab dan prosesi Dugderan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)
Intinya sih...
  • Rangkaian kirab dan ritual puncak Dugderan akan dilaksanakan pada 16 Februari 2026, sehari sebelum estimasi awal puasa Ramadan.
  • Filosofi Warak Ngendog merepresentasikan harmoni tiga etnis besar di Semarang: Tionghoa, Arab, dan Jawa.
  • Dinas Perhubungan Kota Semarang akan memberlakukan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi Pasar Rakyat dan antisipasi cuaca hujan intensitas sedang.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times – Pemerintah Kota Semarang kembali menggelar tradisi tahunan Dugderan sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Festival budaya yang memadukan unsur ritual keagamaan, pesta rakyat, dan kirab budaya itu berlangsung selama sepuluh hari, mulai 7--16 Februari 2026.

Rangkaian acara dipusatkan di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman) dan koridor Semarang Utara. Adapun, tradisi yang sudah berlangsung sejak tahun 1881 tersebut tetap mempertahankan esensinya sebagai simbol akulturasi budaya sekaligus penggerak ekonomi kerakyatan melalui Pasar Rakyat.

1. Rangkaian kirab dan ritual puncak

Tradisi Dugderan untuk menyambut bulan Ramadan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)
Tradisi Dugderan untuk menyambut bulan Ramadan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)

Puncak perayaan Dugderan akan dilaksanakan pada 16 Februari 2026, sehari sebelum estimasi awal puasa Ramadan. Agenda utamanya meliputi Kirab Budaya yang melibatkan arak-arakan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang (MAS) Kauman, dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Dalam prosesi itu, Wali Kota Semarang yang memerankan tokoh "Kanjeng Bupati" akan memimpin ritual pembacaan Suhuf Halaqah atau keputusan ulama mengenai penetapan awal Ramadan. Ritual dilanjutkan dengan pemukulan beduk dan pembunyian meriam—asal usul nama "Dug" (beduk) dan "Der" (meriam)—sebagai pengumuman resmi kepada warga.

Selain upacara formal, panitia juga ikut membagikan ribuan kue khas Semarang, Ganjel Rel, serta air khataman Al-Qur'an kepada masyarakat di Alun-alun Kauman. Roti bertekstur keras dengan taburan wijen tersebut memiliki filosofi "ganjalan" atau kemampuan menahan hawa nafsu, serta "rel" yang bermakna keikhlasan (relo) dalam menjalankan ibadah puasa.

2. Filosofi Warak Ngendog dan akulturasi budaya

Kirab dan prosesi Dugderan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)
Kirab dan prosesi Dugderan di Kota Semarang. (dok. Pemkot Semarang)

Daya tarik utama festival Digderan tetap tertuju pada kehadiran maskot Warak Ngendog. Hewan mitologi itu merepresentasikan harmoni tiga etnis besar di Semarang, yakni:

  • Kepala Naga: Simbol etnis Tionghoa (kekuatan dan keberuntungan).
  • Leher Unta: Simbol etnis Arab (kesabaran dan ketaatan).
  • Badan Kambing: Simbol etnis Jawa (keramahan dan kesederhanaan).

Keberadaan Warak Ngendog menegaskan pesan toleransi dan kesetaraan yang sudah terjalin di Semarang sejak era kolonial. Bentuk tubuhnya yang bersudut lurus (patah-patah) juga mengandung filosofi kejujuran, sifat yang diharapkan dimiliki umat Islam saat memasuki bulan suci.

3. Rekayasa lalu lintas dan antisipasi cuaca

Kemeriahan suasana perayaan Dugderan di Jalan Ki Narto Sabdo Semarang terlihat saat memasuki akhir pekan. (IDN Times/Fariz Fardianto)
Kemeriahan suasana perayaan Dugderan di Jalan Ki Narto Sabdo Semarang terlihat saat memasuki akhir pekan. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Guna mendukung kelancaran acara, Dinas Perhubungan Kota Semarang akan memberlakukan rekayasa lalu lintas di sekitar lokasi Pasar Rakyat. Jalan Ki Narto Sabdo akan ditutup total bagi kendaraan bermotor mulai 7 hingga 16 Februari 2026 untuk digunakan sebagai area stan UMKM dan wahana permainan.

Pengunjung diimbau untuk memarkir kendaraan di kantong parkir resmi, seperti Gedung Parkir Masjid Agung Kauman, basement Alun-alun Pasar Johar, atau basement SCJ Matahari.

Mengingat prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan hujan intensitas sedang di Semarang pada periode tersebut, masyarakat disarankan membawa perlengkapan hujan dan mengenakan pakaian yang nyaman saat mengunjungi lokasi festival.

Sebagai informasi, tradisi Dugderan pertama kali dicetuskan pada masa Bupati Semarang R.M. Tumenggung Ario Purboningrat (1881-1882). Awalnya, tradisi ini berfungsi sebagai media komunikasi pemerintah untuk menyatukan perbedaan pendapat masyarakat mengenai penentuan awal puasa, yang kini bertransformasi menjadi festival pesta rakyat terbesar di Jawa Tengah.

Berikut jadwal singkat Dugderan 2026:

  • 7-16 Februari: Pasar Rakyat (Kuliner, UMKM, Wahana Permainan) di Alun-alun Kauman.
  • 16 Februari: Kirab Budaya (Balai Kota - Masjid Agung Kauman - MAJT).
  • 16 Februari: Prosesi Pemukulan Beduk dan Pembagian Roti Ganjel Rel.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana
Follow Us

Latest News Jawa Tengah

See More

James Purba Lulus Ujian Doktoral di Unissula Usai Bahas Kelemahan PKPU

08 Feb 2026, 14:09 WIBNews