Jika pada tahun sebelumnya, gelaran IMF hanya bisa dinikmati bagi penonton yang datang langsung ke lokasi pertunjukkan, kini dengan adanya konsep virtual ini penonton lebih menjangkau di berbagai wilayah. Para penonton bisa dengan leluasa menonton pertujukan IMF tanpa harus datang ke lokasi.
Salah seorang penonton IMF asal Yogyakarta, Fitria Yusuf (30) mengaku senang bisa menikmati seni pertunjukan sembari duduk santai di rumah. Menurutnya menonton lewat media daring lebih mudah dan enak bila dibandingkan dengan melihat langsung. Meski begitu, ia mengaku ada atmosfer yang kurang saat melihat pertujukan secara virtual.
"Ini kan lihat seperti kita lihat video biasa gitu, kayak ada sesuatu yang kurang gitu. Kalau melihat langsung kita lebih menikmati dan fokus pada pertujukannya, selain itu atmosfer panggung juga lebih terasa, itu yang kita cari," ungkapnya.
International Mask Festival (IMF) merupakan acara tahunan berskala internasional yang mengusung konsep pertunjukkan seni topeng dan pameran kerajinan topeng. Di bawah naungan SIPA Community, IMF diadakan setiap tahunnya di Kota Solo, Jawa Tengah. Acara inipertama kali dicetuskan oleh Dra. Irawati Kusumorasri dengan nama IIMF (Indonesia International Mask Festival),yakni pada tahun 2014.Namun selama beberapa tahun belakangan, IIMF berganti nama menjadi IMF seperti yang dikenal oleh masyarakat Solo hingga saat ini.