Gak Cuma Pasar Malam! 5 Rahasia Sejarah dan Filosofi Sekaten Keraton Surakarta

- Sekaten Keraton Surakarta merupakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berakar dari Syahadatain, tradisi dakwah Islam sejak Kesultanan Demak dan Mataram Islam.
- Sunan Kalijaga memanfaatkan karawitan untuk mengumpulkan masyarakat, lalu mengajarkan dua kalimat syahadat; dua gamelan pusaka melambangkan syahadat tauhid dan syahadat rasul.
- Telur asin, kinang, dan pecut memuat simbol keimanan, kesehatan, serta semangat; Grebeg Maulud membagikan gunungan sebagai sedekah raja dan lambang persatuan rakyat.
Gak Cuma Pasar Malam! 5 Rahasia Sejarah dan Filosofi Sekaten Keraton Surakarta, Jarang Orang Tahu
Surakarta, IDN Times — Mendengar kata "Sekaten", apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Sebagian besar generasi muda mungkin langsung membayangkan meriahnya pasar malam, wahana ombak banyu, bianglala, hingga deretan penjual endog amal (telur asin) di Alun-Alun Utara Keraton Surakarta.
Padahal, perayaan yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini bukanlah sekadar festival hiburan rakyat biasa. Ada sejarah dakwah yang sangat cerdas dan filosofi hidup tingkat tinggi peninggalan Wali Songo di baliknya.
Supaya kamu gak cuma ikut-ikutan meramaikan tanpa tahu maknanya, simak 5 fakta sejarah dan filosofi mendalam Sekaten Keraton Surakarta berikut ini!
1. Asal-Usul Nama "Sekaten" dari Kalimat Syahadat

ilustrasi gunungan masyarakat Jawa (pixabay.com/ Dedy_Timbul) Nama Sekaten ternyata tidak muncul begitu saja, melainkan memiliki akar sejarah dari masa Kesultanan Demak pada abad ke-15 yang kemudian diteruskan oleh Keraton Mataram Islam (termasuk Surakarta).
Kata "Sekaten" diyakini berasal dari kata Syahadatain, yang berarti dua kalimat syahadat (kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).
Karena pelafalan Syahadatain dirasa sulit bagi masyarakat Jawa zaman dahulu, pelafalannya berangsur-angsur berubah dan melebur menjadi "Sekaten" agar lebih mudah diucapkan.
2. Trik "Marketing Dakwah" Paling Jenius ala Sunan Kalijaga

Ilustrasi Orang Jawa (pixabay/Dedy_Timbul) Sejarah Sekaten adalah bukti betapa cerdasnya Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam tanpa menggunakan kekerasan, melainkan lewat pendekatan budaya.
Pada masa itu, masyarakat Jawa sangat menggemari kesenian karawitan. Sunan Kalijaga memanfaatkan gamelan untuk memancing perhatian warga agar berkumpul di halaman masjid.
Setelah ribuan warga berkumpul dan terkesima dengan alunan gamelan, mereka diberi tahu bahwa "tiket masuk" untuk melihat pertunjukan ini bukanlah uang, melainkan cukup menirukan ucapan dua kalimat syahadat.
3. Filosofi 2 Gamelan Pusaka: Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari

Pengrawit Gamelan Guntur Madu di Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta. (IDN Times/Larasati Rey) Daya tarik utama perayaan Sekaten di Keraton Surakarta hingga hari ini adalah dikeluarkannya gamelan pusaka yang hanya ditabuh setahun sekali selama tujuh hari berturut-turut.
Diletakkan di bangsal selatan Masjid Agung. Gamelan ini melambangkan syahadat tauhid (pengakuan kepada Allah).
Diletakkan di bangsal utara Masjid Agung. Gamelan ini merupakan simbol dari syahadat rasul (pengakuan kepada Nabi Muhammad). Suara tabuhannya yang mengalun syahdu memiliki filosofi panggilan agar manusia senantiasa mengingat Sang Pencipta.
4. Makna Tersembunyi Telur Asin, Kinang, dan Pecut

Ilustrasi kinang (Dok. Istimewa) Kalau kamu jalan-jalan ke area Sekaten, kamu pasti menemukan barang-barang khas yang selalu dijual berdampingan. Ternyata, ini bukan barang dagangan sembarangan!
Telur Asin (Endog Amal): Telur terdiri dari tiga bagian (kulit, putih, dan kuning). Ini melambangkan tiga tingkatan keimanan dalam Islam: Iman, Islam, dan Ihsan.
Kinang (Daun Sirih & Kapur Sirih): Mengunyah kinang saat mendengarkan gamelan Sekaten dipercaya bisa bikin awet muda. Secara filosofis, warna merah dari kinang melambangkan keberanian dan kesehatan raga.
Pecut (Cambuk): Cambuk yang sering dijual di area Sekaten melambangkan dorongan atau pecutan agar manusia tidak malas dan terus bersemangat dalam beribadah serta mencari rezeki.
5. Puncak Acara: Gunungan Sebagai Simbol 'Manunggaling Kawula Gusti'

Warga dan abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berebut gunungan dalam perayaan Grebeg Sekaten di Masjid Agung Solo, Jawa Tengah. (ANTARA Foto). Rangkaian Sekaten selama tujuh hari akan ditutup dengan acara puncak yang sangat epik, yaitu prosesi Grebeg Maulud.
Keraton akan mengeluarkan sepasang gunungan (Jaler dan Estri) berisi hasil bumi, sayuran, dan jajanan yang diarak dari Keraton menuju Masjid Agung.
Gunungan ini adalah bentuk sedekah dari raja (Hajad Dalem) kepada rakyatnya. Saat warga berebut isi gunungan (ngrayah), di situlah tercipta simbol kebersamaan dan persatuan yang erat antara pemimpin (Raja) dan rakyatnya (Manunggaling Kawula Gusti).
Ternyata, datang ke perayaan Sekaten bukan cuma soal jajan es teh dan naik bianglala, kan? Ada warisan kearifan lokal dan pesan spiritual yang sangat indah dari para leluhur kita.
Dari kelima filosofi di atas, mana nih yang baru pertama kali kamu ketahui hari ini? Yuk, share artikel ini supaya makin banyak anak muda yang bangga dengan tradisi Sekaten!


















