Komunitas Tjilatjap History Hidupkan Sejarah PETA Saat Ngabuburit

- Komunitas Tjilatjap History di Cilacap mengisi waktu ngabuburit dengan mengecat ulang Tugu Juang Kusaeri sebagai upaya menjaga dan mengenalkan sejarah perjuangan lokal kepada masyarakat.
- Tugu Juang Kusaeri menjadi simbol pemberontakan pasukan PETA di Gumilir tahun 1945, dipimpin Budanco Kusaeri yang berhasil merebut senjata dari gudang militer Jepang sebelum bersembunyi di Gunung Srandil.
- Daidanco Sudirman berperan menengahi pemberontakan dengan pendekatan damai, sementara Kusaeri dijatuhi hukuman mati oleh Jepang yang akhirnya tak terlaksana karena kekalahan Jepang pada Agustus 1945.
Cilacap, IDN Times – Bulan Ramadan identik dengan tradisi ngabuburit atau menghabiskan waktu menjelang berbuka puasa. Namun bagi para pegiat sejarah lokal di Cilacap, ngabuburit mereka merawat ingatan sejarah. Seperti sejumlah anggota komunitas Tjilatjap History berkumpul di Jalan Abiyasa, Kelurahan Gumilir, Kabupaten Cilacap.
Dengan membawa kuas, cat, dan perlengkapan sederhana, mereka mengecat kembali Tugu Juang Kusaeri sebuah monumen kecil yang menyimpan kisah perlawanan rakyat terhadap tentara Jepang pada masa pendudukan sebagai upaya komunitas untuk menjaga penanda sejarah lokal agar tidak hilang ditelan waktu. "Ngabuburit sejarah ini kami lakukan untuk merawat dan melestarikan penanda perjuangan yang ada di tanah Cilacap,” kata anggota komunitas Tjilatjap History, Sindu Pramono, kepada IDN Times, Senin (9/3/2026).
Menurut Sindu, tugu tersebut simbol dari keberanian para pejuang lokal yang melawan kekuasaan militer Jepang pada masa Perang Dunia II. Ia menilai, banyak masyarakat yang belum mengetahui kisah di balik tugu tersebut, padahal peristiwa yang melatarbelakanginya tercatat dalam sejarah perjuangan nasional. "Selain peristiwa Cilacap Lautan Api, jejak perlawanan PETA pada masa Jepang juga tercatat dalam buku sejarah nasional. Jadi sudah sepatutnya kita mengenang dan melestarikannya,"ujarnya.
1. Menghidupkan kembali sejarah Lokal

Bagi komunitas Tjilatjap History, kegiatan merawat tugu dan situs sejarah bukan sekadar kerja bakti biasa. Kegiatan tersebut merupakan bentuk edukasi sejarah bagi masyarakat, terutama generasi muda. Menurut mereka, banyak peristiwa penting dalam sejarah lokal yang belum banyak diketahui publik.
Padahal, menurut berbagai sumber seperti arsip sejarah PETA dan penelitian dalam buku Sejarah Nasional Indonesia serta kajian dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), pemberontakan pasukan PETA di berbagai daerah termasuk di Blitar dan sejumlah wilayah Jawa menjadi bagian penting dari tumbuhnya kesadaran nasional menjelang kemerdekaan.
“Kalau bukan kita yang menjaga sejarah ini, siapa lagi? Tugu tugu kecil seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya ada cerita perjuangan yang besar,":ujar Sindu.
Melalui kegiatan ngabuburit yang berbeda ini, para pegiat sejarah berharap masyarakat Cilacap semakin mengenal sejarah daerahnya sendiri dan menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia juga dibangun dari keberanian tokoh tokoh lokal yang namanya tak selalu tercatat besar dalam buku sejarah.
2. Jejak pemberontakan PETA di Gumilir

Tugu Juang Kusaeri berkaitan dengan peristiwa pemberontakan yang dilakukan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di wilayah Gumilir pada 21 April 1945. PETA sendiri merupakan organisasi militer bentukan Jepang pada 1943 yang awalnya ditujukan untuk membantu pertahanan Jepang dari serangan Sekutu. Namun di sejumlah daerah, pasukan PETA justru berbalik melawan tentara Jepang karena tidak tahan dengan kekejaman dan penindasan yang terjadi terhadap rakyat.
Dalam catatan sejarah, seorang perwira PETA berpangkat Budanco bernama Kusaeri memimpin sebuah kompi pasukan untuk merebut senjata dan amunisi dari gudang militer Jepang di wilayah Gumilir, Cilacap.
"Dibawah pimpinan Budanco Kusaeri, pasukan PETA berhasil merampas senjata dan amunisi dari gudang Jepang, setelah itu mereka melarikan diri menuju Gunung Srandil untuk dijadikan basis gerakan,"ata Sindu.
Gunung Srandil yang berada di pesisir selatan Cilacap memang dikenal sebagai kawasan strategis sekaligus tempat persembunyian bagi para pejuang pada masa itu. Perlawanan tersebut sempat memicu ketegangan serius antara pasukan Jepang dan prajurit PETA.
3. Peran Sudirman dalam perundingan

Dalam sejumlah catatan sejarah militer Indonesia, peran penting datang dari Daidanco PETA Kroya, Sudirman tokoh yang kelak dikenal sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia. Melalui pendekatan persuasif, Sudirman membujuk para pemberontak untuk menyerah dengan sejumlah syarat kepada pihak Jepang.
"Mereka meminta jaminan kepada Jepang bahwa prajurit PETA yang menyerah tidak akan disiksa, dan kampung-kampung yang menyembunyikan mereka tidak akan ditembaki,"ujar Sindu menjelaskan kembali kisah tersebut.
Meski sebagian prajurit akhirnya menyerah, nasib berbeda dialami oleh Kusaeri dan sejumlah tokoh utama pemberontakan. Dalam pengadilan militer Jepang yang digelar pada 10 Mei 1945, Kusaeri dinyatakan sebagai otak pemberontakan dan dijatuhi hukuman mati. Sementara sekitar 18 orang rekannya dijatuhi hukuman penjara yang bervariasi, mulai dari 15 tahun hingga penjara seumur hidup.
Namun sejarah mencatat bahwa hukuman mati terhadap Kusaeri tidak pernah dilaksanakan. Perkembangan perang di Asia Pasifik membuat Jepang akhirnya menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, hanya beberapa bulan setelah vonis dijatuhkan.
"Inilah yang menarik dari sejarah Kusaeri, Ia dijatuhi hukuman mati oleh Jepang, tetapi hukuman itu tidak pernah dilaksanakan karena Jepang keburu menyerah,"kata Sindu.


















