Semarang, IDN Times - Sebanyak 7.000 lebih pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) se-Jawa Tengah menelan kerugian hingga ratusan juta rupiah karena adanya rentetan pemadaman bergilir yang terjadi belakangan ini.
Kerugian paling banyak dirasakan para pedagang roti, industri mikro sektor makanan dan minuman (mamin) serta pemilik usaha katering.
Ketua Asosiasi Pengusaha Mikro, Kecil, Menengah Mandiri Indonesia (APMIKIMMDO) Jawa Tengah, Ariyanto mengatakan efek dari pemadaman bergilir telah dirasakan di semua sektor UMKM selama 1,5 bulan terakhir.
"Karena sistem produksi, packing hingga penjualan gunakan listrik, jadi imbasnya sudah kemana-mana, semua pelaku usaha kecil mikro dan menengah.Temann-teman UMKM banyak andalkan listrik. Dan kita ruginya sangat gede," kata Ariyanto kepada IDN Times, Jumat (26/7/2026).
Selama 1,5 bulan terakhir, pihaknya memperkirakan kerugian ribuan pelaku UMKM mencapai ratusan juta rupiah. Tiap hari dengan kejadian pemadaman bergilir, katanya rata-rata kerugian ditaksir Rp500 ribu-Rp1 juta.
"Bahan baku sering basi, sering dibuang buat makanan ternak. Kerugian dua tiga kali lipat dari kondisi normal. Pemerintah tujuannya menghemat malah merugikan masyarakat banyak," tegasnya.
Pihaknya menyebut pemadaman bergilir telah mengganggu sistem penjualan yang notabene menggunakan perangkat elektronik seperti komputer dan handphone.
Alhasil proses transaksi digital yang dilakukan para pelaku usaha menjadi kacau.
"Soalnya kita andalkan komputer, pemadaman bergilir yang dilakukan PLN membuat transaksi digital marketing kita agak kacau. Kita gak ada persiapan sama sekali. UMKM yang produksi roti rugi karena dampaknya sangat terasa," ujarnya.
Ia bilang setiap kejadian listrik padam, banyak pelaku UMKM kerepotan mencari tumpangan untuk men-charger handphone. Bahkan tak jarang ada pelaku usaha yang pontang-panting mencari colokan handphone sampai ke kawasan Simpang Lima.
Kondisi ini terutama dialami para ojol yang rutin melayani orderan makanan dan barang.
"Kita malah sering dikomplain pelanggan. Ibaratnya udah jatuh ketimpa tangga gitu," tuturnya.
APMIKIMMDO memiliki anggota 7.000 lebih UMKM. Hampir 70 persen bergerak di sektor mikro dan kecil. Sedangkan sisanya 25 persen sektor usaha menengah.
Di Kota Semarang sendiri terdapat 400 pelaku usaha UMKM.
"Yang kelihatan terdampak banget di bidang usaha makanan, katering, roti karena mereka pakai perangkat listrik buat racik bumbu dan bahan baku," paparnya.
