Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dua Kubu Keraton Solo Gelar Grebeg Maulud, Acara Dibagi Dua Kloter
Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey)
  • Dua kubu yang sama-sama mengatasnamakan PB XIV, Hangabehi dan Purboyo, menggelar kirab Grebeg Maulud terpisah di Keraton Solo pada 26 Agustus 2026.
  • Total empat pasang gunungan dibawa dalam dua kloter ke Masjid Agung Solo; warga cepat memperebutkan isinya, sementara satu gunungan estri dibawa kembali ke keraton.
  • Grebeg Maulud menjadi ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus pengingat untuk meneladani akhlaknya; dua kirab pada hari sama baru terjadi tahun ini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sekitar pukul 09.30 WIB

Kirab pertama membawa gunungan jaler dan estri dari Keraton Solo ke halaman Masjid Agung. Isi gunungan habis diperebutkan warga sebelum doa keselamatan selesai.

sekitar pukul 11.30 WIB

Kubu PB XIV Purboyo menggelar kirab kedua dengan sepasang gunungan menuju Masjid Agung. Gunungan jaler diperebutkan di masjid, sedangkan gunungan estri dibawa kembali dan diperebutkan di halaman Keraton Solo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dua kubu yang mengatasnamakan Paku Buwono XIV menggelar kirab Grebeg Maulud secara terpisah, masing-masing membawa gunungan jaler dan estri ke Masjid Agung Solo.
  • Who?
    Kubu PB XIV Hangabehi, kubu PB XIV Purboyo, abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, warga, GKR Koes Moertiyah Wandansari, dan KRT KH Muhammad Muhtarom terlibat dalam prosesi.
  • Where?
    Kirab berlangsung dari kawasan Keraton Solo, termasuk Kori Kamandungan, menuju halaman Masjid Agung Solo. Gunungan estri dari kubu PB XIV Purboyo kemudian dibawa ke halaman Keraton Solo.
  • When?
    Prosesi berlangsung pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kirab kubu PB XIV Hangabehi dimulai sekitar pukul 09.30 WIB, sedangkan kubu PB XIV Purboyo sekitar pukul 11.30 WIB.
  • Why?
    Grebeg Maulud digelar sebagai ungkapan syukur untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW serta pengingat bagi masyarakat, abdi dalem, dan keraton untuk meneladani akhlaknya.
  • How?
    Dua kloter abdi dalem mengirab total empat pasang gunungan. Setelah doa di Masjid Agung, warga mengambil isi gunungan jaler; gunungan estri kubu Purboyo diperebutkan di halaman keraton.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Keraton Solo, dua kelompok membuat acara Grebeg Maulud pada hari yang sama. Mereka membawa empat gunungan berisi sayur, makanan, dan telur ke Masjid Agung. Banyak warga berebut isinya sampai cepat habis. Acara ini untuk bersyukur atas kelahiran Nabi Muhammad. Tahun ini baru pertama kali acaranya dibagi dua.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Grebeg Maulud tahun ini memperlihatkan bahwa makna syukur dan penghormatan terhadap kelahiran Nabi Muhammad SAW tetap hadir dalam dua rangkaian kirab. Keterlibatan abdi dalem, termasuk penari wireng, serta antusiasme warga terhadap gunungan menunjukkan tradisi keraton tetap menjadi ruang perjumpaan budaya, doa keselamatan, dan pengingat untuk meneladani akhlak Nabi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

SOLO, IDN Times — Tradisi Grebeg Maulud 1960 BE/2026 di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berlangsung berbeda tahun ini. Dua kubu yang masing-masing mengatasnamakan Paku Buwono (PB) XIV, yakni PB XIV Hangabehi dan PB XIV Purboyo, menggelar kirab gunungan secara terpisah pada Rabu (26/8/2026).

Secara keseluruhan, terdapat empat pasang gunungan yang dibawa menuju Masjid Agung Solo. Masing-masing kubu mengirab satu pasang gunungan jaler dan estri yang menjadi bagian dari tradisi Grebeg Maulud.

1. Sama-sama kirab dua pasang gunungan, jaler dan estri.

Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey)

Kirab pertama berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB. Para abdi dalem membawa dua gunungan, yakni gunungan jaler dan gunungan estri, dari kawasan Keraton Solo menuju halaman Masjid Agung.

Gunungan jaler berisi beragam hasil bumi, seperti kacang panjang, terong, cabai merah, wortel, mentimun, tebu, hingga telur asin. Sementara gunungan estri dihiasi makanan siap santap berupa rengginang.

Sesampainya di halaman Masjid Agung, suasana langsung ramai. Warga yang telah menunggu berdesakan mendekati gunungan. Bahkan sebelum rangkaian doa keselamatan selesai, isi gunungan telah habis diperebutkan warga hanya dalam hitungan menit.

Penganggeng Sasana Wilopo kubu PB XIV Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari atau akrab Gusti Moeng, mengatakan ada dua pasang gunungan yang dikirab yakni dua gunungan jaler dan dua gunungan estri. Dan yang membedakan dari Grebeg ini yakni adanya abdi dalem wireng.

“Yang istimewa hari ini adalah abdi dalem wireng atau yang menarikan jadi penyutro. Penyutro itu bukan bagian dari prajurit tapi mereka ini abdi dalem penari-penari laki di keraton,” ujarnya kepada IDN Times, Rabu (26/8/2026).

2. Grebeg digelar dua kloter.

Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey)

Sementara itu, sekitar pukul 11.30 WIB, giliran kubu PB XIV Purboyo menggelar Grebeg Maulud. Rombongan abdi dalem berangkat dari Kori Kamandungan Keraton Solo dengan membawa sepasang gunungan menuju Masjid Agung.

Sesampainya di lokasi, doa kembali dipanjatkan sebagai bagian dari prosesi Grebeg. Namun, warga kembali dengan cepat mengerumuni gunungan jaler hingga seluruh isinya habis diambil.

Sementara itu, gunungan estri tidak langsung diperebutkan di halaman Masjid Agung. Para abdi dalem membawanya kembali ke area keraton. Gunungan tersebut kemudian diperebutkan masyarakat di halaman Keraton Solo.

3. Tradisi Syukur Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad

Grebeg Mulud Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey)

Penghulu Tafsir Anom Keraton Kasunanan Surakarta, Kanjeng Raden Tumenggung KH Muhammad Muhtarom, mengatakan Grebeg Maulud merupakan bentuk ungkapan syukur dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, tradisi tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendapatkan isi gunungan, tetapi juga menjadi pengingat untuk meneladani akhlak Nabi Muhammad.

“Semoga masyarakat keraton, abdi dalem, dan semuanya bisa meneladani Nabi Agung Muhammad SAW,” kata Muhtarom.

Ia menyebut pelaksanaan Grebeg Maulud oleh dua kubu keraton secara terpisah pada hari yang sama merupakan hal yang baru terjadi tahun ini.

“Iya, baru tahun ini ada dua kirab Grebeg Maulud. Pelaksanaan keraton, kita melayani. Nanti keraton ada acara, semua kita layani,” ujarnya.

Dengan adanya dua prosesi tersebut, Grebeg Maulud tahun ini menjadi salah satu pelaksanaan tradisi keraton yang berlangsung dalam dua rangkaian berbeda, namun tetap mengusung makna utama sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Curated For You

Editorial Team

Related Article