Cerita bermula di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang seharusnya berangkat pukul 16:40 WIB terpaksa tertunda. Maskapai Singapore Airline memundurkan jadwal terbang Andres menjadi pukul 18:10 WIB, lalu menundanya lagi hingga pukul 21:10 WIB.
Meski penundaan sering kali membuat frustrasi, maskapai penerima penghargaan lima kali dari Skytrax itu mengambil jalan tersebut demi satu alasan pasti. Yakni soal keselamatan.
Hal itu berdasar mengingat dalam laporan tahunannya (FY2024/25), Singapore Airlines dengan tegas menjadikan "Keselamatan" sebagai prioritas utama mereka. Bahkan, mereka menyebut sering kali harus mengambil keputusan sulit untuk menunda penerbangan demi memastikan kondisi pesawat benar-benar aman sebelum lepas landas karena pantang mengambil risiko sekecil apa pun terkait urusan teknis.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan kepatuhan pada aturan pemerintah Indonesia, pihak maskapai Singapore Airlines memberikan kompensasi senilai Rp300 ribu kepada para penumpang, termasuk Andres. Langkah itu sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 Tahun 2015 mengenai kewajiban ganti rugi saat pesawat terlambat.
Namun, bagi Andres, penumpang yang harus mengejar penerbangan lanjutan (transit) dengan waktu mepet, uang ganti rugi jelas belum menyelesaikan masalah.
Potret Terminal 3 Bandara Internasional Changi Singapura (IDN Times/Fasrinisyah Suryaningtyas)
Persoalan sesungguhnya baru terasa ketika jadwal yang mundur itu rupanya memotong waktu transit Andres di Singapura menjadi cuma 20 menit. Secara logika, waktu sependek itu tidak cukup bagi penumpang untuk pindah dari Terminal 3 (T3) ke Terminal 2 (T2) di Bandara Changi. Apalagi, pesawat masih membutuhkan waktu untuk parkir dan menurunkan penumpang.
Sadar akan situasi yang mepet itu, Andres berdiskusi dengan manajer maskapai Singapore Airlines di Jakarta sebelum ia terbang.
"Logikanya saja, saat mendarat kan kita tidak langsung keluar. Pesawat harus parkir, penumpang harus turun, lalu saya harus pindah dari T3 ke T2 di Singapura. Tidak mungkin cukup kalau hanya 20 menit," protes Andres saat menyampaikan kekhawatirannya.
Seperti diketahui, sebagaimana aturan penerbangan internasional dari Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) maskapai wajib memastikan penumpang transit bisa melanjutkan penerbangannya.
Untuk menjawab keluhan Andres dan mematuhi aturan itu, pihak Singapore Airlines menawarkan fasilitas menginap di hotel, transportasi, dan makan gratis selama ia tertahan di Singapura. Andres melihat, solusi cepat itu menjadi bukti nyata bagaimana maskapai Singapore Airlines benar-benar menjalankan prinsip mereka untuk selalu mengutamakan kenyamanan pelanggan.