Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dakwah Deny dari Gawai Menggerakkan Budaya Hemat Energi di Bumi Kartini
Wakil ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Jepara, Deny Ana I'tikafia mematikan kipas angin di rumahnya. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • Deny Ana I’tikafia menggerakkan dakwah digital lewat WhatsApp untuk menanamkan budaya hemat energi dan peduli lingkungan di kalangan kader ‘Aisyiyah se-Jawa Tengah.
  • Program 1000 Cahaya Aksi Perempuan Jaga Bumi memperkuat peran perempuan dalam transisi energi berkelanjutan, meski Deny menghadapi apatisme masyarakat dan bias gender di ranah domestik.
  • Kisah Sri Rahayu dari Jepara membuktikan edukasi Deny berdampak nyata, berhasil memangkas tagihan listrik hingga 50 persen dan menumbuhkan kebiasaan hemat energi di rumah tangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jari-jemari Deny Ana I'tikafia rutin menari di atas layar ponselnya. Hampir setiap hari usai salat Tahajud, sembari menunggu Subuh tiba, ia menyempatkan diri membuat tulisan edukasi mengenai kepedulian terhadap lingkungan.

Melalui medium grup WhatsApp yang merangkul kader 'Aisyiyah di 35 kabupaten se-Jawa Tengah, perempuan berdarah Yogyakarta itu membagikan opini, cerita pendek, dan kutipan pengingat.

Sebagai motor penggerak lingkungan di pimpinan 'Aisyiyah, Deny sadar betul, untuk mengubah isi kepala manusia membutuhkan jalan panjang dan kesabaran. Ia pun merancang gerakannya secara bertahap. Sebelum merambah isu energi, Deny lebih dulu menginisiasi Gerakan Muhammadiyah Peduli Sampah (GMPS) dan program penanaman pohon dengan sistem "pola asuh" di Jepara.

“Tidak sekadar menanam, sistem pola asuh itu mewajibkan penanam (kader/masyarakat umum) merawat pohon dan sayuran hingga tumbuh subur. Ini memberi dampak lingkungan untuk mitigasi bencana, sekaligus manfaat ekonomi untuk kebutuhan masak sehari-hari,” kata perempuan berusia 57 tahun itu kepada IDN Times, Senin (6/4/2026).

Kini, fokus Deny melebar ke efisiensi energi. Salah satu gebrakan terbarunya digulirkan saat bulan puasa tiba—Maret 2026—melalui kampanye Green Ramadan.

Dalam kampanye tersebut, Deny rutin mengirimkan pesan siaran (broadcast) kepada para kader di grup WA. Narasi yang ia bangun jelas: Bumi yang rusak bukan semata-mata azab dari Tuhan, melainkan ulah manusia yang tidak mampu menahan rakusnya konsumsi, termasuk dalam pemakaian listrik sehari-hari.

Namun di lapangan, menggiring masyarakat untuk peduli pada hal remeh–seperti mencabut colokan penanak nasi atau mematikan kipas angin–sering kali berbenturan keras dengan apatisme.

Sikap cuek itulah yang membuat langkahnya kadang kala terasa berat di ranah digital. Sering kali, Deny mengetik pesan-pesannya mengenai seruan untuk hemat energi dengan perasaan bimbang.

"Duh, tulisan ini dibaca orang enggak, ya?" ungkapnya menceritakan keluh kesahnya kepada sang suami, Muhammad Tresno (60) terutama saat pesan panjangnya hanya berujung keheningan atau tidak mendapatkan respons di grup WA.

Menabrak Tembok Apatisme dan Ego Kelas

Alun-alun Kabupaten Jepara. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kerja-kerja literasi digital yang dilakukan Deny merupakan fondasi dari agenda strategis Aisyiyah melalui Program 1000 Cahaya Aksi Perempuan Jaga Bumi (Green Hero 1000 Cahaya). Inisiatif tersebut bertujuan untuk memperkuat peran perempuan dalam transisi energi dan penyelamatan lingkungan.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan mengatakan, program tersebut berfokus pada edukasi, penggunaan energi terbarukan, dan pengukuran jejak karbon untuk mewujudkan gaya hidup yang berkelanjutan, dengan sasaran adalah rumah tangga.

“Perempuan punya posisi strategis dalam penyelamatan lingkungan. Green Hero 1000 Cahaya ini untuk merebut ruang yang paling krusial dalam konsumsi energi, yakni rumah tangga, yang 30 persen keputusannya dikendalikan oleh perempuan,” ujarnya saat dihubungi IDN Times, Jumat (10/4/2026).

Hening menambahkan, kemunculan program itu menegaskan jika isu energi tidak semata wacana di tingkat nasional, tetapi harus menjadi praktik nyata yang bisa dimulai dari rumah tangga dan komunitas di tingkat bawah.

“Dari keluarga, sekolah, hingga amal usaha Muhammadiyah, gerakan hemat energi diharapkan bisa tumbuh menjadi budaya baru yang berdampak ekologis sekaligus ekonomis,” akunya yang kini menjabat sebgaai Wakil ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Jepara.

Di atas kertas, strategi tersebut menjanjikan dampak yang cepat. Akan tetapi di lapangan, Deny harus menghadapi realitas berlapis.

Latar belakang Deny sebagai abdi negara di Dinas Perikanan Kabupaten Jepara memberinya insting edukasi yang tajam. Ia paham bahwa jargon ilmiah soal energi tidak akan mempan untuk mengedukasi perempuan di tingkat kader maupun masyarakat awam.

Semula, ia mengira tantangan terumitnya hanyalah mencari cara menyederhanakan bahasa teknis tersebut. Namun, dugaannya meleset. Saat gerakan tersebut mulai bergulir, tantangan terberatnya justru bukan datang dari kepolosan perempuan di akar rumput, melainkan dari arogansi kaum intelektual yang kerap meremehkan isu tersebut.

"Meskipun dia itu doktor sampai profesor pun, kalau tidak se-ide dan peduli, mereka akan bilang, 'Apa sih yang dibicarakan kok sampah-sampah, lingkungan, hemat energi? Mbok ngomong yang lainnya kenapa,” kenang Deny dengan getir menirukan cibiran yang pernah ia terima. 

Deny melihat, isu efisiensi energi rupanya kini masih dipandang sebelah mata; dianggap sebagai urusan remeh, yang kurang menarik untuk didiskusikan oleh kaum terpelajar.

Di sisi lain, kesulitan serupa muncul saat ia berhadapan dengan kelompok ekonomi bawah pengguna listrik bersubsidi. Bagi mereka, mematikan satu lampu hanya memangkas tagihan sekitar lima ribu rupiah; selisih angka yang dirasa tidak sepadan dengan kerepotan mereka untuk menekan sakelar setiap saat.

Sikap cuek dari dua kutub masyarakat itulah yang akhirnya membawa dampak berantai ke ruang domestik. 

“Ketika suami atau anggota keluarga lain sekitar abai atau enggan berhemat, tanggung jawab untuk menekan biaya hidup mau tidak mau dilimpahkan sepenuhnya ke pundak para istri atau ibu rumah tangga,” keluh Deny menyoroti realitas pahit tersebut.

Tembok penolakan itulah yang secara tidak langsung membuat upaya penyadaran soal hemat energi rentan memicu beban mental baru bagi perempuan.

Kejutan dari Pesisir Pantai Semat

Ibu rumah tangga, Sri Rahayu (73) yang juga kader PDA Jepara. (IDN Times/Dhana Kencana)

Di tengah keraguan apakah tulisan di gawainya berdampak, Deny menemukan kejutan manis dari pesisir Pantai Semat, sekitar tujuh kilometer di selatan pusat Kota Jepara.

Di kawasan dekat kawasan Pantai Teluk Awur itu, terik matahari siang sering kali memanggang kulit, berpadu dengan uap garam yang menempel di udara. Namun, alih-alih berlindung di balik putaran kipas angin listrik yang menyedot daya, Sri Rahayu (73) atau akrab disapa Yayuk, memilih membuka lebar-lebar pintu rumahnya. 

Ia membiarkan angin laut yang berembus bebas membawa kesejukan alami tanpa biaya. Kader lansia Aisyiyah itu rupanya meresapi betul edukasi mengenai hemat energi yang diserukan Deny.

Hal itu mendasar, mengingat pendengaran Yayuk mulai menurun, sehingga ia jarang mengikuti rapat atau pertemuan tatap muka di tingkat Aisyiyah Kabupaten Jepara. Sebagai gantinya, ia menjadikan tulisan Deny di grup WA sebagai panduan utama untuk menerapkan gerakan hemat energi dari rumahnya sendiri, di Desa Ngabul RT 1 RW 7 Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara.

Yayuk, yang sudah mengenal Deny sejak 2011, perlahan mempraktikkan penghematan itu secara istikamah. Ibu empat anak dengan 12 cucu itu tidak segan menempelkan kertas bertuliskan peringatan hemat energi di setiap pintu rumahnya. Begitu fajar menyingsing, rutinitas penghematannya pun dimulai.

“Umpamanya dari masjid, pagi sehabis Subuh kan otomatis sudah terang, semua lampu dimatikan. Terus, wong di pinggir pantai kok ndadak pakai kipas angin, kalau pintunya dibuka kan angin bisa masuk semua,” tutur Yayuk menceritakan kesehariannya.

Meski terdengar sepele, praktik berhemat itu awalnya tidak berjalan mulus. Perempuan kelahiran Magelang itu harus menghadapi keluhan suaminya, Suryadi, yang merasa terganggu. Sang suami sempat protes karena merasa istrinya menjadi makin cerewet dan suka memerintah urusan sakelar.

Namun, gesekan itu tidak membuat Yayuk mundur. 

"Memang awal-awal perlu adaptasi, tapi sudah jalan tiga tahunan ini, sekarang malah sudah jadi kebiasaan,” tegasnya.

Keteguhan Yayuk membuahkan hasil di luar dugaan. Aktivitas hemat energinya selama tiga tahun terakhir berhasil memangkas pengeluaran listrik hingga 50 persen, dari Rp1.200.000 menjadi kisaran Rp600.000. Pembelian token pun berkurang dari lima kali menjadi maksimal tiga kali dalam sebulan.

Kabar mengenai keberhasilan dan daya kritis Yayuk itu sampai ke telinga Deny. Mengetahui tulisan sederhananya menjelma menjadi laku nyata, Deny seketika merinding.

"Saya saja kalah dengan mereka. Saya kadang malu sendiri," aku Deny dengan nada haru. "Saya kan mengajarinya hanya lewat tulisan, tidak pernah mendikte, 'Bu, di rumah harus begini, harus begitu’. Tapi mereka justru merasa tergerak dari postingan saya, sampai dampaknya bisa mereka rasakan sendiri.”

Siasat Meretas Kebiasaan

Wakil ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Jepara, Deny Ana I'tikafia. (IDN Times/Dhana Kencana)

Bagi Deny, cerita dari Pantai Semat itu menjadi bukti sahih bahwa edukasi soal hemat energi tidak bisa hanya mengandalkan instruksi kosong dan janji manis, tapi harus dibuktikan melalui keteladanan.

Deny menyadari, untuk merombak pola pikir (mindset) masyarakat bukanlah perkara instan. Ia menganalogikan proses pembiasaan itu bak belajar naik sepeda motor. 

“Awalnya pasti terasa kaku, sering keliru antara mengegas atau menekan rem. Tapi jika dilatih terus-menerus, kebiasaan baru itu akan berubah menjadi refleks otomatis yang mengakar menjadi budaya. Mengedukasi itu butuh waktu bertahun-tahun dan harus terus menerus. Insyaallah saya tidak akan capek untuk terus turun tangan,” tegas Deny.

Memegang kuat filosofi Children See, Children Do, Ia menolak untuk sekadar berteori. Deny memegang teguh prinsip bahwa lingkungan sekitar hanya akan meniru perbuatan nyata, bukan sekadar mendengarkan nasihat. Oleh karena itu, ia memulainya dari disiplin di kesehariannya.

“Saya ke kantor, begitu lihat lampu belum dimatikan, itu ikut saya matikan. Otomatis teman kantor, pegawai lain, dan masyarakat tahu. Awalnya mungkin mereka melihatnya dengan canggung, tapi perlahan beradaptasi dan ikut menjadikannya sebagai kebiasaan," tuturnya mencontohkan.

Praktik baik itu tidak dibiarkan berhenti pada dirinya. Deny meluaskannya secara struktural. Di setiap acara pleno, pengajian 'Aisyiyah, hingga kegiatan Muhammadiyah tingkat ranting, cabang, dan wilayah, ia rutin melobi pembawa acara (MC) untuk selalu menyerukan kampanye mematikan lampu yang tidak terpakai di lokasi kegiatan.

Lebih jauh, ia ikut memastikan bahwa gerakan yang diusung tidak menguap sebatas seruan di atas panggung. Deny menuntut bukti kerja nyata dari para kadernya di tingkat PDA Jepara maupun LLHPB PWA Jateng.

Ia mewajibkan setiap anggota yang turun mengedukasi masyarakat untuk memotret kegiatan mereka dan mengirimkannya ke laman resmi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) daerah. Langkah taktis itu menjadi kunci agar kerja-kerja perempuan dalam menyelamatkan bumi terdokumentasi dan diakui secara luas.

Mendistribusikan Beban, Memanen Keadilan

Dua buku yang terdapat tulisan Wakil ketua Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Jepara, Deny Ana I'tikafia. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kerja keras Deny dan para kader ditopang oleh sistem dari Program 1000 Cahaya. Berdasarkan laporan program, inisiatif itu sudah melaksanakan 25 aktivitas yang berdampak langsung pada 3.646 orang. Melalui sekolah Training of Trainers (ToT), terbentuk 27 Green Leaders perempuan—termasuk Deny—yang langsung menyebar dan merangkul 4.497 warga sasaran tidak langsung sehingga total jangkauannya menembus 8.143 orang.

Edukasi mereka diperkuat dengan perangkat literasi yang berlapis. Selain membagikan buku saku 10 Kebaikan Green Hero Perempuan untuk Bumi, program itu juga melahirkan karya buku Dakwah Ramah Lingkungan 'Aisyiyah dan Ekologi Berkemajuan untuk menyadarkan masyarakat bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah teologis. 

Akan tetapi, transisi menuju efisiensi energi di akar rumput itu menyimpan masalah jika tidak dibarengi perubahan sistem di dalam keluarga. Aktivis gender Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI), Amalia Wulansari menyoroti bagaimana perempuan sebenarnya yang paling menanggung beban ganda di rumah tangga, berkaitan dengan urusan energi.

“Memaksa ibu-ibu berhemat energi tanpa dukungan teknologi memadai hanya akan menguras fisik dan emosi mereka,” bebernya kepada IDN Times di Semarang, Rabu (8/4/2026).

Aktivis gender Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI), Amalia Wulansari. (IDN Times/Dhana Kencana)

Amalia memberikan contoh konkret tentang bias gender yang memperparah keadaan tersebut. Ia menyebutkan, di banyak keluarga, urusan membeli alat atau peralatan elektronik masih didominasi laki-laki. Dampaknya, perempuan sering kali tidak memiliki kuasa atau kepercayaan diri untuk memilih lampu hemat energi seharga Rp60 ribu yang bisa awet bertahun-tahun. 

Sebaliknya, mereka harus pasrah menerima bohlam murah rakus daya pilihan suami, yang pada akhirnya membengkakkan tagihan keuangan rumah tangga. Amalia menambahkan, perangkat energi yang efisien sejatinya akan memangkas waktu kerja domestik, sehingga perempuan mempunyai kesempatan emas untuk keluar rumah dan berkontribusi di ranah publik .

"Ketika energi boros, perempuan juga kan yang harus lebih banyak berpikir bagaimana memberikan yang terbaik, mengirit-ngirit untuk kehidupan dan kebutuhan harian selanjutnya,” urai Amalia.

Peringatan senada disampaikan, pakar efisiensi energi Mada Ayu Habsari. Menurutnya, jika semua tanggung jawab teknis transisi energi ditumpahkan ke pundak perempuan–sementara laki-laki, suami dan anak tetap apatis–para ibu akan rentan mengalami burnout atau kelelahan mental.

"Kerja-kerja (untuk hemat energi) ini tidak akan menjadi beban apabila dikerjakan bersama-sama," tegas Mada.

Ia menyebutkan, manfaat penghematan baru terasa adil jika sisa uang belanja listrik (token) tersebut memberikan kebebasan finansial. Mada menyarankan, agar dana yang berhasil dihemat bisa dialokasikan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan perempuan, sehingga memperkuat posisi tawar mereka di dalam keluarga. 

Di Bumi Kartini, Deny Ana I'tikafia terus berjuang memastikan keadilan semacam itu bisa diraih. Ia mengabaikan rasa lelahnya, tutup telinga dari cibiran kaum elite, dan melangkah dengan rasa syukur karena mendapat dukungan penuh dari sang suami yang juga aktif di Jaringan Saudagar Muhammadiyah.

Baginya, menekan tombol kirim (send) di aplikasi obrolan WA tidak semata berbagi pikiran atau tautan, tetapi sebuah sebuah manifestasi kerja dakwah lingkungan.

"Sedekah itu kan tidak harus berupa uang, tapi ilmu yang bermanfaat," pungkasnya ibu dari Alif Fikri Alim itu.

Melalui ujung jemarinya, Deny membuktikan, mengatasi krisis iklim tidak selalu berawal dari kebijakan yang mewah, tetapi bisa dimulai dan bersemi dari gerakan sederhana yang gigih dari laku seorang ibu di depan layar gawai.

Editorial Team